Landasan Keagamaan Tentang Membatasi Usia Minimal Pernikahan

0
26

BincangSyariah.Com – Dalam Al-Quran, bisa dipastikan tidak ditemukan ayat yang secara tegas menyebutkan batasan usia minimal pernikahan. pernikahan hampir tidak ditemukan ayat menyinggung tentang batasan usia nikah. Padahal, di Indonesia, dengan mendasarkan pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang pernikahan dari hasil revisi UU 1 tahun 1974 yang melahirkan UU 16 tahun 2019, batas usia minimal pernikahan baik laki-laki maupun wanita sama-sama 19 tahun. Tingkat umur tersebut disebut berdasarkan pandangan di usia tersebut jiwa raganya telah matang dan siap ntuk dapat mengarungi kehidupan rumah tangga. Tentu harapannya agar semakin meminimalisir berakhirnya pernikahan dan mengarap agar terwujud generasi yang sehat dan berkualitas.

Lalu, apa landasan keagamaan yang kira-kira digunakan Kompilasi Hukum Islam dalam menetapkan usia 19 tahun sebagai batasan usia minimal pernikahan ?

Dalam Al-Quran, yang ada hanya ayat yang berkaitan dengan kelayakan seseorang untuk menikah. Yaitu dalam surah An-Nur [24]: 32,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya dan Allah maha luas (pemberianNya) lagi maha mengetahui.”

Menurut Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa ayat tersebut merupakan perintah untuk menikah bagi mereka yang mampu. Kemudian, al-Maraghi menafsirkan frasa wa as-ṣōliḥīn dalam ayat tersebut maknanya adalah para lelaki atau perempuan yang mampu untuk menikah dan menjalankan hak-hak suami istri, seperti berbadan sehat, mempunyai harta dan lain-lain. M. Quraish Shihab menafsirkan frasa menafsiri frasa wa as-ṣōliḥīn sebagai seseorang yang mampu secara mental dan spiritual untuk membina rumah tangga, dan bukan berarti hanya yang taat beragama. Pasalnya dalam menjalani perkawinan memerlukan persiapan bukan hanya materi, tetapi juga persiapan mental maupun spiritual, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Pembicaraan mengenai batasan usia perkawinan baru dapat ditemukan dalam kitab-kitab fikih. Misalnya, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū (j. 9 h. 6688), menyebutkan bahwa usia pernikahan untuk laki-laki adalah 18 tahun dan perempuan adalah 17 tahun. Ia mendasarin

Sedangkan dalam kitab turats kontemporer ada penjelasan mengenai batasan usia pernikahan hal itu bisa dilihat dalam kitab al-fiqh al-islami wa adillatuhu, syeikh wahbah zuhaili dalam kitab tersebut menyebutkan bahwa usia pernikahan untuk laki-laki 18 tahun dan untuk perempuan 17 tahun. Ia mendasarinya pada UU Keluarga di Suriah (pasal 2 ayat 46) tentang batasan usia dewasa,

1 – يشترط في أهلية الزواج العقل والبلوغ.

سن البلوغ: كذلك أخذ القانون السوري بما يخالف رأي جمهور الفقهاء في تحديد سن البلوغ، ففي الأحوال المدنية أو الشؤون المالية نص القانون المدني (م 2/ 46) على أهلية الشخص الطبيعي، وهي بلوغ سن الثامنة عشرة، للذكر والأنثى على السواء عملاً بمبدأ الاستصلاح. ونص المادة هو

:1 – كل شخص بلغ سن الرشد متمتعاً بقواه العقلية، ولم يحجر عليه، يكون كامل الأهلية لمباشرة حقوقه المدنية.

2 – وسن الرشد: هي ثماني عشرة سنة ميلادية كاملة. أما في الأحوال الشخصية أو الزواج: فقد نص قانون الأحوال الشخصية على أن أهلية الفتى ثمانية عشر عاماً، والفتاة سبعة عشر عاماً. وذلك في المادة (16) وهي:

تكمل أهلية الزوج في الفتى بتمام الثامنة عشرة، وفي الفتاة بتمام السابعة عشرة من العمر.

“Disyaratkan dalam kelayakan untuk menikah ialah berakal dan baligh. Usia baligh sebagaimana yang tertera dalam undang-undang negara syuriah yang itu membedai kepada pendapat jumhur ulama’ fiqh dalam batasan usia baligh, maka dalam hukum perdata dan urusan-urusan yang bersifat harta, undang-undang menetapkan kelayakan seseorang sesuai dengan kebiasaannya bahwa usia baligh ialah 18 tahun baik untuk laki dan perempuan berdasarkan dimulainya sifat layak bagi seseorang. Dan undang-undang menetapkan: 1. Setiap orang yang mencapai usia rusyd (cakap) bisa mengambil manfaat dengan kuatnya akal dan dia tidak termahjur (tercegah untuk melakukan sesuatu), maka ia dikatakan layak untuk bertransaksi beberapa hak yang bersifat personal, 2. Usia rusyd (cakap) ialah 18 tahun sempurna, sedangkan di dalam hukum purusa (personal statute) atau pernikahan, undang-undang menetapkan bahwa usia layak bagi seorang laki-laki ialah 18 tahun dan untuk perempuan 17 tahun. Hal itu dalam pasal 16 yang berisi sempurnanya kelayakan menikah bagi laki-laki ialah 18 tahun dan untuk perempuan 17 tahun.”

Tentu batasan usia pernikahan dalam setiap negara berbeda, sesuai dengan landasan mereka masing-masing karena memang dalam syariat tidak membatasi secara khusus. Ini seperti dikatakan dalam kaidah fikih yang disebutkan oleh Imam As-Suyuthi dalam al-Asybāh wa an-Naẓōir (h. 98),

الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ: كُلُّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ مُطْلَقًا بِلَا ضَابِطٍ لَهُ مِنْهُ وَلَا مِنْ اللُّغَةِ يُرْجَعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ

“Pembahasan yang kelima: setiap perkara yang datang dari syariat secara mutlak (umum) tidak batasan di dalam dan tidak pula dibatasi dalam segi bahasa, maka perkara tersebut dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan).”

Sehingga, bisa dikatakan UU atau KHI tentang batasan minimal umur pernikahan didasari pada kemaslahatan umum yaitu kemaslahatan rakyat. Dan, penetapan ini juga memiliki landasannya dalam kaidah fikih, sepertikan Imam As-Suyuthi katakan,

الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ: تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ. هَذِهِ الْقَاعِدَةُ نَصَّ عَلَيْهَا الشَّافِعِيُّ وَقَالَ ” مَنْزِلَةَ الْإِمَامِ مِنْ الرَّعِيَّةِ مَنْزِلَة الْوَلِيِّ مِنْ الْيَتِيم

“Kaidah yang kelima: keputusan imam terhadap rakyat berlandaskan dengan kemaslahatan. Kaidah ini sebagaimana yang ditetapkan imam syafi’i, ia berkata: kedudukan imam kepada rakyatnya sama kedudukannya dengan wali kepada anak yatim.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here