Larangan Pernikahan Sepersukuan di Minangkabau dalam Perspektif Hukum Islam

5
8068

BincangSyariah.Com – Pandangan masyarakat tentang berseberangannya hukum adat di Minangkabau dengan hukum Islam bukanlah hal baru dalam sejarah perkembangan Minangkabau. Pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan miring terhadap adat Minangkabau adalah hal yang tidak asing lagi. Bahkan, beberapa masyarakat Minangkabau sendiri pun tidak bisa menjawab, menjelaskan dan memberi pengertian kepada masyarakat.

Hal ini karena kurangnya pencerahan dari pemangku-pemangku adat ataupun ulama kepada masyarakat tentang adat-adat yang ada di Minangkabau, sehingga muncullah persoalan-persoalan yang dibuat-buat oleh mereka yang tidak paham agama, juga tidak mengerti adat. Bahkan dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Di antara persoalan yang sering jadi pertanyaan masyarakat adalah larangan pernikahan sepersukuan di Minangkabau. Sepintas, opini masyarakat yang memandang adanya pertentangan antara adat Minangkabau dengan Hukum Islam ini tidak bisa disalahkan. Falsafah hidup orang Minang adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang bermakna ‘adat didasari oleh syariat agama Islam yang didasari Alquran dan Hadis’.

Artinya, adat yang berlaku di nagari Minangkabau adalah didasari ketentuan hukum Islam. Adat Minangkabau melarang masyarakatnya menikah dengan orang yang sepersukuan. Padahal,  hukum Islam tidak mengatur larangan pernikahan satu suku.

Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar ketika ada persepsi pertentangan adat Minangkabau dengan hukum Islam. Namun bila ingin mengetahi secara jelas, tentu perlu dikaji lebih dalam mengenai bagaimana sebenarnya ketentuan larangan tersebut dalam adat Minangkabau serta alasannya? Lalu bagaimana pula ketentuan adat ini dalam perspektif hukum Islam?

Larangan Pernikahan Satu Suku di Minangkabau

Sebelum membahas dan mengkaji pernikahan satu suku, hal pertama yang harus dibahas adalah maksud dari “satu suku” itu sendiri. Satu suku artinya semua keturunan dari nenek ke bawah yang dihitung menurut garis ibu. Semua keturunan nenek ini disebut sepersukuan atau sasuku. Kelompok sepersukuan ini dikepalai oleh seorang penghulu suku. (Amir M.S., Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001), hlm. 62.)

Dasar kehidupan orang Minang adalah hidup berkelompok, bukan individual. Pembentukan kelompok diatur sesuai ketentuan garis ibu, yang lazim disebut dengan sistem kekerabatan Matrilineal. Begitupun dalam mengelompokkan suku. Untuk pengkategorian cinta satu suku di Minangkabau, ada lima kategori sebagai berikut ini.

Baca Juga :  Ingin Belajar Bahasa Inggris di Pare, Kunjungi Mother Language English School

Pertama, Sasuku-saparuik. Artinya, seorang lelaki dan perempuan adalah sepersukuan dan bertalian darah langsung yang berasal dari satu nenek, buyut dan seterusnya ke atas. Pernikahan dalam kategori ini dilarang dalam adat Minangkabau, dan bila ada yang melanggar, maka hukumannya sangatlah berat, yaitu diusir dari kampung dan tak mempunyai hak atas kaum dan nagarinya.

Karena ini adalah hubungan yang masih dalam satu keluarga besar. Jika pernikahan sasuku-saparuik dibiarkan terjadi, akan merusak susunan hubungan kekeluargaan dalam suku tersebut. Jika mempunyai anak, maka anaknya sendiri adalah kemenakannya, mamak rumahnya adalah dunsanaknya. Dan jika terdapat perselisihan antara keduanya dikhawatirkan akan merusak hubungan satu suku atau keluarga besar.

Kedua, Sasuku-sapayuang. Kondisi ini adalah ketika seorang lelaki dan perempuan yang sepersukuan  berasal dari nenek yang berbeda namun masih satu Datuk (penghulu kaum). Kondisi ini masih dibilang berat dan hukumannya sama dengan pernikahan sasuku-saparuik. Akan tetapi di beberapa nagari ada yang memberi toleransi namun tetap dengan membebankan denda yang terbilang berat.

Ketiga, Sasuku-sakampuang. Pada kondisi ini, seorang lelaki dan perempuan memiliki satu suku yang sama namun tidak satu datuak, hanya satu kampuang. Hukuman untuk pernikahan ini sama halnya dengan kedua kondisi di atas. Di beberapa nagari menghukum tak boleh kembali ke nagari, di beberapa nagari ada juga yang menjatuhkan sanksi berupa denda.

Keempat, Sasuku-sanagari. Memiliki suku yang sama, namun tidak satu nenek, tidak satu Datuk, dan tidak satu kampung, hanya satu nagari (setingkat kelurahan). Umumnya hukuman untu kondisi ini adalah sama dengan poin tiga.

Kelima, Sasuku-sajo. Kondisi ini adalah yang paling ringan dimana hanya nama suku saja yang sam, sementara nagari, kampung dan lainnya sudah berbeda. Umumnya kondisi seperti ini diperbolehkan untuk menikah, meskipun akan mendapatkan pertentangan.

Dari penjelasan di atas kita bisa lihat bahwa larangan menikah satu suku di Minangkabau adalah karena satu suku dianggap sebagai kerabat. Ketentuan adat Minang yang melarang pernikahan sepersukuan ini disebut Eksogami Matrilineal. (Amir M.S., Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, hlm. 156.) 

Baca Juga :  Lafal Ijab dan Qabul Akad Nikah Berbahasa Arab

Analisa Hukum Islam tentang Pernikahan Satu Suku

Pernikahan merupakan sesuatu yang disyariatkan, dan sudah ada pedomannya yang telah diijtihadkan para ahli fikih. Ada ketentuan tentang memilih calon pasangan yang dianjurkan, ada syarat-syarat yang harus terdapat pada calon istri, dan ada juga ketentuan tentang siapa saja yang haram dinikahi. Setelah dilihat, tidak ada ketentuan tentang hukum menikah sepersukuan. Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, larangan pernikahan sepersukuan ini adalah karena hubungan kekerabatan. Dan persoalan ini telah dibahas para ulama dalam literatur fikih, mengenai panduan (anjuran) memilih pasangan, yang salah satu panduan tersebut adalah; menikah dengan yang bukan kerabat.

Panduang yang dibuat ulama ini berdasarkan atsar:

لا تنكحوا القرابة القريبة، فإن الولد يخلق ضاويا

Jangan nikahi kerabat, karena nantinya anaka akan terlahir lemah

Secara jelas atsar ini mengatakan bahwa siapa yang menikah dengan kerabat, nantinya akan melahirkan anak yang kurus dan lemah. Juga, pernikahan dengan kerabat ini bertentangan dengan salah satu maksud pernikahan (maqashidu al-nikah) yang bertujuan menyambung tali kekeluargaan, maka menikah dengan yang bukan kerabat adalah lebih utama, sebagaimana dinaskan oleh Imam Al-Syafi’i.

Anjuran ini tidak sampai kepada hukum haram dan larangan, namun hanya berupa anjuran. Contohnya saja pernikahan Nabi Muhammad SAW. dengan Zainab anak pamannya serta pernikahan Ali dengan Fatimah yang menggambarkan kebolehan menikahi kerabat. (Lihat: Muhammad Al-Zuhaili, Al-Mu’tamadu fi Al-Fiqhi Al-Syafii, (Damaskus: Daru al-Qalam, 2011), juz 4, hlm. 23)

Dari sisi ilmu kesehatan, menikah dengan kerabat bukan tak memiliki resiko. dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD, ahli genetika Molekuler, peneliti dan pengajar di Universiti Sains Malaysia mengatakan, dalam ilmu genetik, pernikahan dengan sesama kerabat sampai sejah sepupu disebut dengan consanguineous marriage. Penelitian-penelitian secara populasiobal menunjukkan bahwa anak-anak hasil perkawinan sedarah memiliki resiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu, sebagaimana publikasi Detik.com

Berdasarkan penjelasan di atas, pernikahan dengan kerabat dapat menimbulkan efek negatif kepada keturunan. Lalu bagaimanakah status kebijakan pemuka adat Minangkabau dahulu yang menetapkan ketidakbolehan menikahi kerabat menurut perspektif Islam?

Baca Juga :  Hukum Memperbaharui Nikah dalam Islam

Ketentuan yang diputuskan oleh pemuka adat dahulu bukan ketentuan yang tak berdasar. Karena sesuai falsafah hidup di Minangkabau; adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Kesepakatan para pemuka adat dahulu tentu diputuskan melalui proses musyawarah yang membutuhkan waktu tidak sebentar, dan karena mereka juga ahli dalam agama, ijtihad adalah sesuatu yang musti dilakukan sebelum menemukan kata sepakat terhadap ketentuan ini.

Setelah mengetahui efek negatif yang ditimbulkan dari pernikahan dengan kerabat tadi, penulis melihat keselarasan keputusan pemuka adat dengan agama, yang memikirkan sisi kemashlahatan. Karena berdasarkan kaidah fikih yang dikatakan Izzuddin ibn Abdi Al-Salaam:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghindari bahaya lebih baik daripada mengambil kebaikan.

Dalam kasus pernikahan sepersukuan, yang terkena efek negatifnya adalah keturunan, yaitu akan bertubuh lemah. Sementara keturunan mesti dijaga, sebagaimana ulama Ushul Fiqh telah membagi maslahat kepada tiga tingkatan; dharuriy (primer), haajiy (sekunder), dan tahsiniy (tersier).

Maslahat dharuriy mencakup lima hal: menjaga agama; menjaga jiwa; menjaga akal; menjaga keturunan; dan menjaga harta. Maslahat dharuriy adalah kemaslahatan yang mesti diwujudkan, bila tidak, akan menimbulkan mafsadat di kehidupan dunia dan akhirat. Menjaga keturunan berada pada tingkatan ke-empat dari kemaslahatan yang bersifat dharuriy. Artinya, menjaga keturunan adalah hal yang mesti dilakukan demi kemaslahatan di dunia maupun di akhirat.

Maka bahasan ini berakhir pada kesimpulan: larangan pernikahan sepersukuan di Minangkabau tidak bertentangan dengan syariat. Karena yang dianggap bertentangan dengan agama itu adalah ketika agama melarang namun adat membolehkan. Sementara dalam kasus ini agama tidak melarang, dan adat-dengan memandang sisi kemaslahatan masyarakat-menetapkan larangan pernikahan sepersukuan.

Larangan di sini pun tidak bersifat mutlak. Terlihat dari sanksi yang diberikan yang mengacu kepada penghormatan kepada adat, karena pernikahan sepersukuan yang telah terjadi tidak sampai harus dipisahkan. Seandainya larangan ini bersifat mutlak, tentu pasangan suami-istri harus dipisahkan sebagaimana halnya fasakh dalam hukum Islam. Wallahualam

5 KOMENTAR

  1. ini pendapat mahasiswa bukannya pendapat ulama. mohon maaf nggak bisa jadi pegangan. website ini bernama “bincangsyariah” tapi narasumbernya dari orang2 yang awam dengan syariah. harusnya pembahasan yang berhak menjawab adalah alim ulama bukan hasil skripsi anak2

  2. Awam dari syariah? Bagaimana Anda tahu bahwa penulisnya awam? Memang mahasiswa tidak boleh membincangkan syariah?

  3. Dri artikel ini 1 hal yg sya simpulkan,,ttang gris kturunan,ad penegasan di artikel trsebut bahwa org yg kawin sasuku akan mndapatkan keturan yg tdak smpurna,,bnyak org”yg tdak kwin sasuku anak” yg tdak normal jga,,bahkan mreka dri org”tua yg sngat sehat,,itu sma sja klian yg mnulis artikel ini mndahului kekuasaan allah,,kita tak prnah tau jodoh sseorg krna allah yg mnentukan dan mnetapkan hati seorg mnusia,lantas knpa mereka yg mnikah ssuku hrus di kucilkan,di usir,,mreka punya hak,,sdangkan agama hnya meralang org yg mnikah sedarah dan sepasusuan,sesuku blum tentu sedarah bukan,!! Ini tdak adil..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here