Living Hadis: Corona Mewabah, Literasi Hadis Berubah

1
1257

BincangSyariah.Com – Sejak WHO menetapkan Corona ini sebagai pandemi global 2020 yang itu artinya sudah darurat dan harus benar-benar diwaspadai oleh semua orang di negara manapun, ada banyak hal yang berubah. Terutama sekali, dalam hal bersosial. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat juga sangat meingkat tajam. Tak kalah meningkatnya, keberagamaan masyarakat pun turut meningkat drastis.

Saya tertarik dengan fenomena keberagamaan, khususnya living hadis melalui media sosial dan jejaring sosial berbasis jaringan internet itu.  Ada fenomena menarik bagi saya, yitu literasi hadis yang berubah. Saya katakan berubah agar dapat mewakili segenap fenomena yang ada.

Perubahan literasi hadis yang saya amati itu dapat dikategorikan menjadi dua bidang besar dalam studi hadis, yaitu bidang riwayat dan dirayah. Kali ini pandangan saya tertuju pada bidang riwayah. Semangat periwayatan hadis secara digital menjadi naik drasitis. Terutama sekali, hadis-hadis tentang wabah, lebih spesifik lagi tentang tha’un. Kemudian, riwayat tentang kisah-kisah Nabi dan para sahabat pada masa wabah alias pagebluk atau pandemi.

Riwayat tentang social distancing maupun physical distancing, hingga riwayat tentang model lockdown pada masa Nabi dan sahabat juga menjadi dikenal luas oleh masyarakat yang tidak pernah kuliah di jurusan Ilmu Hadis sekalipun. Lalu, saya jadi membatin, kalau seperti ini kondisi periwayatan hadis, akankah jurusan Ilmu Hadis nanti menjadi lebih diminati atau justru malah dianggap tidak perlu karena sudah cukup belajar hadis di medsos saja?

Namun sayangnya, peningkatan periwayatan hadis itu tidak disertai dengan meningkatnya literasi tentang istilah-istilah dalam ilmu hadis. Akibatnya, hadis-hadis itu menyebar begitu saja, berseliweran, seperti halnya penyebaran wabah corona itu sendiri. Saya pun jadi membayangkan begitukah kira-kira fenomena periwayatan hadis pada masa-masa awal menjelang kodifikasi oleh para ulama mukharrij hadis seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawun, dan selainnya?

Lalu, saya juga jadi membayangkan betapa resahnya para ulama tersebut saat itu sehingga kemudian mereka harus berjibaku untuk merumuskan obat penangkal, pencegah, dan penyaring hadis-hadis berseliweran itu hingga kemudian benar-benar dipilih hadis-hadis yang sehat (sahih).

Penting untuk dicatat, bahwa trilogi istilah validitas hadis, yaitu sahih-hasan-dlaif/saqim- pada awalnya adalah meminjam istilah dalam ilmu kesehatan. Jadi, dalam benak saya, ada kemiripan pola kelahiran ilmu-ilmu kesehatan dengan ilmu hadis. Karena itu pulalah, peran ulama hadis itu seringkali dianalogikan kepada peran apoteker. Ilmu hadis dianalogikan dengan ilmu farmasi.

Baca Juga :  Dialog Agama Islam dan Kristen; Lambang Salib dalam Pandangan Filosof Muslim

Dari situlah kemudian para ulama hadis “bergerak cepat,” namun tetap jeli. Cepat di sini jangan dibayangkan sama dengan pembangunan rumah sakit darurat untuk Corona. Melainkan, para ulama segera bangkit untuk meneliti. Proses penelitiannya memakan waktu yang sangat lama. Belasan tahun, bahkan hingga ratusan tahun.

Imam Bukhari (w. 256 H) misalnya, butuh waktu sedikitnya 16 tahun untuk memeriksa tujuh ratusan ribu hadis yang pernah beliau dengar agar benar-benar dipastikan kesehatan dan kesahihannya. Lalu, obat (kaidah-kaidah keilmuan kritik hadis) yang beliau bangun itu disempurnakan dan disistematiskan lagi oleh para ulama setelahnya.

Kemudian pada abad ke-7 H, Imam Ibnu Shalah (w. 643 H) menemukan formula yang dapat dibakukan untuk mendeteksi dan mengobati hadis-hadis yang masih dalam tahap pemantauan (HDP: Hadis Dalam Pemantauan); belum diteliti, baru diketahui dan hendak diperiksa.

Kini, saat Corona mewabah di seantero dunia, kejadiannya mirip dengan fenomena itu. Masyarakat belum siap menerima kehadirannya dan tiba-tiba sudah banyak yang terinfeksi, jadi koban. Masyarakat belum begitu siap menerima hadis secara ilmiah, tapi berita tentang kenabian sudah merebak di mana-mana. Siapapun bisa bercerita tentang Nabi dan sabdanya. Jika hanya bercerita, mungkin tidak ada masalah. Apalagi, isi ceritanya adalah baik dan mulia, juga memuliakan Nabi. Namun, dengan cerita, kisah, berita dan “broadcast hadis” itulah kemudian mereka juga berfatwa yang tak jarang berbeda dari pakem sehingga menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Persis seperti hari ini, semua orang bicara Corona dengan modal broadcast, berita yang tidak jelas sumbernya (munqathi’), berita yang dibawa oleh orang-orang yang tidak kompeten di bidang virologi (ghairu dlâbith), berita dari orang yang tidak jelas identitas dan kapasitasnya, bahkan dari orang yang jelas tidak bisa dipercaya (ghairu ‘adlin), oleh orang yang tendensius dengan kepentingannya pribadi dan kelompoknya (mubtadi‘), belum lagi juga berita itu juga dibuat dan dibawa dengan penuh kepentingan (ma’lûl), bahkan jelas-jelas isinya juga bertentangan ilmu tentang virus (minimal syadz; bahkan munkar).

Istilah-istilah di atas itu penting untuk kita gunakan, bukan dalam konteks kritik hadisnya, melainkan kritik living hadisnya. Kritik penggunaan hadisnya. Kritik periwayatan hadis dalam bentuk “broadcast” yang entah itu sepadan dengan kaidah tahammul wal ada’ yang mana dalam ilmu riwayat hadis?!

Baca Juga :  Wailak !, Sikap Nabi Kepada Orang yang Bicara tentang Kapan Kiamat

Tidak kalah menariknya, cara pandang masyarakat terhadap hadis dlaif (lemah) juga turut berubah. Mereka yang sebelumnya anti atau ketat sekali terhadap hadis dlaif, kini banyak yang menjadi sangat longgar. Banyak hadis dlaif digelontorkan untuk tetap berkumpul-kumpul di tempat-tempat ibadah dengan orang yang tak dikenal sekalipun. Memang, hadis sahih juga banyak sekali. Tapi penggunaannya dalam konteks ini menjadi kurang tepat minimal untuk wilayah-wilayah tertentu.

Lalu, orang yang selama ini longgar sekali dengan penggunaan hadis dlaif, sekarang ini mereka menjadi garda terdepan untuk melawan penggunaan hadis dlaif. Biasanya, mereka tak mempermasalahkan penggunaan hadis dlaif untuk dasar pelaksanaan ibadah mahdlah, atau untuk menetapkan halal-haram; sunah-makruh-mubah.

Namun, kali ini mereka menjadi anti dan ketat sekali terhadap hadis dlaif. Semua hadis yang terindikasi mengandung kedlaifan, sekecil apapun, langsung diwaspadai dan dilarang beredar. Ada kelemahan sedikit saja dalam hadis tentang anjuran beribadah di keramaian, langsung distop. Persis petugas yang sangat ketat terhadap siapapun yang sedang bergejala demam, mengalami gangguan pernafasan, batuk kering, atau gejala penyakit apapun.

Karena itu mereka juga menjadi bersikeras bahwa yang benar adalah semuanya tetap di rumah, tidak perlu salat berjamaah di masjid, tidak usah berjumatan di masjid, tidak usah tabligh akbar, tidak usah istighatsah bersama, dan seterusnya.

Namun, tidak perlu khawatir dan risau berlebihan dalam menyikapi ini. Jangan sampai juga kita salah paham terhadap hadis dan ilmu hadis, lalu curiga berlebihan terhadap keabsahan ilmu hadis. Ini bukanlah soal keabsahan ilmu hadis. Ini bukan masalah ada atau tidak adanya standar dalam ilmu hadis dan kritik hadis. Kalau standarisasi, jelas sudah sangat gamblang ada standar-standar baku dalam ilmu hadis dan kritik hadis. Tapi ini murni soal pola living periwayatan hadis. Ini adalah soal penggunaan hadis yang memang lentur.

Baca Juga :  Tradisi Ijazah Hadis Musalsal di Jakarta

Penggunaan hadis dan ilmu hadis itu memang sangat lentur lentur. Adakalanya harus diperketat, dan adakalanya harus gunakan sedikit longgar. Semuanya tergantung pada siatuasi dan kondisi. Adakalanya sebuah hadis itu harus “didisfungsikan sementara” adakalanya harus diaktifkan kembali. Karena, tidak semua hadis dapat dikompromikan dengan baik dalam segala kondisi. Maslahat dan mudaratnya harus ditimbang secara bijak, jeli, dan komprehensif. Seperti halnya fatwa hukum. Ada saatnya hukum fikih itu harus ketat sekali, dan ada saatnya pula harus longgar sekali. Karena itulah dalam kaidah fikih ada sebuah rumus, “Jika kondisi sangat mendesak, maka hukum harus longgar. Sebaliknya, jika kondisinya longgar, maka hukum harus diperketat.”

Jadi, bagi orang seperti saya yang masih awam dalam masalah penggunaan ilmu hadis, cukup tahu kaidah itu saja. Tidak perlu bingung.  Saat ini kondisi wabah virus yang mematikan atau merusak tubuh itu memang sedang sangat darurat, berbahaya. Jika kita terlalu longgar menggunakan hadis-hadis yang tetap mengharuskan beribadah secara beramai-ramai, maka hal itu akan membahayakan kita sendiri dan juga membahayakan orang lain. Itu juga secara langsung menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah secara total.

Sebaliknya, jika kita saat ini sangat ketat dalam menggunakan hadis-hadis tentang beribadah wajib di keramaian yang tak bisa kita prediksi pesertanya itu, maka setidaknya hal itu akan tetap menjaga diri kita dan menjaga orang lain, untuk kemudian kita bisa segera melaksanakan ibadah tersebut bersama-sama lagi dan di keramaian sekalipun.

Dalam proses pengetatan hadis-hadis ini, kita masih bisa beribadah tanpa keramaian, yaitu beribadah sendiri-sendiri, sebagaimana yang sering kita lakukan pada saat belum terjadi wabah Corona ini. Bukankah, sebagian terbesar kita memang tidak pernah atau jarang beridabah di keramaian secara berjamaah di masjid?! Jadi, bersabarlah! Semua ada waktunya. Semua ada proporsinya.

Kali ini, kita memang harus pindah untuk sementara waktu dari hadis-hadis tentang anjuran ibadah di keramaian menuju hadis-hadis tentang kebolehan ibadah dalam kesunyian dan berjarak. Semoga Allah selalu merahmati, melindungi, dan memberkahi kita semua. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Apa yang kita sampaikan di media sosial dalam bentuk broadcast WA ataupun status FB, postingan IG, cuitan di Twitter maupun jejaring medsos lainnya, saya yakin juga sudah terpikirkan atau bahkan didengar dan dibaca oleh para ahli yang menjadi penasihat dan pemberi pertimbangan pemerintah kita, baik pusat maupun daerah. (Baca: Living Hadis: Corona Mewabah, Literasi Hadis Berubah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here