Lebih Utama Mana, Membantu Kerabat yang Susah atau Naik Haji?

0
382

BincangSyariah.Com – Mana yang lebih utama? Apakah membayar ongkos naik haji atau membantu kerabat kita?

Haji memang diwajibkan bagi mereka yang telah mampu dan pahalanya pun sudah tidak diragukan lagi. Sebuah hadits bahkan menyebutkan bahwa seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji, ia seumpama bayi baru lahir yang bersih dari dosa. Hadits lain menyebutkan bahwa surga disiapkan bagi mereka para haji mabrur.

Di sisi lain, kita masih sering melihat saudara kita sesama muslim di lingkungan kita, bahkan masih kerabat kita yang membutuhkan bantuan finansial untuk membiayai penghidupan kita.

Untuk menjawab persoalan ini, al-‘Allamah Sayyid ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba ‘Alawi al-Hadhrami dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin menyebutkan,

[فائدة]: من شروط الاستطاعة كون المال فاضلاً عن مؤنة من عليه مؤنتهم، وشمل ذلك أهل الضرورات من المسلمين ولو من غير أقاربه، لما ذكروه في السير أن دفع ضرورات المسلمين بإطعام جائع وكسوة عار ونحوهما فرض على من ملك أكثر من كفاية سنة، وقد أهمل هذا غالب الناس حتى من ينتمي إلى الصلاح، ويحرم عليه السفر حتى يترك لممونه قوته مدة ذهابه وإيابه.

“(Faidah) Sebagian dari syarat “mampu berhaji” ialah keberadaan harta melebihi biaya yang dibutuhkan untuk nafkah keluarga yang ditinggalkan. Hal ini juga menyangkut juga pada kebutuhan primer bagi kaum muslimin meski mereka bukan kerabatnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama bahwa memberikan kebutuhan primer bagi kaum muslimin dalam bentuk memberi makan bagi mereka yang lapar, memberi sandang bagi mereka yang kedinginan, dan sebagainya merupakan kefardluan bagi orang yang berkelebihan di tahun tersebut. Hal ini sudah agak dilupakan oleh kebanyakan orang bahkan mereka yang dikenal saleh. Dan haram baginya bepergian kecuali ia memberikan kebutuhan yang cukup bagi mereka selama masa ia pergi-pulang”

Penjelasan dalam kitab Bughyah diatas menegaskan kepada kita bahwa lebih baik bagi kita untuk membantu sesama muslim bahkan yang bukan kerabat kita ketimbang pergi haji bila memang masih ada sebagian saudara muslim kita yang masih kekurangan dalam memenuhi kebutuhan primer mereka berupa pangan maupun sandang.

Baca Juga :  HAM Pasca Post-Modern dalam Perspektif Ke-Indonesiaan

Bahkan, menurut penjelasan kitab tersebut, haram hukumnya bagi kita memaksakan diri bepergian meskipun itu pergi haji jika memang masih kita dapati saudara sesama muslim kita yang masih kekurangan.

Keharaman tersebut bisa hilang jika kita tinggalkan bagi mereka kebutuhan yang bisa mencukupi mereka hingga kelak kita pulang nanti. Dan harus diingat juga dalam hal ini bahwa kebutuhan yang dimaksud hanyalah kebutuhan primer berupa pangan dan sandang saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here