Living Qur’an dalam Untaian Doa

0
835

BincangSyariah.Com – Kajian Al-Qur’an tidak hanya melulu tentang apa yang ada di dalam teksnya, seperti mengkaji tajwidnya, ilmu nasikh mansukh, ilmu sebab turun suatu ayat/surat, dan piranti-piranti ilmu-ilmu Al-Qur’an yang lainnya.

Kajian Al-Qur’an di ranah para peneliti pun mulai berkembang di luar teks, yakni mengkaji fenomena-fenomena kelakuan umat Muslim terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Kajian tersebut dikenal dengan living Qur’an, yakni mengkaji bagaimana Al-Qur’an itu hidup (Al-Qur’an Al-Hayy) di tengah masyarakat muslim atau bagaimana masyarakat muslim itu menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupannya (Ihya’ul Qur’an).

Berangkat dari ketertarikan kajian living Qur’an tersebut, maka saya pun mencoba untuk melakukan sebuah penelitian kecil tentang ayat-ayat Al-Qur’an apa saja yang selalu dihidupkan dalam untaian doa-doa sebagian orang. Dan mengapa mereka selalu melantunkan ayat tersebut dalam setiap doanya.

Adapun responden yang saya jadikan penelitian kecil tersebut terdiri dari enam laki-laki dan enam perempuan sebagai berikut.

Neneng Maghfiro, seorang jurnalis dari sebuah majalah perkebunan mengungkapkan bahwa doa yang paling sering ia panjatkan adalah doa sapu jagad.

رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Alasannya Neneng memilih doa tersebut adalah ia mengharapkan selalu ditunjukkan kebaikan oleh Allah swt.

Doa sapu jagat yang terdapat dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 201 juga menjadi andalan doa bagi Apriyadi, seorang mahasiswa Magister Hukum Keluarga Fakultas Syariah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa doa ini merupakan doa yang ringkas dan syamil atau mencakup segalanya.

Selain itu, doa yang sangat familiar tersebut juga selalu dipanjatkan dalam setiap doanya saudara Abdul Karim Munthe, seorang dosen di fakultas Hukum Universitas Indonesia. Alasan yang ia kemukakan adalah karena ia merasa ibadah yang ia lakukan masih sangatlah sedikit, sehingga merasa malu jika terlalu banyak doa kepada Allah swt.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Perbedaan Antara Rasul dan Nabi

Saudara Ulin Nuha, salah satu mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta konsentrasi Pengkajian Tafsir juga mengaku bahwa doa sapu jagadlah yang menjadi doa andalannya. Alasannya adalah karena doa tersebut menyeluruh kebaikan dunia dan akhirat. Selain doa sapu jagad, Ulin juga mengaku bahwa setelah ia menikah, ia selalu memanjatkan doa

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Ulin Nuha berharap agar ia istrinya dan keturunannya dapat menjadi qurrata a’yun baginya.

Doa yang terdapat dalam Qur’an surah Al-Furqan ayat 74 tersebut juga selalu dipanjatkan oleh responden saya yang bernama Ainur Rohmah, salah seorang guru di SD Smart School Al-Hamidiyyah. Ia berharap dengan terus memanjatkan doa tersebut, ia akan mendapatkan suami yang shalih dan keturunan yang bisa menjadi penenang jiwa dan hatinya.

Doa meminta keturunan yang shalih dan penyenang hati tersebut juga sering dipanjatkan oleh saudari Rizqa Fathurrahmah, salah satu guru SD Islamic Village di Tangerang. Ia berharap isi doa dari ayat Al-Qur’an tersebut dikabulkan oleh Allah swt. terlebih saat ini ia sedang mengandung anak pertamanya.

Sementara itu, saudari maghfirah salah seorang mahasiswi Pasca Sarjana UIN Raden Patah Palembang mengungkapkan bahwa doa yang sering ia panjatkan adalah Qur’an surah As-Shaffat ayat 100

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

Selain doa itu, ia juga selalu memanjatkan doa Nabi Zakariya yang terdapat dalam surah Al-Anbiya’ ayat 89

رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ

Baca Juga :  Adakah Dalil Tradisi Empat dan Tujuh Bulanan dalam Islam?

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.Doa tersebut ia panjatkan kepada Allah swt. karena ia sudah menginginkan buah hati dari pernikahannya yang sudah memasuki tahun kedua.

Adapun saudara Adi Ikhwan Tsabit, alumni Sastra Arab UIN Jakarta mengungkapkan bahwa doa yang paling sering ia panjatkan dari ayat Al-Qur’an adalah ayat 40 surah Ibrahim

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Adi mengatakan bahwa sbentuk pengaplikasian “ngabdi” yang paling intens kepada Allah swt. adalah shalat, sehingga ia berharap dirinya, keluarga, dan juga anak-anaknya menjadi orang yang senantiasa menjaga shalatnya.

Sementara itu, saudari Hikmiyyah, salah satu mahasiswa Pasca Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjelaskan bahwa doa yang paling sering ia panjatkan adalah doa yang terdapat dalam Qur’an surah Al-Qashash ayat 24

رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.”

Hikmiyyah mengungkapkan bahwa doa tersebut adalah doa Nabi Musa ketika ada di kota Madyan, setelah kabur dari Mesir, beliau tidak punya tujuan menentu, beliau hanya berdoa minta diberikan apa saja yang terbaik menurut Allah swt. Oleh karena itu, Hikmiyyah yang juga merupakan seorang penghapal Al-Qur’an ini menginginkan selalu diberikan apa saja yang terbaik menurut Allah swt. sebagaimana Nabi Musa a.s.

Hikmiyyah juga mengungkapkan ia juga sering membaca doa

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku,

Doa yang terdapat dalam Qur’an surah Thaha ayat 25-28 tersebut juga sering dibaca oleh saudari Isna Rahma Shalihatin, mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Jakarta. Alasannya adalah karena makna dari doa tersebut begitu menyentuh hati Isna, sehingga sangat terus panjatkan kepada Allah swt. agar dimudahkan dalam segala urusan.

Baca Juga :  Hubungan antara Ketakwaan dan Kemanusiaan Menurut Nabi

Adapun saudara Izzul Mutha’, salah seorang ustadz di Pondok Pesantren Ar-Raudhah Ihsan Foundation mengungkapkan bahwa doa yang sering ia panjatkan dari ayat Al-Qur’an adalah ayat 193 surah Ali Imran

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

Selain itu, ia juga selalu memanjatkan doa-doa tentang memohon ampun kepada Allah swt., yang lain. Alasan yang dikemukakan oleh ustadz Izzul Mutha’ adalah disebabkan karena pada hakikatnya manusia selalu mempunyai kesalahan dan butuh ampunan, baik dari sesama manusia apalagi dari Allah swt.

Demikianlah penelitian sederhana saya tentang living Qur’an atau Al-Qur’an yang hidup dalam setiap untaian doa-doa hamba Allah swt. Di mana ketika diamati, maka doa yang terbanyak dipanjatkan adalah doa sapu jagad, doa yang ringkas serta menyeluruh, yakni kebaikan dunia dan akhirat. Selain itu, doa meminta pendamping hidup dan keturunan yang shalih dan shalihah menjadi doa yang sering dipanjatkan juga, terlebih bagi yang sudah menikah. Selain itu, ada pula yang sering berdoa meminta petunjuk kebaikan dan permohonan ampunan kepada Allah swt.

Ala kulli hal, ternyata ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dihidupkan dalam setiap shalat dan tadarusan, tetapi ia juga dihidupkan dalam setiap untaian-untaian doa yang disematkan dalam sebuah harapan. Lalu ayat apa saja yang Anda selalu hidupkan dalam untaian doa-doa Anda?. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here