Hukum Makan di Restoran yang Menjual Babi

3
833

BincangSyariah.Com – Ada seorang teman yang bertanya kepada penulis mengenai hukum makan di tempat makan atau restoran yang juga menjual babi. Tentu hal ini juga banyak dialami oleh banyak orang. Sebenarnya, bagaimana hukum makan di restoran yang menjual babi?

Mengenai hukum makan di restoran yang menjual daging babi, maka hal ini perlu diperinci mengenai status hukumnya. Tentu dalam masalah ini yang dipermasalahkan bukan mengenai hukum makan daging babinya, namun mengenai makanan lain yang dikhawatirkan terkontaminasi daging babi tersebut. (Baca: Hukum Memegang Babi dalam Plastik, Apakah Najis?)

Jika makanan tersebut bisa dipastikan najis karena yakin bercampur dengan daging babi atau pada saat diolah bercampur dengan daging babi, maka hukumnya tidak boleh makan di restoran tersebut. Ini sudah jelas, karena makanan yang bercampur dengan daging babi dihukumi najis sehingga tidak boleh dimakan.

Namun jika makanan tersebut hanya dikhawatirkan terkontaminasi dengan daging babi, maka menurut pendapat yang kuat dari pendapat ulama adalah makanan tersebut tetap dihukumi suci dan halal dimakan.

Menurut para ulama, makanan yang awalnya suci dan halal namun ada dugaan najis karena dikhawatirkan terkontaminasi dengan daging babi, misalnya, maka makanan tersebut tetap dihukumi suci dan halal dimakan.

Bahkan Ibnu Shalah mengatakan, makanan tetap dihukumi suci hingga tampak nyata najisnya, bukan hanya dugaan kuat saja. Jika sudah terlihat jelas najisnya, maka dihukumi najis tidak boleh dimakan.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

قاعدة وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر. وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة أى أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا… في المغني سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير فقال لايحكم بنجاسته الا بتحقق النجاسة

Baca Juga :  Herayati dan Tiga Modal Pentingnya

Artinya:

(Kaidah) yaitu setiap makanan yang asalnya suci dan ada dugaan najis karena pada umumnya makanan seperti itu najis, di sini ada dua pendapat yang terkenal dengan mengikuti dua kaidah asal.

Namun yang jelas atau yang menang dari dua pendapat tersebut adalah makanan tadi dihukumi suci.

Misalnya seperti baju khimar, baju perempuan haid dan anak-anak, wadah orang-orang musyrik yang biasa menggunakan najis, seperti sekelompok orang majusi yang mandi kencing sapi sebagai bentuk ibadah.

Dalam kitab Al-Mughni disebutkan bahwa Ibnu Shalah pernah ditanya mengenai keju yang diisukan ada minyak babinya. Beliau menjawab; Ia tidak dihukumi najis kecuali sudah tampak nyata kenajisannya.

Dengan demikian, makan di restoran yang menjual babi hukumnya tidak boleh jika makanan lain sudah bisa dipastikan najis karena bercampur dengan daging babi. Namun jika hanya dikhawatirkan saja, maka menurut kebanyakan ulama, makanan tersebut tetap dihukumi suci, dan karena itu boleh dimakan.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here