Lebih Utama Mana Antara Berpuasa Ramadan Atau Berbuka bagi Musafir?

0
977

BincangSyariah.Com – Jumhur ulama fikih berpendapat bahwa batas minimal jarak yang membolehkan musafir tidak berpuasa (berbuka) di bulan Ramadan adalah 80 atau 90 kilometer. Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah berpendapat bahwa tidak ditemukan petunjuk Rasulullah saw. yang mengatur tentang jarak perjalanan. (Baca: Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat)

Artinya, tidak ada hadis sahih yang mengatur tentang batas minimal jarak perjalanan tersebut (Yusuf al-Qaradhawi, Taysir al-Fiqh fi Dhaw’i al-Qur’an wa as-Sunnah (Fiqh ash-Shiyam),1993: 55-56).

Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa dahulu Dihyah bin Khalifah al-Kalbi (salah satu sahabat Rasulullah saw.) pernah berbuka dalam perjalanan yang hanya berjarak tiga mil. Bahkan dia sempat menegur beberapa orang yang masih berpuasa seraya berkata: “sungguh kalian ini membenci petunjuk Rasulullah saw.”

Selain itu, Syekh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa para sahabat biasa berbuka ketika bepergian di bulan Ramadan tanpa memerhatikan jarak tempuh. Menurut mereka, perbuatan tersebut merupakan sunah dan petunjuk Rasulullah saw. (hlm. 55-56).

Adapun mengenai kapan musafir boleh berbuka dapat dipahami dari perbuatan Anas bin Malik (salah satu sahabat Rasulullah saw.). Muhammad bin Ka‘ab menyebutkan bahwa dahulu Anas bin Malik pernah berbuka di rumahnya sebelum berpergian di bulan Ramadan.

Ketika sudah selesai makan, maka dia langsung berangkat. Perbuatan ini, menurut Anas bin Malik, merupakan sunah (ajaran) Rasulullah saw. Menurut Imam at-Tirmidzi, cerita yang disampaikan oleh Muhammad bin Ka‘ab tersebut merupakan hadis hasan (hlm. 56).

Di sisi lain, para ulama fikih juga masih berbeda pendapat tentang lebih utama mana antara berpuasa atau berbuka bagi musafir di bulan Ramadan.

Pertama, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam asy-Syafi‘i berpendapat bahwa berpuasa lebih utama bagi musafir daripada berbuka. Dengan syarat apabila musafir tersebut mampu berpuasa meskipun dalam perjalanan dan puasa tersebut tidak memberikan kesukaran (masyaqqah) kepadanya.

Baca Juga :  Zikir Ketika Berkendara Melewati Jalanan Pegunungan

Hal ini karena dahulu Rasulullah saw. berpuasa ketika perjalanan di bulan Ramadan. Perbuatan Rasulullah saw. ini menandakan keutamaan berpuasa atas berbuka dalam perjalanan. Sebab, terkadang orang sering lalai untuk mengganti puasanya tersebut. Sehingga dia masih belum bisa melunasi utang puasanya meskipun ajal sudah menjelang (hlm. 57).

Kedua, Imam al-Auza‘i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ishaq berpendapat bahwa berbuka lebih utama bagi musafir daripada berpuasa. Hal ini karena mengamalkan rukhsah yang diberikan oleh Allah. Sebab, Allah senang apabila seorang Muslim mengamalkan rukhsah tersebut.

Sebagian riwayat hadis menyebutkan: “wajib bagi kalian mengamalkan rukhsah yang telah diberikan Allah kepada kalian.” Dalam hal ini, Hamzah al-Aslami berkata: “barangsiapa berbuka (ketika perjalanan), maka hal itu lebih baik; dan barangsiapa ingin tetap berpuasa, maka hal itu tidaklah berdosa (hlm. 58).”

Ketiga, Umar bin ‘Abdil Aziz, Mujahid, Qatadah, dan Ibn al-Mundzir berpendapat bahwa yang lebih utama di antara keduanya (berpuasa atau berbuka) adalah yang lebih ringan bagi si musafir. Artinya, kalau dia lebih ringan berpuasa meskipun dalam perjalanan, maka lebih utama berpuasa daripada berbuka. Sebaliknya, apabila dia lebih ringan berbuka, maka lebih utama berbuka daripada berpuasa (hlm. 58).

Keempat, sebagian ulama berpendapat bahwa antara berpuasa dan berbuka bagi musafir di bulan Ramadan adalah sama saja. Sehingga musafir boleh memilih di antara keduanya, baik berbuka maupun tetap berpuasa. Pendapat ini diduga dari Imam Abu Daud dan Imam al-Hakim (hlm. 58).

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi, pendapat yang paling unggul adalah pendapat Khalifah Umar bin ‘Abdil Aziz. Sebab, Rasulullah saw. memilih sesuatu yang lebih ringan dari dua perkara tertentu. Oleh karena itu, apabila si musafir bisa melaksanakan puasa dan akan kesulitan apabila mengganti(qadha’)nya nanti, maka dia lebih utama berpuasa.

Baca Juga :  Hukum Shalat Jumat bagi Musafir

Namun, apabila dia sukar untuk berpuasa (seperti melakukan perjalan darat dan sejenisnya) dan mudah untuk menggantinya nanti, maka dia lebih utama berbuka (hlm. 58). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here