Lebih Baik Salat Idulfitri di Masjid atau Lapangan?

0
819

BincangSyariah.Com – Pada hari raya Idulfitri/Adha, semua umat Islam, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak, disunahkan untuk melaksanakan salat Id berjamaah. Yang mana pelaksanaannya dilakukan di Masjidul Bilad (Masjid kota/desa) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Masjid Jami’. Namun jika Masjid tidak cukup maka bisa dipusatkan di satu tempat yang luas. Demikian penjelasan Imam Nawawi dalam kitabnya yang berjudul al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Berdasarkan hadis berikut

عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج يوم الفطر ويوم الأضحى إلى المصلى فيصلي بالناس

Dari Abu Sa’id al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah Saw. pada hari raya Idulfitri dan Adha ke lapangan, lalu salat bersama orang-orang (HR. An-Nasa’i)

Adapun kesunahan melaksanakan Salat Id di tempat luas seperti lapangan daripada di masjid yang sempit, karena pada hari raya jumlah umat Muslim yang melaksanakan Salat Id sangat banyak sehingga jika Salat Id didirikan di masjid yang sempit maka hal tersebut bisa menyakiti para jamaah dan dikhawatirkan bisa mengurangi kekhusyu’an salat sebab tempat salat Id tidak leluasa. Demikian keterangan yang disebutkan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini

قال الشافعي رضي الله عنه : فإن كان المسجد واسعا فصلى في الصحراء فلا بأس ، وإن كان ضيقا فصلى فيه ولم يخرج إلى الصحراء كرهت ; لأنه إذا ترك المسجد وصلى في الصحراء لم يكن عليهم ضرر ، وإذا ترك الصحراء وصلى في المسجد الضيق تأذوا بالزحام وربما فا بعضهم الصلاة فكره

Artinya; Imam Syafi’i berkata, “Jika Masjid luas dan shalat di lapangan tidak masalah. Tapi jika masjid sempit tapi Salat Id tetap didirikan di sana dan tidak di Lapangan, maka hukumnya makruh. Karena jika Salat di lapangan dan tidak di Masjid tidak berbahaya, tapi bila tidak salat di lapangan dan tetap salat Id di masjid yang sempit maka mereka (peserta salat Id) bisa tersakiti karena ramai dan mungkin sebagian dari mereka bisa tidak salat Id. Dan itu makruh.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Berupaya Khusyuk Dalam Shalat

Namun, lanjut Imam Nawawi, jika ada halangan seperti hujan, wabah penyakit, keadaan tidak aman, atau karena cuaca yang dingin maka salat Id di masjid lebih baik dan diutamakan sebagaimana dalam riwayat berikut

روى أبو هريرة رضي الله عنه قال : أصابنا مطر في يوم عيد فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد

Dari Abu Hurairah berkata, “Terjadi hujan di hari Id, maka Rasulullah Saw. dan kami mendirikan Salat Id di masjid.” (HR. Abu Dawud)

Namun pertanyaanya, jika tidak ada halangan dan Masjid Jami’ yang berada di kawasan tersebut luas, mana yang lebih baik? Salat Id di Masjid atau Lapangan?

Jika demikian, maka menurut Imam Nawawi ada dua pendapat:

Pertama, Menurut Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm bahwa Salat Id di masjid lebih baik. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh orang-orang Iraq dan Imam al-Baghawi. Sebab jika meninggalkan Salat Id di masjid sedangkan luas masjid tersebut memadai dan tetap lebih memilih salat di lapangan, hal tersebut menyalahi hal yang lebih utama, karena seharusnya masjid adalah tempat dimana salat didirikan. Namun melakukan yang demikian bukan hal yang makruh. Yang makruh adalah tetap salat Id di masjid yang sempit sedangkan tidak ada udzur yang menghalangi salat Id di lapangan, seperti hujan dan lain-lain.

Kedua, Salat Id di lapangan lebih baik dan lebih utama. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasul, sebab beliau Salat Id di lapangan. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh mayoritas orang-orang Khurasan.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here