Ateisme Perspektif Barat: Bagaimana Menyikapinya?

0
18

BincangSyariah.Com – Ateisme marak diperbincangkan banyak orang. Saat ini, ateisme dan agnostisisme cenderung menjadi tren di kalangan anak muda. Tapi apa sebenarnya makna ateisme? Tulisan ini akan mencoba memaparkan tentang makna ateisme perspektif barat.

Ateisme memiliki arti yang sangat luas dan mempunyai beragam makna, bahkan bisa tergantung konteks. Ada dikotomi pengertian atau makna ateisme perspektif barat dan ateisme perspektif timur di mana keduanya mengartikan ateisme dalam cara yang sangat berbeda.

Ateisme perspektif barat meniadakan teisme. Dalam ateisme perspektif barat, ada penolakan terhadap teisme, ada hubungan ateisme dengan skeptitisme dan bagaimana para pemikir yang berkecimpung dalam agama Abrahamnik seperti Karen Armstrong menghadapi pemikiran tersebut.

Dalam ilmu perbandingan agama, agama Abrahamik atau biasa disebut agama Ibrahimiah atau agama samawi adalah agama-agama yang muncul dari suatu tradisi Semit kuno bersama dan yang ditelusuri oleh para pemeluknya.

Penolakan Terhadap Teisme

Sebelum memahami makna ateisme perspektif barat, kita perlu terlebih dahulu mendudukkan makna ateisme perspektif secara umum. Penulis mengambil pengertian dari William L. Rowe dalam Atheism di Routedge Encyclopedia of Philosophy Ateisme.

Dalam ensiklopedi tersebut, ateisme diartikan sebagai pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi. Ketidakpercayaan tersebut menandakan penolakan terhadap adanya teisme. Secara lebih luas, ateisme bisa diartikan sebagai ketiadaan kepercayaan terhadap dewa atau Tuhan dalam penciptaan alam semesta yang cenderung natural.

Secara istilah, ateisme berasal dari Bahasa Yunani yakni atheos. Istilah atheos biasanya digunakan untuk merujuk pada siapa pun yang mempunyai kepercayaan yang bertentangan dengan agama.

Jika merujuk pada Kamus Filsafat, ateisme diartika sebagai tidak adanya keyakinan akan Tuhan yang khusus dan menyangsikan akan eksistensi yang adikodrati yang diandaikan mempengaruhi alam semesta.

Sampai di sini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ateisme adalah sebuah pandangan yang tidak mempercayai akan kehadiran Tuhan dan alam semesta yang tercipta. Merujuk catatan sejarah, orang pertama yang mengaku sebagai “ateis” muncul pada abad ke-18. Ateismeme bisa dilacak akar keberadaannya pada zaman pencerahan atau reneissance di dataran Eropa.

Pandangan ateisme melahirkan skeptisisme. Skeptisisme adalah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti. Ada ketidakpercayaan sekaligus keraguan seseorang terhadap sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

Hal tersebut normal terjadi sebab masyarakat Barat cenderung lebih percaya hal yang rasional dan dibuktikan dengan fakta yang ada. Bagi mereka, realitas simbolik dan metafisik seperti wujud Allah Swt. dianggap semu sebagai hasil dari evolusi realitas materi.

Abdurrahman Badawi dalam Sejarah Ateis Islam (2003) mencatat bahwa prinsip yang dibawa kaum ateis adalah kecenderungan penggunaan akal atau rasionalisme sebagai penguasa serta penentu pertama dan terakhir di mana tidak ada yang berhak menolak serta menganulir keputusannya terhadap segala sesuatu.

Ada juga kecenderungan manusia yang mengarahkan pada perbaikan nilai-nilai kemanusiaan murni atau humanisme yang dinilai tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai ketuhanan. Posisi ateis menjadi ruang aman bagi para pemikir bebas atau pemikiran liberal.

Pendapat Karen Armstrong

Gugatan barat terhadap agama dipicu oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah kebingungan dalam merumuskan makna religion dan konsep ketuhanan. Karen Amstrong mengatakan bahwa Tuhan adalah abstrak dan penjelasan-penjelasan yang ada tentang eksistensi Tuhan membosankan bagi beberapa orang.

Hal tersebut menimbulkan doktrin yang meragukan akan eksistensi Tuhan. Selama ratusan tahun, orang-orang seakan hidup dalam penjara yang begitu gelap. Misalnya, ada Copernicus (1473-1543) dan Galileo (1564-1642) yang dihukum karena mempunyai pendapat tentang teori heliosentris di mana pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat Gereja pada masa itu.

Dalam buku History of GodKaren Armstrong menyatakan bahwa setelah mengalami fase panjang zaman kegelapan yang disebut sebagai The Dark Ages of Europe, peradaban Barat kemudian mengembangkan filsafat ilmu sekuler yang menolak keberadaan dan kehadiran Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan.

Dalam perkembangannya, keberadaan Tuhan kemudian dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu kebebasan manusia. Hal serupa juga dikemukakan oleh Charles Robert Darwin dalam buku The Origin of Species yang menyimpulkan Tuhan tidak berperan dalam penciptaan manusia.

Dalam buku tersebut, Tuhan tidak dijelaskan menciptakan makhluk hidup. Penciptaan makhluk hidup disebabkan lantaran kondisi-kondisi alam secara natural. Orang-orang barat lebih mengutamakan akal secara realitas, bukan hanya khayalan atau ilusi semata yang sama sekali tak bisa diukur secara empiris.

Ateisme perspektif barat lebih cenderung menekankan ketidakpercayaan terhadap Tuhan. Ateisme perspektif barat bahkan cenderung meniadakan kehadiran eksistensi Tuhan dalam berbagai hal seperti sains dan sifat naturalisasi alam.

Pemikiran tersebut memantik kritik sebab hanya bersandarkan pada akal saja. Gunanya adalah untuk menunjukkan sifat ateisme dengan membangun positivisme-empirisme. Orang-orang yang memiliki pemikiran tersebut tidak mau membuat konsekuensi atas realitas yang berada diluar jangkauan indera dan rasio.

Filsafat ilmu Barat yang sekular bertumpu pada akal semata dan menolak wahyu sebagai sumber ilmu seluruh penciptaan alam. Konsep berpikir tentang Tuhan oleh Barat berlandaskan konsep “ada” dan “tiada,” dalam hal ini memiliki konsekuensi “ada” artinya terlahir di dunia dan memiliki zat dan sifat yang nyata.

Pendukung ateisme di barat lebih mengedepankan akal dalam memandang sains melalui paham kebendaan. Richard C. Lewontin menyatakan bahwa paham kebendaan tersebut mutlak disebabkan karena ateis tidak bisa menerima kehadiran pribadi Ilahi.

Stephen Hawking, seorang fisikawan kaliber di dunia menyatakan bahwa dirinya ateis. Ia memaparkan penjelasan yang masuk akal tentang asal-usul alam semesta daripada agama.

Dalam A Brief of Time: From The Big Bang to Black Holes (1988), ia menuliskan bahwa untuk bisa mengenal sains, maka unsur Tuhan harus dipisahkan terlebih dahulu sejak awal sebab sains dan Tuhan tidak bisa bersama. Hal ini menandakan bahwa dalam pandangan Hawkins, sains adalah hal yang natural dan tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Selain itu, manusia dapat memahami pikiran Tuhan dengan cara melihat pembuktian simbolik realitas Tuhan yang berbentuk fisik. Oleh karena itu, Hawking berusaha memisahkan antara sains dan Tuhan dengan menjelaskan keyakinan bahwa alam semesta adalah hasil fenomena yang bisa dijelaskan secara sains, serta bukan oleh karena Tuhan.

Ada satu ungkapan dalam buku A Brief of Time di mana ia menulis sebagai berikut: we would know the mind of God, kita akan dapat mengetahui semua yang diketahui Tuhan, apabila Tuhan memang ada. Tapi nyatanya Tuhan tidak ada.

Terkiat pendapat tersebut, Karen Armstrong memiliki sudut pandang yang berbeda. Baginya, seorang saintis mesti memisahkan ilmu dengan agama dan tidak membawa-bawa Tuhan. Pendapat tersebut tertuang dalam bukunya yang berjudul Sejarah Tuhan.

Ateisme perspektif barat menjauhkan agama dalam usaha untuk mewujudkan manusia yang rasional dan mengajak berpikir untuk berevolusi dengan sains yang bisa diterima oleh akal dan bukan hanya sebagai khayalan belaka.

Menyikapi Ateisme

Lantaran tidak berlandaskan kepercayaan pada Tuhan melainkan hanya berlandaskan pada rasionalisme-empirisme, ateisme bisa dipandang sebagai keyakinan yang berbeda umat Islam. Landasan kepercayaan antara teisme dan ateisme sangat jauh, berbeda sama sekali, dan tidak bisa dipertemukan.

Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang lebih memilih menganut ateisme ketimbang teisme. Alasan-alasan yang melatarbelakangi berkaitan dengan latar belakang kehidupan dan pemikiran masing-masing. Keputusan tersebut adalah hak setiap individu yang tidak bisa dipaksakan oleh orang lain.

Sebagai alternatif meyikapi atau menghadapi para penganut ateisme, para penganut teisme yakni orang-orang yang percaya pada Tuhan dan menganut agama tertentu, termasuk Islam, ada baiknya membimbing para penganut ateisme untuk memercayai Tuhan. Tapi, kita juga bisa menghargai kepercayaan mereka dan tidak mempermasalahkannya serta tetap hidup berdampingan dengan rukun dan damai.[]

Baca: Fisikawan Marcelo Gleiser: Ateisme Tidak Konsisten dengan Metode Ilmiah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here