Lebih Utama Mana, Kematian atau Kehidupan?

3
157

BincangSyariah.Com – Lebih utama mana, kematian atau kehidupan? Penjelasan ini sesungguhnya digali dari perbincangan yang digelar oleh al-Imam Muhammad bin Ahmad Abu Abdillah al-Qurthubi dalam tafsirnya, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an ketika menafsirkan ayat ke-2 dari surah al-Mulk,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُور

(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang amalnya paling baik amalnya. Sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Dalam pembicaraan tentang ayat ini, Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ada dua pembicaraan soal mengapa dalam ayat tersebut kematian disebut lebih dahulu dibandingkan dengan kehidupan. Dua pembicaraan tersebut adalah,

Pertama, maksud dari “menciptakan kematian dan kehidupan” adalah Allah menciptakan manusia untuk menemui kematian di dunia dan menemui kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Ada lagi argumen yang lain, bahwa kematian lebih dahulu dibandingkan kehidupan karena segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya dimulai dengan kematian. Contohnya manusia berasal dari sesuatu yang mati, yaitu sperma, tanah, dan sebagainya. Ada riwayat dari seorang tabi’in bernama Qatadah bin Di’amah as-Sadusi ad-Dimasyqi, katanya Rasulullah Saw. pernah bersabda,

إن الله تعالى أذل بني آدم بالموت ، وجعل الدنيا دار حياة ثم دار موت ، وجعل الآخرة دار جزاء ثم دار بقاء

sesungguhnya Allah menjadi Bani Adam sebagai makhluk yang hina (sebenarnya) dengan kematian. Allah menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan lalu menjadi tempat kematian bagi manusia, dan akhirat sebagai tempat dibalasnya (apa yang dilakukan di dunia) dan menjadi tempat yang kekal.

Dalam riwayat lain, Abu Ad-Darda’, salah seorang sahabat Nabi Saw. pernah menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda,

Baca Juga :  Sejak Lama Nabi Mencontohkan Toleransi, Ini Penjelasannya

لولا ثلاث ما طأطأ ابن آدم رأسه : الفقر والمرض والموت ، وإنه مع ذلك لوثاب

Kalau bukan karena tiga hal ini, seorang manusia (Ibn Adam) tidak akan menunduk-nunduk, yaitu kefakiran, sakit, dan kematian. Hal yang membuat manusia tertunduk itu bisa terjadi dengan sangat cepat (la wutsaab).

Argumen kedua menurut Imam al-Qurthubi, kenapa kematian didahulukan disebut dibandingkan dengan kematian, karena dengan menyadari adanya kematian yang kapan saja bisa datang, membuat seseorang benar-benar terdorong untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Sehingga, dengan argument ini, lebih sesuai dengan redaksi pada ayat sebelumnya, yang menyatakan bahwa Allah itu Maha Kuasa, termasuk mematikan salah satu manusia yang tidak sedikitpun mengurangi kuasa-Nya ketika melakukan itu.

Terakhir, ada satu penjelasan, menurut para ulama (tidak disebutkan oleh al-Qurthubi siapa secara detail), bahwa kematian sebenarnya bukanlah murni berarti ketiadaan. Lebih lanjut, kematian, menurut ulama, hanyalah keterpisahan antara jasad dan ruh, dan menjadi momen pemisah antara jasad dan ruh. Kematian membuat manusia berpindah dari satu dimensi ke dimensi yang lain. Sementara kehidupan (yang hakiki) kelak, adalah kehidupan yang terus berlanjut dan tidak ada perubahan dari satu dimensi satu ke dimensi lain.

Walhasil, lebih utama mana menurut para pembaca, kematian atau kehidupan ?

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here