Makna Hadis Qudsi Keutamaan Mencari Rizki

3
652

BincangSyariah.Com – Beberapa ceramah penting dari Syakh al-Sya’rawi memuat banyak pesan penting yang berharga. Salah satunya yang penulis sering dengar di kanal youtube adalah tausiah Syaikh al-Sya’rawi yang menerangkan tentang keutamaan berhusnuzhan kepada Allah Swt.

Di dalam video potongan yang berdurasi 2:41 itu, Syaikh al-Sya’rawi mengutip salah satu hadis Qudsi.

يا ابن آدم لا تخافن من ذي سلطان مادام سلطاني باقيا وسلطاني لا ينفد أبدا يا ابن آدم لا تخشى من ضيق الرزق وخزائني ملآنة وخزائني لا تنفذ أبداً، يا ابن آدم لا تطلب غيري وأنا لك فإن طلبتني وجدتني، وإن فتني فتك وفاتك الخير. يا ابن آدم خلقتك للعبادة فلا تلعب، وقسمت لك رزقك فلا تتعب، فإن رضيت بما قسمته لك أرحت قلبك وبدنك، وكنت عندي محموداً، وإن لم ترض بما قسمته لك فوعزتي وجلالي لأسلطن عليك الدنيا تركض فيها ركض الوحوش في البرية ثم لا يكون لك منها إلا ما قسمته لك، وكنت عندي مذموماً.إلى قوله : يا ابن آدم أنا لك محب فبحقي عليك كن لي محبا .

“wahai anak manusia, jangan kamu takut/ khawatir terhadap mereka yang memiliki kekuasaan, selama Kekuasaan-Ku abadi dan kekal. Wahai anak adam, jangan khawatir karena kesempitan rezeki, sedangkan perbendaharaan-Ku itu sangat cukup lagi terus bertambah. Dan perbendaharaan-Ku itu tidak akan pernah habis. Wahai anak adam, janganlah kamu mencari sesuatu selain diri-Ku, sedangkan Aku sudah jami bagimu. Jika kamu mencari-Ku, maka kamu akan menemukan-Ku, “wahai anak manusia, Aku ciptakan kamu untuk beribadah, maka jangan bermain-main. Dan telah Aku jamin kepadamu rezekimu maka jangan berleha-leha dan capek. Jika kamu ridha atas apa yang telah aku tetapkan untukmu, maka Aku akan buat tenang hati dan badanmu. Dan kamu di sisi-Ku termasuk orang yang terpuji.

Adapun jika kamu tidak ridha dan ikhlas atas ketetapanku kepadamu, maka kemuliaan dan kekuasaan-Ku akan menjadikan seluruh dunia menguasai dirimu, sebagaimana merangkaknya hewan di atas daratan, sedangkan hal itu bukan menjadi hakmu kecuali yang telah aku tetapkan. Dan kamu termasuk orang tercela. Wahai anak manusia, Aku adalah pecinta bagi dirimu, maka jadilah engkau juga pecinta bagi diri-Ku.

Dalam pemaparannya, Syaikh al-Sya’rawi tidak menyebutkan sumber hadis ini. Namun demikian, hadis qudsi ini berbicara tentang keutamaan mencari rizki dan keutamaan bersifat qanaah. Dari hadis ini juga, Syaikh al-Sya’rawi juga menegaskan bahwa seorang hamba seyogyanya dianjurkan terus untuk berusaha, dan tidak merasa lelah, dan capek dalam mencari rezeki.

Baca Juga :  Di Luar Salat, Membaca Alquran Pahalanya Sepuluh Setiap Huruf

Di dalam kitabnya tafsir al-SYa’rawi, ia menerangkan makna fa la tal’ab, (maka jangan bermain) dan fa la tat’ab (jangan bercapek-capek) artinya boleh saja fisik dan tubuh merasa lelah dan letih karena dianggap usaha sudah maksimal. Namun itu semua seyogyanya tidak membuat hati dan jiwa merasa lelah dan capek. Artinya sebagai seorang mukmin dan muslim maka hati harus merasa lapang dan ridha. Inilah kaitannya dengan makna kalimat sebelumnya bahwa esensinya perbendaharaan Tuhan akan terus merasa rezeki itu cukup dan akan terus bertambah.

Selain penjelasan di atas, hadis qudsi yang sarat dan dalam akan makna ini juga terdapat dalam beberapa kitab-kitab tafsir. Di antaranya Tafsir Ruh al-Bayan, bahwa ada beberapa klasifikasi seseorang dalam bab rizqi. Di antara mereka ada yang menjadikan rezeki itu dalam pencarian. Orang dalam kategori ini, maka berusaha sekaligus meningkatkan kemampuannya adalah jalan terbaik. Di sisi lain, menurut pengarang kitab itu, ada juga prang yang sangat qanaah atas semua yang diterimanya. Pada level ini, mereka dikenal dengan ahli haqiqat dengan tenang saat tidak ada yang bisa dikumpulkan. Ada juga orang yang dalam aspek rezekinya mementingkan aspek mujahada dan musyahadah. Wallahu A’lam bis Showab.  

3 KOMENTAR

  1. […] Syekh al-Sya‘rawi dalam kitab tafsirnya menguraikan bahwa orang yang kafir terhadap tanda-tanda kekuasaan Tuhan ini mengandung tiga bentuk kekufuran. Pertama, dia kafir atau ingkar terhadap tanda kauniah yang menunjukkan kekuasaan Allah. Kedua, dia kafir atau ingkar terhadap ayat-ayat hukum, Al-Qur’an, dan penyampaian dari utusan Allah. Ketiga, dia kafir terhadap mukjizat Allah sebagai penguat atas kerasulan para utusan-Nya. […]

  2. […] Syekh al-Sya‘rawi dalam kitab tafsirnya menguraikan bahwa orang yang kafir terhadap tanda-tanda kekuasaan Tuhan ini mengandung tiga bentuk kekufuran. Pertama, dia kafir atau ingkar terhadap tanda kauniah yang menunjukkan kekuasaan Allah. Kedua, dia kafir atau ingkar terhadap ayat-ayat hukum, Al-Qur’an, dan penyampaian dari utusan Allah. Ketiga, dia kafir terhadap mukjizat Allah sebagai penguat atas kerasulan para utusan-Nya. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here