Larangan Menjual Barang di Bawah Standar

0
1112

BincangSyariah.Com – Dalam masalah Ta’sir (pematokan harga), ulama berbeda pendapat pada dua hukum. Menurut Malik, hal itu dilarang. Beliau berargumentasi dengan hadis dalam al-Muwatha’ dari Yunus Ibn Saif, dari Sa’id Ibn Musayyib. Disebutkan di sana bahwa Umar Ibn Khathab berpapasan dengan Hathib Ibn Abi Baltha’ah. Hathib saat itu menjual anggur kering. Umar berkata kepadanya, “Kau tambah harganya, atau (kalau tidak) kau tinggalkan saja pasar kami.”

Imam Malik berpendapat bahwa jika ada seorang lelaki ingin merusak pasar dan menjual dengan harga di bawah harga umum, dan hal itu tentu merugikan pedagang lain maka layak dikatakan kepadanya, ‘Kau jual dengan harga umum, atau (kalua tidak) kau tinggalkan saja pasar kami.’

Ibn Rusyd dalam kitab al-Bayan mengatakan, “Tiada yang menyanggah bahwa harga barang yang dijual oleh pedagang tidak ditetapkan oleh pihak lain. Hanya saja, bila ada pedagang yang menjual dagangannya di bawah harga umum, maka dia layak untuk diberi pilihan apakah hendak menjual dengan harga umum di pasaran, atau kalau tidak dia diperbolehkan meninggalkan pasar.

Asy-Syafi’i menolak pendapat ini dengan argumentasi hadis yang diriwayatkannya dari ad-Darawardi, dari Daud Ibn Shalih at-Tammar, dari al-Qasim Ibn Muhammad, dari Umar Ibn Khattab. Diceritakan bahwa Umar berpapasan dengan Hatib Ibn Abi Baltha’ah di pasar al-Mushalla. Kala Itu Hathib membawa dua wadah berisi anggur kering, kemudian Umar menanyakan harga anggur kering itu. Hathib mengatakan, “Per dua mud harganya satu dirham” Umar kemudian mengatakan pada Hathib, “Aku diberi tahu satu rombongan dari Thaif. Mereka membawa dagangan anggur kering, mereka tertarik dengan harga yang kau tawarkan. Kau harus menaikkan hargamu. Jika kau tak mau, masukkan saja anggur keringmu ke dalam rumahmu, dan jual anggurmu dengan harga sesukamu.” Setelah pergi, Umar merenungkan apa yang baru saja dikatakannya pada Hathib, kemudian ia menemui Hathib di rumahnya. Dia berkata, “Apa yang baru saja kukatakan padamu bukanlah keputusanku. Itu kukatakan demi kebaikan penduduk  kota ini. Jual daganganmu sesukamu. Jual daganganmu bagaimanapun cara yang kau suka.”

Baca Juga :  Sebaiknya Ari-ari Bayi Dibuang atau Dikubur? Ini Pendapat Ulama

Imam asy-Syafi’i mengomentari pendapat ini dengan mengatakan bahwa hadis ini adalah mustafidh, tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hanya saja imam Malik meriwayatkan sebagian hadits, atau perawi lain meriwayatkan dari Imam Malik, dan perawi ini menyebutkan awal dan akhir hadis, dan riwayat inilah yang dipilih karena semua manusia pada asalnya diberi kuasa terhadap harta miliknya.

Abu al-Wali al-Baji berkata dengan dasar pendapat Imam Malik. Katanya “Yang diperintahkan kepada pedagang yang menurunkan harga adalah menaikkan harga dagangannya dengan harga yang biasa diterapkan oleh orang-orang pada umumnya. Jika ada satu pedagang atau sejumlah kecil pedagang menentukan harga lain, maka dia dipaksa untuk menerapkan harga yang berlaku umum. Jika tidak mau, maka dia dilarang berjualan. Jika ada satu pedagang atau sejumlah kecil pedagang menaikkan harga, maka pedagang-pedagang lain tidak boleh dpaksa untuk mengikuti harga yang ditetapkan oleh pedagang itu karena yang dipertimbangkan adalah harga umum dan harga umum itulah yang dijadikan patokan.” Wallahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here