Makna Berdoa dengan Memanggil Yaa Rabb

0
1101

BincangSyariah.Com – Manusia percaya, ada Tuhan yang mengatur segala kejadian di alam raya. Ada takdir yang menggerakkan kehidupan. Ada kekuatan lain yang menjaga keteraturan alam semesta. Ada Tuhan yang mengatur kehidupan manusia. Maka dari itu, penting bagi manusia untuk memahami hakikat Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan dalam agama Islam yakni Allah Swt. kerap disebut dalam berbagai nama lain baik yang tercantum dalam 99 Nama Allah Swt. atau Asmaul Husna dan lain sebagainya.

Kaum Muslimin kerap memanggil-Nya dengan sebutan Yaa Rabb dalam doa-doa dan harapan yang dipanjatkan. Sebenarnya, apa arti kata Rabb dan bagaimana makna konsep al-Rububiyah dalam Al-Qur’an? Dalam tulisan ini, penulis akan membahas tentang kata Rabb dan istilah al-Rububiyah dalam Al-Qur’an.

Dalam memaknai kata Rabb, Muhammad Ismail Ibrahim dalam buku Mu’jam al-Alfâzh wa al-A’lâm al-Qur’âniyyah menyebutkan bahwa kata ar-rabb bisa berarti Tuhan dan merupakan salah satu dari nama Allah Swt. yang jamaknya adalah arbab. Kata rabb yang tercantum dalam Al-Quran banyak menggambarkan sifat-sifat Tuhan yang bisa menyentuh makhluk-makhluk-Nya, Dia rabbun, memiliki arti Dia yang mendidik dan memelihara.

Pendidikan dan pemeliharaan yang dimaksudkan adalah menganugerahkan rezeki, mencurahkan rahmat, mengampuni dosa, tapi juga sekaligus menyiksa dalam rangka memelihara dan mendidik. Sebagai misal, firman Allah Swt. pada Surat Al-Mu’minun (23): 76 tentang orang-orang durhaka yang disiksa karena tidak tunduk kepada Allah Swt.,

 وَلَقَدْ أَخَذْنَٰهُم بِٱلْعَذَابِ فَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

Wa laqad akhażnāhum bil-‘ażābi fa mastakānụ lirabbihim wa mā yataḍarra’ụn

“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (Q.S. Al-Mu’minun (23): 76)

Abdul Muin Salim dalam buku Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera (1999) menjelaskan bahwa kata Rabbaniyun atau Rabbaniyyin bentuk jamak dari rabbaniy yang memiliki makna orang-orang yang menegakkan atau mengamalkan isi al-Kitab.

Arti lainnya yakni orang-orang yang memiliki komitmen dalam pemeliharaan apa yang menjadi tanggung jawabnya, orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang hukum agama, hikmah dan kebijaksanaan mengatur dan membina, serta berusaha mewujudkan kemaslahatan warganya, atau orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah Swt.

Hal ini bersesuaian dengan arti dasar kata rabb yaitu pemelihara atau penyelenggara kemaslahatan alam semesta untuk menunjukkan bahwa penyelenggaraan kemaslahatan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam semesta senantiasa berdasarkan hukum Allah Swt.

Quraish Shihab juga menyebutkan dalam Tafsir al-Misbah: Kesan, Pesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. I (2000) bahwa kata rabb mempunyai akar yang sama dengan kata tarbiyah yang memiliki arti mengarahkan suatu tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya.

Sarana pendidikan dan pemeliharaan Allah Swt. terhadap manusia telah disiapkan olehNya jauh sebelum manusia mewujud di bumi ini. Tidak ada satupun kebutuhan makhluk dalam rangka mencapai tujuan hidupnya yang tidak disediakan oleh Allah Swt. Sebab, Dia adalah Pendidik dan Pemelihara seluruh alam.

Rukun Islam yang pertama yakni syahadat sebagai pengakuan keimanan seorang Muslim bukan sekadar penegasan atas eksistensi Tuhan semata, tapi juga sebuah pengakuan bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati.

Penegasan dalam Rukun Islam inilah yang semestinya menuntut kaum Muslimin untuk mengintegrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah Swt. sebagai fokus dan prioritas utama. Allah Swt. adalah faktor pengendali kehidupan individu dan masyarakat.

Mengenal Allah Swt., melalui sifat dan nama-namanya seharusnya bisa membuat seseorang memiliki budi yang luhur, sebab keindahan sifat-sifatnya akan melahirkan optimisme dalam hidup sekaligus mendorong seseorang untuk berupaya meneladani sifat-sifat tersebut sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kata Rabb dalam Al-Qur’an memiliki tiga unsur makna yaitu Yang Menciptakan, Yang Memiliki, dan Yang Mengatur. Bisa disimpulkan bahwa arti kata Rabb adalah yang menciptakan, yang memiliki, dan yang mengatur alam semesta ini.

Pengakuan manusia terhadap keberadaan Tuhan seharusnya melahirkan kesadaran bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah Swt. Hal ini juga semestinya bisa menjadikan atau menghasilkan manusia-manusia rabbani, yaitu orang-orang yang memiliki komitmen dalam hidupnya.

Manusia rabbani akan memelihara apa yang menjadi tanggung jawabnya, memiliki pengetahuan mendalam tentang hukum agama, bijaksana saat mengatur dan membina, serta berusaha mewujudkan kemaslahatan warganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here