Lima Hal yang Harus Dijaga Pembayar Zakat Menurut Imam al-Ghazali

0
10

BincangSyariah.Com – Sebagaimana kita ketahui, terdapat dua jenis ibadah zakat, yaitu zakat diri (nafs) dalam bentuk zakat fitrah di penghujung bulan ramadhan di setiap tahunnya yang wajib ditunaikan oleh semua umat islam yang mampu, dan zakat harta (mal) yang telah diatur ketentuan dan kadarnya dalam syariat Islam.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, di bagian Kitab Asraruz Zakat (kitab pembahasan rahasia ibadah zakat), Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang yang akan mengeluarkan zakat, ia harus menjaga beberapa hal demi tergapainya kualitas ibadah zakat yang paripurna. Beberapa hal tersebut dianggap penting untuk dijaga karena kita ketahui bersama, zakat merupakan ibadah yang masuk sebagai salah satu dari kelima rukun Islam. Imam al-Ghazali meringkasnya dalam lima hal, yakni:l

Pertama, niat, yaitu bemiat dengan hati, untuk menunaikan zakat fardlu. Dalam hal ini, disunatkan menentukan harta yang dikeluarkan zakatnya. Semisal dengan ucapan: “saya berniat membayar zakat fardlu untuk hasil pertanian ini, karena Allah Ta’ala”. Berniat demikian itu misalkan dengan menggenggam bulir pada secara simbolis sebagai penunjuk bahwa harta itulah yang ingin dizakati.

Semisal ada orang yang ingin menzakati hartanya yang berada di tempat lain, kemudian ia berniat: “Ini zakat untuk hartaku yang jauh apabila harta itu selamat. Jika tidak, maka biarlah ini menjadi sedekah”. Niat semacam ini pun diperbolehkan.

Pada beberapa kasus, niat zakat itu dilakukan bukan oleh si pemilik harta, namun oleh walinya. Misalkan harta milik anak kecil atau orang gila, maka yang niat zakat ialah wali tersebut. Bisa terjadi pula, niat zakat dilakukan oleh orang yang kita tunjuk sebagai wakil kita. Misalkan ada orang yang ingin zakat, namun ia belum begitu paham tentang detailnya, lantas ia berkonsultasi dengan seorang pegawai lembaga amil zakat, maka ia boleh pula mewakilkan niat zakatnya pada wakil tersebut.

Kedua, segera mengeluarkan zakat ketika sudah jatuh tempo. Jatuh tempo yang dimaksud dalam hal ini maksudnya ialah apabila zakatnya adalah zakat fitrah, maka segera dibayar jangan sampai melewati hari raya idul fithri. Jadi, begitu pemerintah telah mengumumkan bahwa malam satu syawal jatuh pada malam tersebut, maka segeralah ia zakat fitrah, jangan ditunda lagi. Kalaupun dilakukan sebelumnya di hari-hari bulan ramadhan, itu pun diperbolehkan. Jika zakatnya adalah zakat harta, apabila hartanya ialah hasil pertanian, maka segera mengeluarkan zakatnya segera sesudah selesai panen, pada harta lainnya, maka segera ketika sudah memasuki masa satu tahun (haul).

Orang yang menunda mengeluarkan zakat hartanya, padahal sesungguhnya ia mampu melakukannya, artinya tidak ada halangan apapun, maka ia dianggap durhaka kepada Allah. Celakanya, misalkan ia memperlambat pengeluaran zakat padahal mampu, kemudian ternyata hartanya hilang, maka kewajiban zakat tetaplah membebani dirinya. Hal ini merupakan konsekuensi dari keteledorannya dalam mengerjakan ibadah wajib.

Ketiga, hendaknya tidak mengeluarkan jenis barang lain dari apa yang dizakatinya. Maksudnya, dalam zakat fitrah, sebaiknya yang dikeluarkan ialah makanan pokok, yakni beras untuk orang Indonesia, hendaknya jangan diganti uang. Kalau zakatnya ialah zakat pertanian, maka hasil pertaniannya itulah yang dikeluarkan, jangan diganti yang lain. Kalau zakatnya adalah zakat emas, maka yang dikeluarkan adalah emas, jangan diganti perak, dan seterusnya. Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i. Alasannya adalah untuk menghormati tekstual syariat yang menyebutkan demikian. Namun, imam mazhab yang lain, seperti Imam Abu Hanifah memperbolehkan menggantinya dengan barang lain, seperti zakat fitrah bukan dengan beras namun diganti dengan uang. Terutama apabila komunitas umat di daerah tersebut ternyata lebih membutuhkan uang ketimbang beras.

Keempat, hendaknya zakat itu tidak dipindahkan ke negeri lain. Misalkan, seseorang memiliki sawah di Desa Sukorejo Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Malang. Ketika panen, maka sebaiknya zakatnya dibagikan pada orang Sukorejo, jangan dipindahkan ke daerah lain. Demikian pula misalkan orang Sukorejo punya sawah di desa Sukojadi, maka sebaiknya zakat diberikan pada penduduk Sukojadi. Imam al-Ghazali menyebutkan demikian, karena bisa jadi di daerah tersebut ada masyarakat miskin yang selama ini melihat sawah tersebut dan ikut berharap semoga kelak ketika panen ia akan ikut merasakan nikmat dengan menerima zakat. Memindahkan pembagian zakat ke daerah lain akan membuat pengharapan mereka menjadi ambyar.

Kelima: distribusi pembagian harta zakat tersebut menyesuaikan bilangan golongan penerima zakat yang ada dinegeri itu secara sama rata. Hal ini karena meratakan distribusi pada semua golongan penerima zakat adalah wajib, dibuktikan oleh ketegasan firman Allah Ta’ala QS. At-Taubah [9]: 60,

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarā`i wal-masākīni wal-‘āmilīna ‘alaihā wal-mu`allafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Demikian, semoga penjelasan Imam al-Ghazali ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here