Lima Manfaat Introspeksi Diri

0
2096

BincangSyariah.Com – Fenomena yang ada menjadi bukti kuat bahwa introspeksi diri sudah tidak lagi menjadi fokus perhatian dalam kehidupan umat muslim. Budaya seremonial menjamur layaknya tumbuhan di musim hujan. Mereka sibuk dengan target seabrek pekerjaan. Kuantitas yang dikejar sedang kualitas ditinggalkan dan dilupakan.

Lihatlah mereka, betapa banyak yang merasa puas dengan sebuah pekerjaan yang sudah dilaksanakan tanpa melirik kembali apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan, kadang kepuasan yang dirasakan menjelma menjadi huru-hara belaka. Sehingga tak ayal jika nilai-nilai negatif masih saja nampak dan mewujud dalam kehidupan mereka.

Hal ihwal demikian terjadi sebagai akibat dari kosongnya kehidupan dari nilai-nilai refleksi dan introspeksi. Padahal introspeksi juga menjadi bagian dari kewajiban layaknya  kewajiban-kewajiban lainnya sebagaimana firman Allah SWT. dan sabda Nabi Muhammad SAW. berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr: 18)

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Al-A’raf [7]: 201)

عن ابي يعلى شداد ابن اوس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ الاَمَانِيَّ (رواه الترميذي)

Baca Juga :  Umat Beragama di Era Revolusi Industri 4.0

 “Orang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Disamping itu, ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Maka dari itu penulis tergugah untuk menyampaikan beberapa manfaat introspeksi diri –apalagi sekarang berada dimomen tahun baru- sebagai bentuk  pengajaran dan intropeksi diri agar ditahun deapan kita semua menjadi lebih baik dan positif dalam segala hal.

  1. Menjaga konsistensi dan stabilitas diri dalam kebaikan

Manusia dengan dualisme jiwanya yang kadang baik dan kadang buruk menjadikan tingkah laku hidupnya tidak konsisten dan stabil. Adakalanya ia berwujud layaknya malaikat tapi dilain waktu ia bisa saja berubah wujud menjadi setan.

Mengintropeksi diri baginya merupakan langkah yang luar biasa untuk bisa selalu konsisten dan stabil dalam kebaikan. Karena setiap tindakan yang sudah dilakukan pasti memiliki nilai baik atau buruk. Baik dan buruknya suatu tindakan bisa diketahui jika ia memusatkan pandangan dan pikiran sejenak untuk melihat dan mengintropeksinya, sehingga ia akan bisa menilai baik-buruknya suatu tindakan. Puncaknya ia akan menemukan kesadaran dalam bertingkah laku selanjutnya, yang sudah baik dipertahankan dan ditambah serta yang buruk diganti menjadi baik.

  1. Obat bagi hati yang sakit

Seseorang yang biasa melakukan intropeksi diri akan selamat dari penyakit hati. Hatinya menjadi suci-bersih dan kinclong serta jauh dari kotoran sifat-sifat negatif. Bagaimana tidak? Seseorang yang hatinya terjangkit penyakit, seperti dengki, hasut, sensitif, riya’, kikir dan seterusnya akibat dari kurangnya mengenal dirinya. sehingga maklumlah jika ia mengalami penyakit krisis identitas yang berkelanjutan.

Mengenali diri sendiri atau identitas diri dapat dicapai dengan memedomani salah satu langkah yang dianjurkan dalam islam yaitu koreksi diri. Melihat dan memandang siapa dirinya. Tujuannya hidupnya apa. Dari mana asalnya. Kembali pada siapa. Dan tugasnya apa.

  1. Menyingkap keburukan dan celah diri

Disadari atau tidak, seseorang yang melakukan evaluasi diri dalam tindakan yang sudah terejawantahkan dalam hidupnya akan menemukan banyak ketimpanagan dan ketidak sempurnaan dari tindakannya. Ia akan menyingkap keburukan-keburkannya yang akhirnya akan membawa pada suatu kesimpulan bahwa ia tidak boleh tergesa dalam bertindak guna memeperbaikinya.

Baca Juga :  Apa Jadinya Jika Iblis Bertaubat?

Abdul Aziz bin Ubay Rawwad mengatakan: “saya tidak masuk dalam sebuah pekejaan, kemudian keluar dan mengoreksinya kecuali saya menemukan bahwa bagian setan didalamnya lebih banyak dari bagian Allah Swt.

  1. Menjaga dari sifat takabur dan tipu muslihat

Kesombongan dan tipu muslihat serigkali ditemukan dalam diri manusia sebagai akibat dari kelalaiannya dalam merenungi dirinya. Seakan-akan hanya dialah manusia yang paling super sehingga dengan kekuatannya ia mudah sekali menipu dan memperdaya orang lain.

Ia tidak sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa dimata Allah SWT. Zat yang maha super. Kesombongannya telah menutup akal dan hatinya untuk melihat Allah Swt. Ia tidak meras bahwa dirinya sangat lemah dan berdaya bibalik kesombongannya sebagaimana sabda Rasul Saw Berikut:

لا يَفْقَهُ الرَّجُلُ كُلَّ الْفِقْهِ حَتَّى يَمْقُتَ النَّاسَ فِي ذَاتِ اللَّهِ , ثُمَّ يَرْجِعَ إِلَى نَفْسِهِ فَيَكُونَ لَهَا أَشَدَّ مَقْتًا

tidaklah seorang itu berfiqih sebenar-benarnya sebelum mengecam manusia untuk kesucian Dzat Allah Ta’ala dan memandang dirinya. Kemudian ia menghadapkan kepada dirinya sendiri lalu mengecamnya pula secara lebih hebat lagi“. (riwayat Abu Darda’ dalam Ihya’ Ulumuddin karangan al-Ghazali)

  1. Menjaga dan memanfaatkan waktu

Ketidak pedulian terhadap intropeksi dan perenungan mengakibatkan banyaknya waktu berlalu sia-sia. Ia melewati hidup tanpa memberikan bekas manfaat dan kebaikan. kesadaran bahwa ia telah membunuh kehidupan untuk tidak menabur benih-benih manfaat dan kebaikan juga ikut terbunuh.

Orang arab mengibaratkan waktu adalah pedang sebagai indikasi bahwa manusia harus takut pada waktu agar tidak terhunus dengan ketajamannya. Ia dapat menemukan rasa takut jika ia senantiasi berfikir dan menerung untuk menyelamatkan kehidupannya.

Ibn Asakir mengatakan: “Abu al-Fath Nasr Bin Ibrahim al-Maqdisi, selalu saja melakukan perenungan dalam setiap waktunya. Ia tidak pernah meninggalkan waktunya berlalu tanpa meninggalkan bekas manfaat dalam kehidupannya.” (Syu’ab al-Iman: 3211).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here