Gus Dur dan Lima Hak Dasar Manusia yang Harus Dilindungi

0
987

BincangSyariah.Com – Gus Dur sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid adalah sosok yang selalu memperjuangkan hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah simbol yang sudah ada sejak sebelum indonesia merdeka yaitu bhineka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetap satu tujuan.

Mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, keamanan, dan keadilan adalah sebuah harapan dalam Negara Indonesia yang beragam etnis, budaya, dan ras. Perjuangan Gus Dur yang tak mengenal lelah dalam membela hak-hak minoritas menunjukkan kepekaannya terhadap rasa keadilan.

Gus Dur sering menyampaikan di hadapan publik bahwa manusia, apapun latar belakangnya, wajib dilindungi hak-hak dasarnya. Hak dasar manusia yang diadopsi Gus Dur itu berasal dari teori Fiqh yang sering disebut dengan al Kulliyat al Khams (lima prinsip kemanusian universal). Teori ini dikenalkan pertama kali oleh Abu Hamid al Ghazali yang tertulis dalam karyanya al Mushtashfa min Ilm al Ushul.

Lima prinsip dasar kemanusian tersebut adalah hak beragama (hifzh al din), hak hidup (hifzh al nafs), hak berpikir (hifzh al aql), hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan repreduksi (hifzh al nashl), dan hak kepemilikan atas harta benda (hifzh al mal). Lima hak tersebut ada adan berlakuk kepada setiap insan dimana saja dan kapan saja, tanpa membedakan jenis kelamin, ras, sosial, dan sebagainya.

Tak heran jika kita sering menjumpai keberpihakan Gus Dur pada orang-orang minoritas. Yang demikian karena Gus Dur benar-benar menghidupkan hak dasar manusia yang harus dilindungi. Demi mewujudkan keadilan, Gus Dur menentang dikotomi mayoritas-minoritas. Wacana mayoritas-minoritas yang bersifat hirarki dan oposisional bukan hanya mengancam keadilan tapi juga mengarah pada disintegrasi bangsa.

Baca Juga :  Hakikat Tobat yang Diterima oleh Allah

Itu sebabnya bagi Gus Dur, sekalipun Islam agama mayoritas, Islam sebagai etika kemasyarakatan tidak boleh menjadi sistem nilai dominan di Indonesia apalagi menjadi ideologi alternatif bagi Pancasila. Fungsi Islam, seperti juga agamaagama lain, sebatas sistem nilai pelengkap bagi komunitas sosio- kultural dan politis Indonesia.

Sikap Gus Dur yang demikian itu dilakukan untuk kebahagian bersama, tidak hanya mayaoritas belaka. Yang demikian sesuai dengan apa yang dikatakan Abdullah Darraz:

هي أسس العمران المرعية م كل ملة والتي لولا ها لم تجري مصالح الدنيا على استقامة ولفاتت النجاة في الاخرة

Ia adalah dasar-dasar pembangunan peradaban manusia pada semua agama, yang apabila tidak ada hal tersebut maka dunia tidak akan stabil dan tidak membawa kebahagian di akhirat

Pernyatataan tersebut ditulis Abu Ishaq asy Syathibi dalam karyanya al Muwaffaqat jilid I. Berdasarkan al Kulliyat al Khams tersebut,  Gus Dur benar-benar ingin memperjuangakn nilai-nilai kemanusian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagi Gus Dur lima hak dasar manusia tersbeut perlu dilindungi. Dari situlah mengalirlah gagasan-gagasan Gus Dur seperti pluraslisme, toleransi, demokrasi, hak asasi manusia, dan tema-tema kemanusiaan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here