Lebih Wajib Mana Sedekah Atau Memberikan Piutang ?

2
804

BincangSyariah.Com – Memberikan piutang atau menghutangi hukumnya sunah. Dalam kitab-kitab klasik, menghutangi (al-Iqraadh) didefinisikan memberikan kepemilikan sesuatu agar dapat dikembalikan dengan sesuatu yang sepadan.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari menjelaskan alasan disunahkannya memberikan piutang dalam karyanya yang berjudul Fathul Mu’in. Menurutnya, memberikan piutang disunahkan karena di dalamnya ada spirit memberikan pertolongan yang menghilangkan kesusahan (orang lain). Bahkan, Syekh Zainuddin menghukumi memberikan piutang itu sunah muakkad. Dasarnya, adalah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

مَنْ نَفَّسَ كُرْبَةٌ مِنْ كُرَابِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ مِنْ كُرْبَةٌ مِنْ كُرَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ  وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ اَخِيْهِ

Barangsiapa yang meringankan kesusahan dari beberapa kesusahan dunia, maka Allah meringankan kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat. Allah akan menolong Hambanya selama ia masih menolong saudaranya. (HR. Muslim).

Lalu, bagaimana bila kita mendapat pertanyaan, lebih baik mana sedekah atau memberikan piutang?

Dalam hal ini, Syekh Zainuddin pernah membahas ini pada Fathul Mu’in dengan kalimat sebagai berikut :

وَالصَّدَقَةُ اَفْضَلُ مِنْهُ خَلاَفًا  لِبَعْضِهِمْ

Sedekah lebih utama daripada memberikan piutang (menghutangi) berbeda halnya menurut sebagian ulama.

Jadi, dalam permasalahan ini, ada perbedaan pendapat antara ulama. Ada sebagian ulama, diantaranya Syekh Zainuddin al-Malibari yang berpendapat kalau sedekah lebih utama dari memberikan piutang. Sedang sebagian ulama yang lain berpendapat sebaliknya.

Syaikh Abu Bakr Utsman bin Muhammad Asy-Syattha Ad-Dimyathi memberikan catatan piggir (hasyiyah) dalam I’anatut Thalibin pada kalimat diatas. Beliau menjelaskan, bahwasanya alasan sedekah lebih utama karena tidak ada timbal balik dari sedekah dan karena hadits yang telah lalu.

Sedang sebagian Ulama’ yang berpendapat bahwasanya memberikan piutang lebih utama melandaskan pendapatnya pada Sunan Ibn Majah yang diriwayatkan dari sahabat Anas RA. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW. bersabda :

Baca Juga :  Menikahi Mantan Pelacur, Bolehkah?

لَقَدْ رَأَيْتُ مَكْتُوْبًا عَلَى بَابِ الجْنَّةِ – لَيْلَةَ أسري بِيْ – الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشْر.فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيْلُ مَا بَالَ القَرْض أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ ؟ قَالَ: لِاَنَّ السَّائِلَ قَدْ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ مَا يَكْفِيْهِ، وَالمُسْتَقْرِضُ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ. وَبِخَبَرِ الْبَيْهَقِيْ: قَرْضُ الشَّئِ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَتِهِ.

“sungguh aku telah melihat sesuatu yang ditulis di pintu surga pada malam Isra’, (pahala) sedekah itu sepuluh sepadannya, dan menghutangi itu depalan belas (padanannya). Kemudian aku (nabi) berkata, ‘Wahai Jibril, mengapa memberikan hutang itu lebih utama daripada sedekah’. Jibril berkata, ‘karena orang yang meminta terkadang meminta sesuatu (sedekah) sedang pada dirinya terdapat sesuatu yang mencukupinya. Sedang orang yang berhutang tidak akan meminta kecuali sekadar kebutuhannya.”

Dan karena hadits yang diriwayatkan Al-Baihaqi, “menghutangi sesuatu itu lebih baik dari pada mensedekahkannya.”

Lalu, bagaimana menaggapi dua hadits yang tampak bertentangan seperti ini. Dalam Ianatut Thalibin dijelaskan dengan kalimat sebagaimana berikut :

(فَإِن قيل) هَذَانِ الخَبَرَانِ يَعَارِضَانِ الْخَبَرُ الَذّيِ فِي الشِّرَاحِ – أعني من أقرض إلخ – فَكَيْفَ يُجْزِمُ الشَّارِحُ بِأَنَّ الصَّدَقَةَ أَفْضَلُ ؟ (أُجِيْبَ) بِأَنَّ الْخَبَرَ الَّذِيْ فِي الشَّرْحِ أَصَحُّ مِنْهُمَا، فَوَجَبَ تَقْدِيْمُهُ عِنْدَ التَّعَارُضِ.

 apabila ditanyakan terkait dua hadits ini bertentangan, maka bagaiman syarih (Syekh Zainuddin dalam fathul Mu’in-nya) menetapkan bahwasanya sedekah lebih utama ?. maka aku (syekh Abu Bakr) menjawab, bahwasanya hadits didalam syarah (fathul Mu’in) itu lebih shohih daripada keduanya. Maka wajib mendahulukannya ketika bertentangan.”

Kesimpulannya, meskipun ulama berbeda pendapat terkait lebih utamanya sedekah atau memberikan piutang (menghutangi) dengan dasar yang berbeda pula, akan tetapi Syekh Abu Bakr dalam I’nantut Thalibin menjelaskan bahwasanya hadits yang menjelaskan lebih utamanya sedekah itu lebih shohih, sehingga beliau menetapkan dan mengunggulkan pendapat dalam kitab fathul Mu’in bahwasanya sedekah itu lebih utama daripada memberikan piutang.

Baca Juga :  Hukum Mencuri Energi Listrik

2 KOMENTAR

  1. Bagaimana hukumnya jika pemberi hutang tidak menerima apa yg sudah dihutangkan kepada penerima hutang.

    Dan bagaimana hukumnya jika penerima hutang tidak punya niat untuk mengembalikan apa yg sudah di hutang dari pemberi hutang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here