Liberalisme Politik dan Ideologi Jabariyyah Bani Umayyah

0
1304

BincangSyariah.Com – Muawiyah bin Abi Sufyan merupakan sahabat Nabi yang memiliki kapabilitas politik yang cukup tangguh sehingga kerajaan yang didirikan dan dibangunnya dapat bertahan lama. Telah disebut dalam artikel Pemisahan Peranan Ulama dan Umara Pasca Khilafah Rasyidah mengenai kebijakan politik Muawiyah terutama soal kebebasan berpendapat dan berekspresi di negara yang ia bangun.

Muawiyah dalam hal ini menganut liberalisme politik yang membebaskan rakyatnya untuk mengkritik pemerintah sesukanya selagi kritikannya tidak menjurus ke arah penggunaan senjata untuk menyerang pemerintah. Muawiyah membiarkan kritikan-kritikan pedas yang ditujukan rakyatnya kepadanya, bahkan ia enggan meladeninya dengan serius.

Dalam pidato politiknya, disebutkan bahwa Muawiyah hanya akan memegang prinsip: ‘Aku tidak akan menghunuskan pedangku kepada orang yang tidak memiliki pedang’.

Ini artinya bahwa kritikan-kritikan yang disampaikan rakyatnya secara langsung terhadap dirinya akan diterimanya dengan legowo. Sebaliknya, Muawiyah juga tidak akan menyerang balik para lawan-lawan politiknya dengan memenjarakan, menyiksa, menahan dan lain-lain.

Tidak seperti raja-raja di Timur Tengah saat ini yang memenjarakan lawan-lawan politik yang mengkritik kebijakan-kebijakan mereka, di masa Muawiyah yang kemudian diikuti oleh raja-raja Bani Umayyah, sepedas apapun kritik yang disampaikan tetap dibebaskan selagi tidak disertai dengan mengangkat senjata.

Berangkat dari sini tentu yang menarik dalam kontrak politik yang ditawarkan Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap lawan-lawan politiknya setelah ia mengalahkan mereka dengan kekuatan pedangnya ialah soal liberalisme politik yang termanifestasikan ke dalam kebebasan berpendapat dan berekspresi di masanya.

Prinsip yang dijadikan pijakan bagi Muawiyah dan raja-raja Bani Umayyah setelahnya bisa diibaratkan dengan kata-kata: “Silahkan sampaikan kritik sebebas mungkin asalkan jangan sampai mengangkat senjata”. Begitu kira-kira kata-kata yang tepat mengartikulasikan sikap politik Bani Umayyah terhadap lawan-lawannya.

Baca Juga :  Menghafalkan Alquran atau Memperdalam Fikih, Mana yang Didahulukan?

Sebagai contoh, dalam kitab Uyun al-Akhbar, Ibnu Qutaibah ad-Dinawari mengetengahkan sebuah riwayat demikian:

أغلظ له رجل فحلم به: فقيل له: أتحلم عن هذا؟ قال: إني لا أحول بين الناس وبين ألسنتهم ما لم يحولوا بيننا وبين سلطاننا

“Pernah ada Arab Badui datang dan berkata-kata kasar kepada Muawiyah lalu Muawiyah pun menghadapinya dengan lemah lembut. Seorang pembesar kerajaannya keanehan melihat peristiwa ini lalu ia menanyakan kepada Muawiyah: Kenapa engkau bersikap lembut kepada orang Badui yang kasar ini? Muawiyah menjawab: Aku biarkan saja rakyatku mengkritikku selagi tidak  mengangkat senjata dan menghancurkan kekuasaanku.”

Melalui cerita ini, kita dapat mengetahui bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan menghadapi lawan-lawan politiknya dari Bani Hasyim dan kabilah-kabilah lainnya dengan lemah lembut. Bahkan Muawiyah mendengarkan kritikan-kritikan pedas  mereka secara seksama meski kritikan ini menjatuhkan wibawanya. Dan sebaliknya, ia malah memperlakukan kata-kata kasar yang keluar dari mulut mereka dengan penuh ketenangan. Lebih dari itu, Muawiyah memberikan banyak hadiah-hadiah/suaka-suaka politiknya (semacam uang dan sejenisnya) kepada mereka.

Muawiyah bahkan ingin selalu menjalin erat hubungannya dengan lawan-lawan politiknya dan tidak ada maksud sedikitpun untuk memutuskan silaturahimnya dengan mereka. Sya’rotu Muawiyah atau rambutnya Muawiyah sangat terkenal sekali dalam literatur-literatur Arab klasik bahkan sudah menjadi idiom tersendiri dalam bahasa Arab. Sya’rotu Muawiyah merupakan frasa idiomatik yang berarti ‘keinginan untuk selalu menjalin hubungan  baik dengan lawan dan kawan politik’.

Frasa idiomatik ini diambil dari ucapan Muawiyah sendiri yang terekam dalam berbagai literature kesejarahan Islam:

لا أضع سيفي حيث يكفيني سوطي ولا أضع سوطي حيث يكفيني لساني، ولو أن بيني وبين الناس شعرة ما انقطعت. قيل وكيف ذلك؟ قال: كنت إذا مدوها خليتها وإذا خلوها مددتها.

Baca Juga :  Pemisahan Peran Ulama dan Umara Pasca Khilafah Rasyidah

“Aku tidak akan menggunakan pedangku selagi cukup dengan pecutku. Aku tidak akan menggunakan pecutku selagi cukup dengan lisanku. Sekalipun hubunganku dengan lawan politikku hanya sehelai rambut, aku tidak akan pernah memutuskannya. Bagimana hal demikian bisa terjadi? Jika ada yang memusuhiku, aku akan tetap berbuat baik kepadanya dan jika ada yang ingin menjadi temanku, aku akan menghargainya.”

Riwayat-riwayat yang menceritakan ucapan, sikap dan perilaku politik Muawiyah sangatlah banyak sehingga tidak mungkin dapat diragukan kebenarannya. Dan memang di masa Bani Umayyah kebebasan berpikir, berpendapat dan berekspresi sangatlah terjamin. Sehingga di masa ini banyak sekali bermunculan narasi-narasi yang justru kontra terhadap Bani Umayyah sendiri, terutama narasi yang mempersoalkan legitimasi mereka menjadi penguasa. Narasi-narasi yang kontra ini menjadi bahan diskusi utama di kalangan ahli fikih, ahli hadis dan ahli kalam.

Dengan banyaknya narasi yang melawan dominasi Bani Umayyah ini, muncul pula reaksi dari Bani Umayyah sendiri dan para pendukungnya dengan menciptakan narasi tandingan.

Bani Umayyah dan para pendukungnya membangun legitimasi mereka di atas kekuatan dan kemenangan politik. Kekuatan dan kemenangan politik ini pada tahap selanjutnya dikaitkan dengan kehendak Allah dan ilmu azalinya sehingga pandangan ini memunculkan ideologi jabariyyah, ideologi yang melegitimasi kekuasaan mereka.

Namun dengan adanya liberalisme politik yang membebaskan lawan politik berbicara dan berpendapat, muncullah di masa ini narasi-narasi  tandingan terhadap ideologi Jabariyyah. Misalnya ideologi Qadariyyah yang pertama kali muncul di tangan punggawa Ahlu Sunnah bernama al-Hasan al-Bashri dalam kritiknya terhadap ideologi Jabariyyah Bani Umayyah (akan dijelaskan dalam kesempatan lain).

Pemberian suaka politik (sebut saja al-atha’ as-siyasi) dan kebebasan berpikir, berpendapat dan berekspresi di masa Bani Umayyah ini pada tahap selanjutnya telah menciptakan ruang politik baru dimana ketika rakyat melawan pemerintah tak mesti harus melalui perang secara fisik seperti di masa sebelumnya.

Baca Juga :  Buya Syafi'i Ma'arif jadi "Magnet" Keteladanan di Acara Forum Titik Temu

Di masa kerajaan Bani Umayyah, perang melawan pemerintah dapat dilakukan dengan kontra narasi, atau dengan kata-kata lain perang ide-ide, atau lebih tepatnya perang ideologi, ideologi Qadariyyah, Syiah, Khawarij melawan ideologi Jabariyyah Bani Umayyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here