Latihan Menghilangkan Sepuluh Sifat Hewani dalam Diri Manusia Saat Puasa Ramadhan

0
752

BincangSyariah.Com – Sifat dasar hewan yang ada pada diri manusia adalah makan, minum dan memenuhi nafsu syahwat. Jika seseorang tujuan  hidupnya hanya hal di atas maka secara ruhani jiwanya telah menjadi hewan, walaupun wujud zahirnya adalah manusia.

Wujud batiniah manusia berasal dari tingkah laku (akhlak), jika jiwa manusia tidak dididik dan dibersihkan maka sifat-sifat binatang dalam dirinya menjadi dominan dan tidak terkendali.

Jiwa binatang pada manusia sangat banyak sekali, tergantung manusianya, mau dikembangkan dan subur sifat-sifat binatang tersebut, atau dikikis habis dan dibersihkan dari jiwa kita. Adapun sifat-sifat tersebut antara lain:

 

  1. Nafsu Kalbiyah: Sifat Anjing, yaitu jiwa sifatnya yang suka memonopoli sendiri, suka menilai dan menghina orang lain.

 

  1. Nafsu Himariyah: Jiwa Keledai, yaitu jiwa yang sanggup memikul beban apapun namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Itulah simbol kebodohan dalam diri manusia.

 

  1. Nafsu Sabu’iyah: Jiwa Srigala, yaitu jiwa yang sifatnya suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apa pun.

 

  1. Nafsu fa’riyah: Jiwa Tikus, yaitu jiwa yang sifatnya merusak, menilep, menggerogoti dan korupsi.

 

  1. Nafsu Dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi. Jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking, yaitu jiwa yang sifatnya suka menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan semacamnya.

 

  1. Nafsu Khinziriyah: Jiwa Babi, yaitu jiwa yang sifatnya cenderung  berbuat dosa dan maksiat, memakan dan meminum yang haram dan najis. Itulah perbuatan yang secara bathin sangat menjijikkan dan najis.

 

  1. Nafsu Thusiyah: Jiwa Burung merak,  yaitu jiwa yang sifatnya suka menyombongkan diri, suka pamer, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.

 

  1. Nafsu Jamaliyah: Jiwa Onta yaitu jiwa yang mempunyai sifat tidak mempunyai sopan santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tidak peduli dengan kesusahan orang lain, yang penting dirinya selamat dan untung.
Baca Juga :  Kata Nabi, Pengadu Domba Tak Masuk Surga

 

  1. Nafsu Dubbiyah: Jiwa Beruang, yaitu jiwa yang sifatnya biarpun kuat dan gagah, tapi akalnya dungu.

 

  1. Nafsu Qirdiyah: Jiwa monyet  yaitu jiwa yang sifatnya suka  mengejek,  mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng orang lain.

Ternyata dalam jiwa kita adalah kebun bintang  yang besar isinya penuh dengan aneka hewan. Jika kita membiarkan sifat-sifat Hewani dalam diri kita, maka derajat kita secara bathin adalah hewan.

Jika sampai mati kita tidak bertaubat dan membersihkan jiwa, maka setelah meninggal dunia, wujud kita menjadi hewan  sebagaimana sifat hewan yang paling menonjol di dalam Jiwa kita.

Dalam Agama Islam hal di atas disebut dengan maskhun yaitu perubahan wujud manusia kewujud yang lebih jelek. Sedangkan menurut agama Hindu dan Buddha disebut dengan reinkarnasi.

Dari Abu Malik al-Asy’arه Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِـي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْـرِ اسْمِهَا، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ، يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ.

‘Sungguh sekelompok manusia dari umatku akan meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya, alat musik dimainkan di atas kepala-kepala mereka, Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi.’”[ HR. Ibnu Majjah ]

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللّهِ مَن لَّعَنَهُ اللّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلَـئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ عَن سَوَاء السَّبِيلِ

“Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi  dan (orang yang) menyembah thaghut ?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” [ QS. Al-Maidah 60 ]

Baca Juga :  Bolehkah Membayar Fidyah dengan Uang?

Dengan puasa Ramadhan kita melatih diri dalam siang hari untuk menahan makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri. Untuk melatih dan mengendalikan jiwa agar manusia hidupnya tidak seperti hewan.

Apalagi jika melaksanakan puasanya baik dari segi dhohir dan bathin, disertai banyak berzikir kepada Allah, banyak membaca Al-Qur’an, dianjurkan banyak bersodaqoh. Menjauhi dosa dan maksiat dalam satu bulan penuh maka akan menghasilkan pencerahan jiwa inilah yang disebut lailatul qadar.

Jika puasanya seperti di atas, maka semua sifat-sifat hewani dalam diri kita akan luntur, sehingga wujud kita baik dari zahir dan batin adalah manusia sepenuhnya. Dalam satu bulan penuh dididik dalam madrasah ruhani bulan Ramadhan  maka diharapkan nilai-nilai Ramadhan tetap tertanam dalam jiwa kita.

Sayang sekali kebanyakan manusia berpuasa tidak sungguh-sungguh lahir dan batin, jadi siang hari kita menjadi manusia malam hari menjadi hewan yang liar lagi. Pada bulan Ramadhan menjadi manusia setelah Idulfitri menjadi hewan yang sangat buas sekali. Semoga kita benar-benar menjadi manusia seutuhnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here