Lebih Utama Menikah atau Menyendiri dengan Tujuan Ibadah? Ini Jawaban Imam al-Ghazali

0
22

BincangSyariah.Com – Imam al-Ghazali memang selalu mampu membahas setiap persoalan secara berimbang. Tidak condong ke satu sisi karena meninjau satu aspek saja, tetapi beliau mampu mengupas permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Di antaranya dalam membahas lebih utama menikah atau menyendiri. (Baca: Kata Imam Sufyan, Niat Menikah Jangan karena Harta dan Jabatan)

Misalnya, ketika membahas tentang menyendiri atau uzlah, beliau tidak hanya menyampaikan tentang pentingnya uzlah, tetapi juga menyampaikan tentang bahayanya. Di samping itu, beliau juga mengemukakan argumen tentang keutamaan bersaudara, berkawan, bermasyarakat, dan berkumpul bersama orang lain.

Itulah istimewanya Imam al-Ghazali. Justru dengan berimbangnya pembahasan, semakin mengukuhkan kedalaman ilmu dan kematangan sikap beliau. Begitu juga ketika membahas tentang pernikahan. Melalui kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, selain menyajikan uraian tentang faidah pernikahan, beliau juga mengungkap bahaya yang timbul dari pernikahan. Sehingga beliau tidak hanya memamerkan tentang faidah dari penikahan semata.

Karena beliau menyampaikan sisi positif dan negatif dari menikah, sehingga timbul sebuah pertanyaan, “Jika menikah memang dapat menimbulkan berbagai bahaya, kemudian manakah yang lebih utama antara memilih untuk menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga, atau memilih menyendiri dengan tujuan beribadah kepada Allah?

Terkait pertanyaan tersebut, jawaban beliau tegas, bahwasanya yang lebih utama ialah mengkompromikan di antara keduanya. Artinya, tetap menjalankan syariat untuk menikah dan berumah tangga, tanpa meninggalkan aktivitas peribadatan menyembah Allah Swt.

Karena jika pernikahan dipandang sebagai sebuah akad, maka pernikahan bukan menjadi hal yang dapat mencegah dari perilaku menyendiri untuk beribadah.

Akan tetapi jika ditinjau dari kesibukan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mungkin saja bisa menjadi penghambat.

Meski demikian, tetap perlu diperinci, karena pernikahan jelas menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.

Seseorang yang mampu bekerja mencari rezeki halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, maka menurut Imam al-Ghazali, menikah merupakan yang lebih utama baginya. Karena malam hari maupun sebagian waktu siang masih bisa ia gunakan untuk menyendiri dalam rangka bermunajat kepada Allah Swt.

Selain itu juga sepertinya hampir tidak mungkin, apabila seseorang dalam hidupnya terus-menerus menyendiri beribadah kepada Allah Swt., dan tanpa istirahat.

Pertanyaan selanjutnya, “Mengapa Nabi Isa memilih untuk tidak menikah jika memang terdapat banyak keutamaan di dalamnya? Atau jika memang yang lebih utama ialah menyendiri supaya bisa fokus beribadah kepada Allah Swt., mengapa Nabi Muhammad beristri banyak?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam al-Ghazali kembali menegaskan bahwa yang paling utama ialah mengkompromikah di antara keduanya, terutama bagi mereka yang mampu dan berkeinginan kuat untuk menikah. Sehingga tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya merasa sibuk, hingga menjauhkannya dari Allah Swt.

Berkenaan dengan Nabi Muhammad, kekuatan dan keimaman beliau ialah yang paling seimbang, sehingga beliau mampu mengumpulkan antara keutaman menikah dengan keutamaan ibadah yang lain.

Meski istri Rasulullah terbilang banyak, yakni sembilan orang, nyatanya tak sekali pun menjadi penghambat bagi beliau untuk bermunajat kepada Allah. Bahkan pernah suatu ketika Rasulullah menerima wahyu ketika beliau sedang berada di ranjang istri beliau.

Sedangkan berkenaan Nabi Isa yang memilih untuk tidak menikah, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa karena beliau lebih memilih menunggulkan kebijaksanaan ketimbang kemampuan, serta lebih memilih berhati-hati untuk dirinya sendiri.

Selain itu, Imam al-Ghazali juga mengajukan dugaan bahwa, keadaan Nabi Isa telah tersibukkan oleh cobaan dan tidak memiliki banyak waktu mengais rezeki. Sehingga tidak mudah bagi beliau untuk mengkompromikan antara menikah dan menyendiri untuk beribadah.

Baik penjelasan tentang Nabi Muhammad yang memilih menikah dan memiliki beberapa istri, maupun terkait Nabi Isa yang memilih tidak menikah demi menjaga hubungannya dengan Allah, tentu keduanyalah yang lebih mengetahui.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Isa, pasti menjadi hal terbaik sebagaimana petunjuk Allah Swt. Kemudian yang dilakukan Nabi Muhammad juga menjadi hal tebaik bagi beliau, serta pasti selaras dengan wahyu yang Allah turunkan kepada beliau. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here