BincangSyariah.Com- Ketentuan puasa harus dijalankan oleh setiap muslim selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pada hakikatnya, setiap orang yang berusaha maksimal dalam beribadah memiliki kadar kelayakan dalam mendapatkan derajat “tuflihun”, sebagaimana dikatakan firman Allah QS. Al-Baqarah 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ,

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Akan tetapi, permasalahan mendasarnya tidak ada siapapun yang mampu mengetahui apakah ia telah sampai pada derajat itu. Dalam firman di atas, la’allakum tuflihun merupakan bentuk jumlah fi’liah (susunan kata kerja), terlebih terdapat kata “la’lla” yang diartikan semoga. Dengan demikian, keberhasilan seseorang dalam menjalankan puasa diukur dari proses yang dilakukan. Bukan kepada keberadaan dari statusnya.

Banyak di antara para ulama yang menjelaskan tentang Idul fitri. Secara umum ada yang melihat kepada makna substansinya di satu sisi. Ada juga yang memandang dari aspek makna literalnya dan asal kata “fitri”.

Untuk kategori yang pertama ada Ibnu Jarir al-Thabari. Dalam kitab tafsir al-Thabari, idul fitri bermakna kepada proses penyucian diri dalam bentuk kejernihan berfikir dan berperilaku dalam keseharian.

Dengan demikian penyucian diri adalah suatu upaya yang sangat ditentukan oleh akhlak, etika sosial dari seorang individu.
Artinya tiap seorang muslim memiliki peran besar dalam melakukan aktualisasi moral dan perannya di masyarakat.

Konsep penyucian diri selama puasa setidaknya berkaitan dengan self-controlling (menahan diri) dari etika yang tercela.

Konsep penyucian diri, di mana ia berfondasi pada self-controlling, senada dengan penyucian diri ala para sufi. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa seorang muslim mengimplementasikan ketaatan pada ranah masyarakat yang ia kembali kepada ketenangan diri. Artinya berbuat baik sesama muslim pada idul fitri tidak lain adalah bentuk dari penyucian diri.

Baca Juga :  Tata Cara Salat Ied

Pada dasarnya makna idul fitri merupakan akumulasi dari kebajikan selama bulan ramadlan. Jika seseorang berbuat baik sesama secara istiqamah ia akan memperoleh kesenangan diri. Hal ini sebagaimana dituliskan dalam firman Allah SWT “qad aflaha man tazakka”. Menurut al-Thantawi tentang penjelasan tafsir ayat ini bahwa penyucian diri akan menyebabkan seseorang merasa senang dan bisa membagikan kesenangan kepada orang lain.

Adapun makna idul fitri kedua yaitu dilihat dari pemaknaan literal. Kata “fitri” diartikan dengan makan. Idul fitri, dengan begitu dimaknai dengan “kembali makan”.

Kata fitri ditemukan juga dalam term “zakatul fitri”, zakat yang diberikan untuk memberikan makanan bagi mereka yang tidak mempunyai persediaan makan. Makna seperti sesuai dengan konteks pada hari pertana bulan Syawwal. Di mana setiap orang kembali menyantap makanan bersama-sama, entah bersama keluarga, sanak family atau bersama tetangga.

Dalam masyarakat Indonesia, ada kebiasaan untuk mengunjungi dan mengajak tetangganya untuk makan bersama, bahkan setelah makan ditambah dengan mengobrol tentang apa saja. Di samping adat ini memperkuat silaturrahim, ada makna kebersamaan dan kesenangan bersama yang dirasakan.

Tradisi ini sesuai dengan makna idul fitri dalam pengertian kedua. Jadi, bukan soal pakaian baru, perhiasan baru semata, ada makna ketakwaan dari wujud kebersamaan yang lahir di konteks Indonesia. Bisa disimpulkan moment idul fitri adalah sebuah makna untuk perwujudan ketakwaan individu dan kesalehan sosial secara bersamaan.

Di moment sebahagia idul fitri, kita bisa menciptakan kebersamaan dengan keluarga, sanak family, tetangga. sebagaimana kata sebuah pepatah:

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن كان تقواه تزيد.

‘Kemenangan idul fitri bukan untuk yang berbaju mewah tapi untuk yang keimanannya bertambah’. Wallahu a’lam***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here