Macam-Macam Maslahah dalam Maslahah Mursalah

0
12

BincangSyariah.Com – Sebagaimana kita ketahui, bahwa maslahah mursalah dijadikan sebagai salah satu metode ijtihad oleh beberapa ulama meskipun ulama yang lainnya menolak. Bagi ulama yang menggunakan maslahah mursalah sebagai metode ijtihad, ternyata tidak yang dianggap sebagai maslahah itu dianggap sebagai maslahah dalam kajian ijtihad para ulama.

Hal tersebut dipahami karena secara prinsipil, maslahah bagi satu orang, belum tentu dianggap sebagai maslahah bagi orang lain. Bisa jadi hal itu malah dianggap sebagai mafsadah (keburukan). Bahkan dalam Al-Quran jelas disebutkan bahwa ada hal-hal yang oleh manusia dianggap sebagai kerusakan/mafsadah, malah oleh Allah dijadikan sebagai maslahah. Problemnya adalah Allah Maha Mengetahui, sementara manusia tidak,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Wa ‘asā an takrahụ syai`aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbụ syai`aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Maka dengan demikian, sesudah para ulama melakukan penelitian terhadap corak-corak hukum Allah yang telah tertuang dalam Alquran dan dijelaskan lewat hadits Nabi Muhammad SAW, mereka membuat klasifikasi terhadap persoalan maslahah untuk mempermudah proses penggunaan metode maslahah mursalah dalam berijtihad.

Sebagaimana dijelaskan oleh Musa Ibrahim al-Ibrahimy dalam Al-Madkhal Ushul Fikih (h. 76), klasifikasi maslahah tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Dipandang dari sisi penilaian syariat, maslahah terbagi menjadi 3:

  1. Maslahah Mu’tabarah (maslahah yang dipertimbangkan); yakni maslahah yang diperjuangkan oleh syariat, dimana syariat memberlakukan sebuah hukum dengan menjadikan maslahah ini sebagai ‘illat (alasan). Contohnya adalah hifdzul ‘irdl (menjaga nama baik) dijadikan sebagai maslahah dalam pelarangan tuduhan zina
  2. Maslahah Mulghoh (maslahah yang tidak dipertimbangkan/sia-sia); yakni maslahah yang oleh seseorang bisa jadi dianggap sebagai maslahah, namun syariat tidak menganggapnya demikian, bahkan terdapat dalil yang jelas menolak maslahah tersebut. Contohnya ialah maslahah yang didapat ketika seseorang minum minuman keras. Bagi peminum, bisa jadi mereka berkilah bahwa mereka mendapatkan maslahah berupa rasa enak dan tenang ketika meminum minuman keras. Namun syariat dengan tegas menolak maslahah semacam ini.
  3. Maslahah Mursalah adalah maslahah yang tidak dijadikan sebagai pertimbangan oleh syariat ketika memutuskan hukum atas sesuatu, sekaligus tidak menolaknya. Contohnya adalah maslahah yang didapatkan oleh seorang warga negara ketika ia mencatatkan pernikahannya di KUA.
Baca Juga :  Mungkinkah Hukuman Zina Diterapkan di Indonesia?

Selanjutnya, dipandang dari sisi kualitasnya, Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, dalam I’lam al-Muwaqqa’in (j. 5 h. 5) membagi maslahah dalam tiga macam, yakni:

  1. al-Mashlahah ad-Dharuriyyah, yaitu kemaslahatan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan ini dikenal dengan pemeliharaan al-Mashalih al-Khams (agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta).
  2. al-Mashlahah al-Hajiyyah, yaitu kemaslahatan yang dibutuhkan dalam menyempurnakan kemaslahatan pokokatau mendasar yang antara lain berbentuk suatu keringanan dalam rangka mempertahankan dan memelihara kebutuhan pokok manusia.
  3. al-Mashlahah at-Tahsiniyyah, yaitu kemaslahatan yang sifatnya pelengkap berupa keleluasaan yang dapat melengkapi kemaslahatan sebelumnya.

Terakhir, dipandang dari sisi ketercakupannya, maslahah terbagi menjadi 3, yakni:

  1. Maslahah umum, yaitu kemaslahatan umum yang mesti diwujudkan secara bersama oleh umat manusia, seperti menciptakan kondisi sosial politik dan ekonomi yang kondusif bagi kegiatan keagamaan warga negara. Atau seperti protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi penyebaran virus COVID 19.
  2. Maslahah komunal, yang berkaitan dengan komunitas tertentu seperti misalkan kewajiban menjaga diri bagi para penumpang pesawat dari hal-hal yang telah ditetapkan seperti tidak bercanda dengan kata-kata “boom” dan lain sebagainya demi kemaslahatan berupa rasa aman untuk semua komunitas penerbangan.
  3. Maslahah individual, yang berkaitan dengan per individu manusia, seperti kemaslahatan yang terkandung dalam gugat cerai (fasakh) yang diajukan oleh seorang istri ketika suaminya tidak menjalankan kewajibannya.

Demikian penjelasan tentang klasifikasi maslahah yang dibuat oleh para ulama dalam rangka mempermudah proses ijtihad dengan menggunakan metode maslahah mursalah ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here