Istilah Kurang Piknik; Buat Kamu yang Mudah Menyalahkan Orang Lain, Ini Kata Al-Ghazali

0
789

BincangSyariah.Com – Kata safar dalam Bahasa Arab sepadan dengan safari atau perjalanan dalam bahasa kita. Dengan makna yang diperluas, ia dinilai sebagai salah satu laku untuk beroleh wawasan, inspirasi, pengalaman, atau pengetahuan. Bisa maklum, bila belakangan orang yang berpikiran kaku, gampang menyalahkan pihak yang tak sependapat, kerap digojlok dengan kata-kata kurang piknik, ngopinya kurang jauh, dan seterusnya. Benarkah menempuh perjalanan dapat meluaskan cakrawala pemikiran? Lalu bagaimana dengan mereka yang enggan bepergian? Berikut akan dipaparkan secara ringkas pandangan Al-Ghazali seputar safar atau perjalanan. Ia menulis, dalam Ihya ‘Ulum al-Din, Juz II, h. 244,

إن السفر وسيلة إلى الخلاص عن مهروب عنه أو الوصول إلى مطلوب ومرغوب فيه

“Sesungguhnya perjalanan adalah media untuk terbebas dari sesuatu yang tak disuka, atau media untuk sampai pada sesuatu yang ingin dicapai dan disenangi.”

Semisal, suatu daerah tengah ditimpa bencana atau wabah, secara naluri masyarakatnya akan terdorong untuk mengungsi ke  tempat yang lebih aman. Contoh lain, ketika seorang ingin mendalami disiplin ilmu tertentu, sementara lingkungan tempat tinggalnya kurang kondusif, ia akan termotivasi untuk merantau, mencari tempat belajar yang representatif demi mewujudkan cita-citanya. Penting pula diingat bahwa perjalanan mencakup dua hal, bergerak (harakah) dan bergumul (mukhalathah). Al-Ghazali menyebut,

أن السفر نوع حركة ومخالطة

 “Perjalanan adalah semacam bergerak dan bergumul.”

Dengan bergerak dari suatu tempat ke tempat yang baru, otomatis akan terjadi pergumulan dengan hal-hal ataupun orang-orang baru. Pergumulan fisik inilah yang secara bertahap akan mengisi perbendaharaan pengalaman dan pengetahuan sang musafir. Sebaliknya, orang yang enggan menempuh perjalanan akan menjadi seperti katak dalam tempurung. Mengutip Al-Ghazali,

Baca Juga :  Hukum Membaca Alquran dengan Suara Keras

فإن الواقف على الحالة التي نشأ عليها عقيب الولادة الجامد على ما تلقفه بالتقليد من الآباء والأجداد لازم درجة القصور وقانع بمرتبة النقص ومستبدل بمتسع فضاء جنة عرضها السماوات والأرض ظلمة السجن وضيق الحبس

Sesungguhnya orang yang mandek pada suatu kondisi di mana ia hidup setelah dilahirkan, nan bersikukuh atas apa yang diperoleh dengan mengekor pada pendahulunya, ialah orang yang lazim menerima derajat keterbatasan, juga legowo atas kecacatan martabatnya. Dan ia telah mendekonstruksi luasnya surga yang terbentang sejagad raya menjadi gelap dan pengapnya penjara.”

Barangkali untuk konteks revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi dan serba-internet (internet of things), makna safar sebagai media mencapai suatu tujuan agaknya tidak lagi terbatas pada safar fisik belaka. Sebab teknologi secara signifikan telah meruntuhkan sekat-sekat geografis.

Saat ini, kita dapat mengetahui kondisi terkini di China tanpa harus datang langsung. Tetapi cukup dengan mengakses informasi yang tersedia internet dari tempat di mana kita berada. Dengan demikian, mestinya juga tiada alasan untuk tidak ‘piknik.’ Persoalannya sekarang, bagaimana mendayagunakan kemudahan-kemudahan tersebut secara efektif. Wa Allah a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here