Urutan Mahram dalam Alquran

0
20

BincangSyariah.Com – Tahukah Anda apa itu mahram? Siapa sajakah mahram Anda? Lantas siapa saja mahram kita dalam Alquran?

Dalam hukum Islam, pembahasan tentang mahram merupakan pembicaraan penting. Pasalnya, mahar erat kaitannya dengan aktivitas muslim sepanjang hari. Mahram ada kaitannya dengan nikah. Mahram ada hubungannya dengan perjalan haji. Mahram juga erat kaitannya dengan khalwat (berduaan). Pun, mahram erat kaitannya dengan wudu.

Dalam fiqih, pengertian mahram adalah wanita yang diharamkan untuk dinikahi dalam persoalan nikah. Tidak membatalkan wuduk dalam masalah bersuci.

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, karya ulama Imam Taqiyudin Abubakar Bin Muhammad Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’I, mengatakan ada 14 mahram dalam Alquran.  Kemudian ImamTaqiyuddin membagi empat macam; yakni karena nasab, sesusuan, pernikahan, dan perkumpulan (al-jamu’).

Pertama, mahram nasab (keturunan).

Mahram Nasab adalah hubungan antara seorang perempuan dengan laki-laki masih satu nasab atau hubungan keluarga. Mahram  nasab itu ada 7 orang;

  1. Ibu kandung sampai ke atas.

Maksudnya ; hukum mahram  yang berlaku seorang ibu, secara otomatis  juga seterusnya berlaku kepada ibunya ibu atau nenek, dan ibunya nenek ke atas. Mereka semua dihikumi dalam Islam ikut dalam hukum ibu. Mereka juga haram untuk dinikahi.

  1. Anak perempuan kandung sampai ke atas

Dalam Islam, seorang laki-laki yang  mempunyai anak kandung perempuan, maka itu adalah mahramnya. Pun cucunya–dan seterusnya ke bawah, hukumnya mengikuti terus sampai kepada keturunannya.

  1. Saudari Kandung

Seorang laki-laki diharamkan menikah dengan saudari wanitanya.

  1. Saudari perempuan ayah

Saudari ayah jamak disebut bibi.  Atau dalam bahasa seharian kita sering disebut dengan tante.

  1. Saudari perempuan ibu

Dalam bahasa Indonesia, saudari ibu kita populer dengan panggilan tante dan bibi. Dalam bahasa Arab di sebut kholat.

  1. Keponakan (anak perempuan dari saudara laki-laki)

Anak wanita yang lahir dari saudara laki-laki, juga termasuk dalam mahram dan haram untuk dinikahi.

  1. Keponakan (anak perempuan saudari laki-laki)

Anak perempuan dari saudari perempuan kita adalah wanita yang haram untuk dinikahi.

Mahram nasab ini tercantum dalam Alquran Q.S an-Nisa ayat 23:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ

Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan.

Kedua, mahram mushaharah.

Sebab terjadinya mahram kedua adalah karena adanya pernikahan.

  1. Mertua wanita ( Ibu dari istri)

Dalam hukum Islam, seorang pria haram menikahi ibu dari istrinya atau mertua perempuannya selama-lamanya.

  1. Anak tiri (Anak wanita dari istri)

Seorang pria seorang janda, yang beranak perawan, maka haram selamanya baginya. Tetapi dalam hukum ini ada pengecualian. Misalnya terjadi pernikahan seorang lelaki dengan  seorang janda, kemudian terjadi perceraian, padahal belum terjadi hubungan suami-istri, maka anak perawan  (anak tiri) tadi boleh hukumnya dinikahi.

  1. Istri dari anak laki-laki (menantu)

Laki-laki haram hukumnya untuk menantunya sendiri.

  1. Ibu tiri (Istri dari ayah)

Ibu tiri haram hukumnya  dinikahi oleh puteranya. Pun haram hukumnya menikahi janda-janda dari ayahnya sendiri. Sebagaimana ibu kandung dalam mahram, kedudukan ibu tiri juga haram hukumnya untuk dinikahi.

Mahram sebab pernikahan ini selaras dengan firman Allah dalam Alquran Q.S an-Nisa:

وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ .

Artinya: ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)

Ketiga, mahram sebab sesusuan.

  1. Ibu susu (Wanita yang Menyusui)

Seorang perempuan secara langsung menyusui bayi orang lain, maka ia menjadi mahram karena menjadi ibu susu bagi si bayi tersebut.

  1. Anak Wanita Dari Wanita Yang Menyusui (Saudari sesusuan)

Bila ibu susu kita itu memiliki anak perempuan, maka anak perempuan itu menjadi saudari sesusuan dengan bayi itu. Ini juga termasuk mahram.

Ini sesuai dengan firman Allah dalam Alquran;

أُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ

Artinya: ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.

Dalam kifayatul akhyar disebutkan oleh Imam Taqiyuddin, terdapat tambahan;

يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب

Artinya: Diharamkan dari wanita sesusuan, apa diharamkan juga dari mahram nasab.

  1. Ibu Dari Wanita Yang Menyusui (Nenek susuan)

Walaupun tidak menyusui langsung bayi  tersebut, tetapi orangtua atau ibu dari wanita yang menyusui juga berstatus mahram kepada bayi itu

  1. Ibu Dari Wanita yang menyusui (Nenek susuan)

Dalam hukum, meski pun  ibu dari wanita yang menyusui itu tak pernah menyusui si bayi itu, tetapi ibu dari wanita yang menyusui kita statusnya adalah mahram  bagi bayi itu.

  1. Ibu Dari Suami Wanita Yang Menyusui

Ibunya suami serta saudarinya adalah mahram juga bagi bayi yang menyusui tersebut.

  1. Saudari Dari Suami Wanita Yang Menyusui

Pun, saudari wanita dari suami yang istrinya menyusui bayi itu, termasuk mahram atas si bayi tadi.

  1. Bayi Wanita Yang Menyusu Pada Wanita Yang Sama (anak dari saudari sesusuan)

Maksudnya; Bila ada dua bayi disusui oleh satu orang wanita yang sama, maka kedua bayi itu menjadi saudara sesusuan.

Keempat, mahram karena perkumpulan (jam’i).

  1. Saudara perempuanya istriSaudari istri kita (ipar) tak boleh dinikahi. Sebab dua orang yang bersaudara hukumnya haram dinikahi.
  2. Istri dan bibinya (ammah)

Seorang istri pun tak bisa dinikahi secara bersamaan dengan bibinya (saudari ayah).

  1. Istri digabung dengan bibi (kholat)

Istri pun tak bisa digabung dengan bibi (saudari ibu)

Demikianlah beberapa orang mahram yang termaktub dalam Alquran.

(Baca: Hikmah Haram Menikahi Mahram Senasab)

 

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here