Lukman Hakim Saefuddin: Moderasi Beragama Keniscayaan untuk Hindari Penafsiran yang Ekstrem

1
1559

BincangSyariah.Com – Adanya pandemi covid-19 juga memberikan hikmah yang lainnya. Salah satunya, Jumat 2 Juli 2020 menjadi goresan sejarah diluncurkannya modul moderasi beragama untuk RA-MI dan MTs-MA. Memang, moderasi beragama digadang-gadang oleh banyak pihak guna menampilkan lanskap Islam rahmatan lil a’lamin, selain bertujuan meng-counter gerakan radikalisme yang bercokol di negeri ini.

Sebagai informasi, moderasi beragama merupakan kebijakan strategis kemenag yang diinisiasi oleh mantan menag, Lukman Hakim Saifuddin. Di penghujung masa jabatannya, Lukman berhasil menginput kebijakan moderasi beragama dalam Rencana Jangka Menengah Nasional (2020-2024). Itu artinya kementerian agama sebagai leading sector mempunyai tanggungjawab moral untuk mengawal dan memastikan kebijakan ini terdeliver dengan baik.

Dilansir dari kemenag.go.id, modul moderasi beragama yang dimaksud adalah modul kedua pasca launching buku moderasi beragama yakni diperuntukkan kepada siswa RA dan madrasah siap digunakan untuk tahun ajaran baru 13 Juli 2020. “Modul ini hadir sebagai guidebook (buku panduan) bagi guru dalam rangka memperkuat karakter moderat pada siswa. Pengetahuan nilai moderasi yang terinternalisasi dalam sikap dan karakter siswa penting dikenalkan sejak dini dalam rangkat merawat kebhinekaan Indonesia.” Ucap Umar, selaku Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah.

Modul ini disusun bersama para akademisi Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKKPN) IAIN Surakarta beserta guru-guru. Sejalan apa yang disampaikan oleh Direktur PKKP-IAIN Surakarta M. Zainal Anwar, bahwa modul ini dapat menjadi instrumen pembelajaran generasi muda Indonesia agar memiliki karakter moderat dan bermental kuat, tidak mudah menyerah, serta senantaisa optimis menghadapi tantangan zaman.

Jika diamati, kedua modul ini terdapat tujuh topik yang menjadi principal element (elemen utama) yaitu pembangunan karakter moderat, pengenalan kebangsaan, berlaku adil terhadap sesama, menjaga dan menjalin persaudaraan, bersikap santun dan bijak serta pribadi inovatif, inklusif, kreatif dan mandiri.

Baca Juga :  Empat Hal Sehari-hari Ini Adalah Sunah Rasul, Apa Saja?

Moderasi Beragama ala Lukman Hakim Saifuddin

Dalam Webinar Internasional Rumah Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh IAIN Jember, Rabu 1 Juli 2020 bertajuk “Masa Depan Bangsa dalam Bingkai Moderasi Beragama”. Lukman menjadi pemateri kunci dalam webinar tersebut, selain kedua pemateri Greg Barton dan Imam Shamsi Ali. Ia menjadi eksponen penting moderasi beragama di Indonesia. Kita tahu bahwa hampir pasti di setiap pidatonya Lukman selalu konsisten menyelipkan pesan moderasi beragama.

Dalam webinar via zoom juga, Ia memaparkan “setiap agama diyakini sebagai kebenaran dengan karakternya yang moderat. Masalahnya, bagaimana kita memahami agama? Sebab, ketika agama membumi, hakikatnya menjadi sesuatu yang dipahami oleh manusia yang terbatas dan relatif. Agama kemudian melahirkan aneka ragam pemahaman dan penafsiran. Oleh karena itu, moderasi beragama  merupakan keniscayaan untuk menghindari penafsiran yang berlebihan dan paham keagamaan yang ekstrim baik ekstrim kanan maupun kiri.” Tutur mantan Menag era SBY dan Jokowi.

Ia juga memungkasi bahwa yang dimoderasi bukan agamanya, karena agama sudah pasti moderat. Yang dimoderasi adalah cara kita beragama. Karenanya, sembari tetap mengawal kebijakan moderasi beragama di setiap lini, penting kiranya bagi stakeholders terkait untuk menjaga dan menciptakan keseimbangan di kalangan umat beragama dengan melibatkan pesantren dan ormas (NU, Muhammadiyah, dkk) serta universitas.

Akhirnya, sebagai bagian dari strategi sosialisasi, kebijakan moderasi beragama harus menjadi model keberagamaan mainstream di tengah meletupnya klimaks politik identitas, ujaran kebencian (hate speech), dan berita bohong (hoax). Kedua modul ini dapat diunduh di sini.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here