Lima Perbedaan Alquran dengan Hadis Qudsi

2
6052

BincangSyariah.Com – Secara istilah, hadis qudsi merupakan suatu hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah Saw dan  disandarkan kepada Allah Swt. Dalam hadis tersebut Nabi meriwayatkannya dalam posisi bahwa yang disampaikan adalah kalam Allah.

Karena itu penamaan hadis ini disandarkan kepada kata qudsi karena kata itu sendiri menunjukkan kebersihan dan kesucian secara Bahasa. Kata qudsi sendiri berasal dari kata taqdis yang berarti mensucikan Allah.

Dalam hadis qudsi, Nabi meriwayatkan kalam Allah tapi dengan menggunakan redaksi kalimat beliau sendiri. Sehingga ketika sahabat meriwayatkan hadis ini dari Rasulullah berarti dia menyandarkannya kepada Allah.

Misalnya, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt. berfirman; Aku sesuai apa yang menjadi dugaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku. Jika dia menyebutkan-Ku di dalam dirinya, maka aku pun akan menyebutnya di adlam diri-Ku dan bisa dia menyebut-Ku di khalayak ramai, maka Aku pun menyebutnya di khalayak orang ramai yang lebih baik dari itu.”

Syaikh Manna’ al-Qaththan mengatakan dalam kitab Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an bahwa ada beberapa perbedaan antara Alquran dengan hadis qudsi dan yang terpenting adalah

Pertama. Alquran adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafaznya yang dengannya orang Arab ditantang untuk membuat yang seperti Alquran dalam keindahan gramatikal dan sastra yang terkandung di dalamnya. Tantangan itu tetap berlaku sampai sekarang karena pada hakekatnya ALquran adalah mukjizat abadi hingga akhir zaman. Sedangkan hadis qudsi bukan mukjizat.

Kedua. Alquran hanya dinisbatkan kepada Allah semata, istilah yang dipakai adalah ‘Allah ta’ala berfirman..’ Sedangkan hadis qudsi sebagaimana disebutkan sebelumnya hadis tersebut diriwayatkan Nabi dengan disandarkan kepada Allah. Penyandaran tersebut kadang bersifat insya’i (yang diadakan) contoh redaksi hadisnya ‘dari Abu Hurairah Rasulullah mengatakan; Allah berfirman bahwa’ dan terkadang bersifat ikhbar (pemberitaan) dimana Nabi mengabarkan hadis itu dari Allah, contoh redaksi hadisnya; dari sahabat ibnu abbas sesungguhnya Rasulullah mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari tuhannya. Maksudnya saat Nabi menyampaikan hadis qudsi, redaksinya terkadang bersifat langsung dan terkadang tidak langsung.

Baca Juga :  Beredar Meme Menyebut Quick Count Sebagai Penyihir Firaun, Ini Makna Aslinya dalam Q.S al-A’raf: 116

Ketiga.  Alquran dinukil secara mutawatir sehingga kepastian seluruh isi Alquran sudah mutlak atau qath’i ats-tsubut. Sedangkan hadis qudsi sebagian besar memiliki dejarat khabar ahad, maksudnya hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi pada tiap tingkatan sanadnya. Sehingga kepastian hadis qudsi masih zhanni ats-tsubut. Adakalanya shahih, hasan dan ada pula yang dhaif.

Keempat. Alquran baik lafaz atau maknanya dari Allah, itulah wahyu. Sementara hadis qudsi maknanya saja dari Allah sedangkan lafaznya dari Nabi, hadis qudsi hanya awahyu dalam makna bukan lafaz. karenanya mayoritas ahli hadis berpendapat tidak masalah meriwayatkan hadis qudsi dengan maknanya saja.

Kelima. Membaca Alquran merupakan ibadah, setiap huruf yang dibaca bernilai pahala. Karena itu Alquran dibaca saat salat. Sedangkan hadis qudsi, Allah tidak memerintahkan membacanya dalam salat. Membacanya hadis qudsi tidak memperoleh pahala sebagaimana membaca Alquran. Allah hanya memberikan pahala hadis qudsi secara umum saja.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here