Lebaran Anak Yatim adalah Hari Asyura, Adakah Dalilnya?

0
3065

BincangSyariah.Com – Pada prinsipnya, berbuat baik atau beramal saleh memang tidak terikat oleh hari atau tempat tertentu. Selama itu merupakan perbuatan yang baik bahkan ada dasarnya dalam agama, maka ia bisa dilakukan kapan saja, termasuk menyantuni anak yatim.

Ada banyak dalil yang menunjukkan keutamaan memperhatikan dan merawat anak yatim. Bahkan Nabi kita sendiri, Nabi Muhammad Saw. juga lahir dalam keadaan yatim bahkan belum beberapa lama ia menikmati alam di dunia, ibunya juga wafat. Padahal, waktu itu usia beliau masih enam tahun. Terkait dengan dalil, di antaranya adalah ayat Alquran surah al-Baqarah [2]: 177:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ}

Bukanlah sebuah kebaikan itu kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur ataupun barat. Tetapi kebaikan itu adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab (suci), dan para nabi. Serta, (kebaikan itu adalah) menyedekahkan harta yang dicintainya kepada kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, mereka yang berjalan di jalan Allah, mereka yang meminta-minta dan para hamba sahaya.

Dan (kebaikan itu adalah) mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta menunaikan janji yang ia buat. (Kebaikan itu juga adalah) menjadi orang sabar di saat kesulitan, ada marabahaya, serta …. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan mereka itulah orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177).

Dari ayat ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa di antara kebaikan yang disebutkan langsung oleh Allah Swt., adalah bersedekah kepada anak yatim. Memperhatikan anak yatim kalau begitu adalah salah satu syariat yang sangat ditekankan, sampai disebutkan dasarnya dalam Alquran.

Baca Juga :  Jika Terjadi Pertengkaran dalam Rumah Tangga, Lakukan Hal Ini

ٍSebagian orang menyebut kalau hari Asyura, hari kesepuluh di bulan Muharam adalah hari lebaran anak yatim. Alasannya adalah di hari itu dianjurkan untuk memberikan perhatian lebih dibandingkan hari-hari yang lain terhadap mereka. Nah, adakah dalil yang menjelaskan hal itu?

Riwayat

Pertanyaan ini berangkat dari sebuah riwayat yang menunjukkan adanya “momentum” Asyura sebagai hari memberikan perhatian lebih terhadap anak yatim. Riwayat tentang tersebut disebut-sebut sebagai hadis Nabi Saw., namun dicantumkan di antaranya dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya Abu Laits al-Samarqandi,

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Siapa yang berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharran, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat, pahala sepuluh ribu orang berhaji dan umrah, dan pahala seribu orang mati syahid. Dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya

Seperti yang disebutkan sebelumnya, hadis di atas tidak disebutkan secara langsung dalam kitab hadis, namun oleh kitab yang bisa dikatakan tipenya adalah kitab akhlak. Perspektif kualitas sanad memang menunjukkan kalau hadis ini bermasalah dari segi sanadnya. Riwayat dalam kitab Tanbih al-Ghafilin dihukumnya palsu karena ada rawi bernama Hamid bin Adam al-Marwazi yang mendapatkan tuduhan berdusta.

Selain itu, redaksi hadis di atas, mengutip ensiklopedia hadis (mawsu’ah al-hadith) yang dirilis oleh islamweb.net, bisa dikatakan seluruhnya bermasalah. Selain dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, ada beberapa kitab yang mencantumkan hadis ini. Kitab-kitab tersebut adalah Arba’u al-Majaalis karya al-Khatib al-Baghdadi, Fawaid al-Hadith karya Abu Dzar al-Harawi, Musnad al-Rabi’ ibn al-Habib, serta Fadhaail al-Awqaat karya al-Baihaqi.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Hadis yang Bertentangan dengan Al-Qur'an (1)

Selain itu, dari aspek konten (matan) hadisnya, kita segera mengetahui bahwa salah satu ciri sebuah hadis palsu adalah berlimpahnya ganjaran untuk amalan yang sangat sederhana. Meskipun, ciri ini tidak menjadi masalah jika kemudian hadis tersebut memang sahih sanadnya.

Meskipun demikian, para ulama tetap mencoba mengelaborasi apa sebenarnya maksud dari mengusap kepala anak yatim sehingga ia memiliki pahala yang besar di sisi Allah. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari, menyebutkan bahwa mengusap kepala anak yatim – meski tidak terikat hari Asyura saja – itu memang memiliki keutamaan.

Ia menyebutkan bahwa ada riwayat dari Abu Hurairah r.a. yang disebutkan oleh Imam Ahmad tentang ini. Riwayat tersebut berisi tentang seseorang yang mengadu kepada Rasulullah saw. soal sikapnya sendiri yang berhati keras. Rasulullah saw. lalu berkata:

أَطْعم المسكِيْنَ  وامسَحْ رَأسَ اليَتِيْمِ .

“Berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.

Sementara, kenapa mengusap kepala karena itu menjadi tanda penghormatan, kasih sayang, dan cinta kepada anak yatim. Demikian dikatakan oleh Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah.

Tinggal sekarang permasalahannya adalah bagaimana dengan redaksi hari Asyura tersebut? Nampaknya, kesimpulan adanya istilah “Lebaran anak yatim” tersebut lahir dari interpretasi atas redaksi hadis mengusap kepala anak yatim di hari Asyura itu.

Apalagi, jika benar mengutip dari kitab Tanbih al-Ghafilin, maka itu segera menjadi populer karena kitab tersebut sering diajarkan oleh para pemuka agama baik di pesantren maupun di masjid kepada masyarakat.

Selain itu, meski hadis tersebut bermasalah, namun Ibn al-Jauzi menyebutkan dalam kitab al-Mawaa’izh wa al-Majaalis, bahwa mengusap kepala anak yatim adalah adalah salah satu faidah hari Asyura. Artinya, ulama di masanya juga sudah mengamalkannya.

Baca Juga :  Kapan Waktu Pelaksanaan Puasa Asyura?

فَوَائِدُ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ  … اْلفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَمْسَحَ رَأْسَ الْيَتِيْمِ.

Faidah-faidah di hari asyura … faidah ketiga adalah mengusap kepala anak yatim.”

Kesimpulan

Berbuat baik bahkan menjamin kehidupan anak yatim sangat dianjurkan oleh agama, Itu adalah perbuatan amal saleh. Ganjarannya juga sangat besar dan ada banyak dalil baik dari Alquran maupun riwayat dari hadis yang menyebutkan hal itu. Dan, amalan saleh ini sebenarnya tidak terikat oleh waktu-waktu tertentu.

Namun, menjadikannya hari Asyura misalnya sebagai hari untuk lebih banyak berbuat baik kepada anak yatim, bukan juga tradisi yang buruk.

Asalkan, tidak hanya menyempitkan makna berbuat baik hanya di hari Asyura, dan meyakini bahwa di hari lain tidak lebih baik dari hari Asyura. Artinya, hari Asyura bisa dijadikan momentum pengingat pentingnya beramal saleh. Demikian semoga bermanfaat dan wallahu a’lam.

Selengkapnya dapat dibaca disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here