Logo HUT RI Dianggap Salib, Bukti Masyarakat Indonesia Latah Simbol Agama

0
2532

BincangSyariah.Com – Dalam situasi yang masih tak menentu karena pandemi Covid-19 yang tak kunjung surut ini, banyak masyarakat Indonesia justru disibukkan dengan penafsiran logo kemerdekaan. Penafsiran yang dilakukan terkesan serampangan bahkan sangat buru-buru, disimpulkan sepihak dan tanpa melewati proses verifikasi terlebih dahulu.

Logo HUT Kemerdekaan RI ramai diprotes banyak kalangan. Pasalnya, logo tersebut dianggap sebagai simbol salib. Salah satu yang memprotes adalah ormas di Solo. Ormas tersebut bahkan langsung bertindak dengan menyampaikan protesnya kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Mereka memprotes terkait spanduk yang terpasang di sejumlah titik di Kota Solo. Perwakilan Ormas, Endro Sudarsono menyatakan agar sebaiknya mengganti desain spanduk tersebut dengan desain lainnya kepada Pemerintah (Pemkot) Solo.

Apa yang terjadi di media sosial jauh lebih ramai. Para netizen memprotes desain resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Padahal, Ali Mochtar Ngabalin dari Kantor Staf Presiden telah menegaskan bahwa desain tersebut bukanlah salib.

Sebenarnya, makna desain logo sudah tercantum di berkas Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2020 & Pedoman Visual Penggunaan. Penjelasan makna tentang logo tersebut bisa diunduh di situs resmi Setneg.go.id.

Konfigurasi desain yang dipermasalahkan dan dinilai mirip salib adalah design supergraphic. Desain tersebut terdiri dari 10 elemen yang diambil dari dekonstruksi logo 75 tahun dan dipecah menjadi 10 bagian. Masing-masing bagian merepresentasikan komitmen dan nilai-nilai luhur dari Pancasila.

Ali Mochtar Ngabalin juga mengatakan bahwa desain yang dipersoalkan ini bukanlah lambang salib. Ia meminta masyarakat tak berspekulasi macam-macam soal logo kemerdekaan RI sebab murni bukan salib. Logo tersebut adalah sebuah karya seni yang dibuat dan dilakukan oleh anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan karya seni yang luar biasa.

Baca Juga :  Hukum Merusak Kuburan Non-Muslim

Tema besar dari peringatan HUT ke-75 RI adalah Indonesia Maju. Indonesia Maju merupakan sebuah representasi dari Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah simbolisasi dari Indonesia yang mampu untuk memperkokoh kedaulatan, persatuan, dan kesatuan Indonesia.

Penafsiran yang serampangan terhadap logo HUT RI yang ke-75 adalah bukti bahwa masyarakat masih latah terhadap simbol agama. Hal yang belum diverifikasi kebenarannya malah dijadikan sebagai alat untuk memecah belah antarindividu bahkan antarkelompok tertentu.

Kondisi ini membuat masyarakat tidak berpikir secara rasional dan tidak mengedepankan prinsip-prinsip kebhinekaan. Kondisi ini tentu sangat berpotensi merusak keberagaman Indonesia. Padahal, keberagaman Indonesia adalah anugerah dari Tuhan. Selain itu, keberagaman agama adalah salah satu hal yang diakui dan dijamin oleh negara.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius dan mengakui nilai dan norma agama serta Ke-Tuhanan. Seharusnya, agama dijadikan sebagai sendi tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan menjadi alat untuk memantik perpecahan.

Izinkan penulis mengutip salah satu quote dari Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib. “Musuh kita adalah kesempitan dan kedangkalan dalam berpikir.” Cara berpikir yang sempit dan dangkal inilah yang membuat banyak orang mempersoalkan logo HUT RI yang ke-75 tersebut. Orang tak mau repot membaca dan mendengarkan pendapat orang lain sebab merasa bahwa kesimpulannya adalah paling benar sendiri.

Padahal, seandainya saja kita mau mencari lebih jauh dan memverifikasi kebenaran dari logo HUT RI ke-75, kita tentu akan menemukan makna yang dalam dari sebuah karya seni. Makna tentang kebangsaan dan persatuan Indonesia. Bukan makna abal-abal yang disimpulkan dengan serampangan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here