Larangan Eutanasia dalam Hukum Islam

0
15

BincangSyariah.Com – Eutanasia sedang hangat diperbincangkan di seluruh dunia. Pasalnya, beberapa negara berbondong-bondong mengizinkan tindakan medis tersebut. Lantas, bagaimana penjelasan tentang larangan eutanasia dalam hukum Islam?

Eutanasia akan menjadi pilihan apabila seseorang yang sedang sakit parah merasa sudah tidak sanggup hidup lagi. Si sakit lalu memohon agar dokter mengakhiri hayatnya. Eutanasia adalah tindakan medis untuk mewujudkan permohonan tersebut sebab harapan untuk bisa sembuh sangat kecil.

Ahmad Watik Pratiknya dan Abdul Salam M. Sofro menyatakan bahwa apabila harapan sembuh sangat rendah bahkan hampir nol, maka kita bisa melakukan eutanasia. Saat ini, eutanasia belum diterima di Indonesia. Ada banyak negara lain di belahan dunia yang juga belum menerimanya.

Eutanasia bertujuan untuk meringankan penderitaan si pasien yang telah mengalami penyakit akut atau kronis dan sudah tipis harapan bahkan taka da harapan untuk sembuh. Maka, eutanasia menjadi pilihan tepat untuk meringankan beban keluarga pasien, terutama yang berasal dari kalangan ekonomi lemah.

Di Indonesia sendiri, ada Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor 434/Men. Kes./SK/X/1983 yang disebutkan pada Pasal 10 bahwa setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani.

Ahmad Haris dalam Hukum Islam: Antara Teks, Moral dan Akal (Jurnal Mazahib, Vol. IV No. 1 2007) mencatat bahwa Maruarar Siahaan, seorang Hakim Konstitusi, berpendapat bahwa akan lebih baik jika penjelasan masalah tersebut dituntaskan setelah ada kasusnya. Sebab, dari kasus itulah kemudian paramedis bisa mengetahui cara yang benar dan hasil yang ingin di capai.

Dalam Pasal 344 KUHP juga sudah ditentukan bahwa barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sunguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Laa Ilaaha Illaa Allah

Lantaran ada pasal ini, maka seorang dokter di Indonesia bisa dituntut oleh penegak hukum jika terbukti melakukan eutanasia. Meskipun, tindakan yang dilakukan atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan. Sebab, perbuatan tersebut termasuk ke dalam perbuatan melawan hukum.

Ada beberapa tokoh Islam Indonesia yang menentang keras eutanasia. Sebagai misal, ada K.H. Hasan Basri yang menyatakan bahwa pelaksanaan eutanasia bertentangan dengan agama, undang-undang, bahkan kode etik kedokteran.

Ia juga menjelaskan bahwa persoalan hidup mati sepenuhnya hanya hak Allah Swt. Manusia tidak bisa begitu saja mengambil hak Allah Swt. tersebut. Kekuasaan mutlak dari Tuhan Yang Esa segala sesuatu yang diciptakan-Nya dan penderitaan yang dibebankan kepada makhluk-Nya mengandung makna dan maksud tertentu.

Selanjutnya, K.H. Syukron Makmun menyatakan pendapat tentang eutanasia dalam hukum Islam. Ia berpendapat bahwa kematian adalah urusan Allah Swt. Manusia tidak mengetahui kapan kematian menimpa dirinya. Tentang sakit, menderita, dan tidak kunjung sembuh adalah bagian dari qudratullah.

Eutanasia dibagi menjadi dua jenis. Pertama, eutanasia aktif yang berarti tindakan mengakhiri hidup manusia pada saat yang bersangkutan masih menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan. Dalam jenis yang ini, Islam mengharamkannya.

Kedua, eutanasia pasif. Berdasarkan keputusan para ahli, baik dari kalangan kedokteran, ahli hukum pidana, atau para ulama sepakat membolehkannya, namun mesti disertai dengan alasan yang sangat kuat. Apabila ada harapan sembuh, sebaiknya jangan dilakukan. (Baca: Mengapa Ada Perbedaan Pendapat dalam Hukum Islam?)

Ajaran dalam agama Islam menekankan bahwa yang berhak menentukan kematian seorang manusia hanyalah Allah Swt., Tuhan Semesta Alam. Maka, tugas manusia hanya berikhtiar saat menjalani hidup di dunia.

Maka, eutanasia dalam hukum Islam sejatinya tidak boleh dilakukan sebab mengakhiri hidup adalah salah satu tindakan yang menentang kuasa Allah Swt. Takdir-Nya adalah pasti. Usaha manusia-lah yang akan menentukan bagaimana nanti.

Baca Juga :  Mengapa Ada Perbedaan Pendapat dalam Hukum Islam?

Di Indonesia, seorang dokter yang melakukan eutanasia bisa dituntut ke pengadilan lantaran tuduhan membunuh. Tuduhan tersebut masih bisa ditindaklanjuti meskipun tindakan eutanasia yang dilakukan atas permintaan pasien.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here