Lima Hukum Berbohong dalam Islam

2
28541

BincangSyariah.Com – Dalam Alquran banyak disebutkan dalil-dalil yang berbicara tentang keutamaan kejujuran. Orang-orang yang jujur dijamin oleh Allah akan berdampingan dengan orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh di surga. Bahkan Rasulullah pernah menyebut dalam hadisnya bahwa orang-orang yang jujur akan dijaminkan sebuah rumah di pertengahan surga. Maka, jika kita tidak memiliki hujah atau alasan mendesak, sepatutnya kita harus menghindari sifat berbohong.

Melakukan kebohongan baik di depan teman, keluarga, ataupun publik dengan upaya menutup-nutupi kebenaran, jelas tidak boleh dalam Islam. Namun kebohongan dapat diklasifikasikan hukumnya tergantung dengan konteks dan keadaan yang terjadi, karena tidak semua kebohongan diklasifikasikan sebagai tindakan haram. Bisa jadi kebohongan bersifat mubah jika dilakukan dengan tujuan mendamaikan pertikaian.

Menurut Umi Musyarofah, Dosen Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta, menuliskan dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Dakwah bahwa para ahli fikih membagi hukum berbohong menjadi lima hukum syariat:

Pertama, haram. Berbohong menjadi haram jika tidak mengandung manfaat apapun apalagi kebohongan tersebut akan menimbulkan kerugian bagi banyak orang. Bahkan Rasulullah pernah menganjurkan untuk meninggalkan kebohongan meskipun dalam keadaan bergurau. Ini artinya, kita harus berhati-hati dalam berbicara apalagi bergurau agar lidah kita tidak dibisiki nafsu untuk terus berbicara yang mengandung kebohongan.

Beberapa ahli psikologi berteori, orang yang berbicara sepuluh menit, minimal mereka telah melakukan kebohongan dalam kata-katanya sebanyak sekali. Tentu teori tadi tidak bisa dijadikan landasan hukum, namun kita bisa mengambil hikmah dari teori tersebut untuk tidak berkata-kata jika tidak diperlukan agar dapat menghindari kebatilan.

Kedua, makruh. Berbohong menjadi makruh jika dilakukan dengan tujuan memperbaiki konflik relasi antara teman, keluarga, ataupun rekan kerja. Kebohongan di sini bisa diklasifikasikan makruh jika tidak berbohong yang keterlaluan meski tujuannya baik, untuk menjalin kembali relasi.

Baca Juga :  Banyak Bersyukur Merupakan Kunci Sukses

Ketiga, sunnah. Berbohong menjadi sunnah jika dilakukan untuk membela agama Allah (dalam artian positif), menyiutkan nyali musuh-musuh agama dalam kondisi jihad yang benar, dan juga berbohong demi strategi perang di jalan kebenaran.

Keempat, wajib. Berbohong menjadi wajib jika dilakukan untuk membela nyawa seseorang yang dianiya, ataupun membela seorang Muslim dari upaya pembunuhan, atau seseorang yang dilalimi harta dan dirinya oleh orang-orang jahat. Tentu saja dalam melihat hukum ini, kita harus tahu duduk perkaranya dengan detail agar kita tahu bahwa yang kita bela benar-benar sedang teraniaya.

Kelima, mubah. Berbohong menjadi mubah jika dilakukan untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai demi meraih kemaslahatan bersama. Kita tahu, kita tidak boleh berdiam diri jika melihat pertikaian terjadi. Jika tidak ada solusi baku yang dapat membantu meredakan pertikaian ataupun konflik, berbohong menjadi boleh hukumnya dalam konteks ini.

Itulah klasifikasi hukum berbohong dalam Islam. Jika kita tidak terdesak melakukan kebohongan yang dapat menyelamatkan orang banyak, sudah sepatutnya kita berbicara dan bersikap jujur. Bagaimanapun, kejujuran adalah barang yang mahal harganya. Bahkan banyak orang bijak bilang bahwa kejujuran tidak bisa didapatkan di bangku sekolah apalagi podium kehormatan dewan. Kejujuran didapat dari bisikan kecil di hati kita, nurani. Semoga kita menjadi bagian dari hamba Allah yang mendapatkan rumah di pertengahan surga karena menghindari sifat-sifat bohong.

Wallahu a’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. Kalau bicara soal syariat islam sebutkan dalil naqlinya agar tidak terkesan ngarang sendiri.
    kalau hukum positip aplikatip sebutkan dasar hukum tanpa itu percuma tak bisa digunakan pedoman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here