Kunci Sederhana dalam Menjalin Kerukunan Bersama Tetangga

0
26

BincangSyariah.Com – Hidup berbaur di tengah-tengah masyarakat adalah sunnatullah yang tidak bisa kita tolak. Karena manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk sosial, yang  memiliki ketergantungan dan keterikatan satu sama lainnya. Sudah seharusnya kita menjalin kerukunan bersama tetangga atau masyarakat sekitar.

Di pedesaan, termasuk di Madura, kita hidup bertetangga memang dengan saudara atau kerabat sendiri sehingga jarang terjadi konflik yang memicu permusuhan. Karena ada ikatan darah, orang tua, dan tokoh yang bakal menengahi setiap perselisihan sehingga bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Iya, terkadang ada juga konflik yang terjadi antar mereka. Bahkan bisa lebih parah dari konflik yang terjadi dengan tetangga bukan kerabat.

Adapun dalam kehidupan masyarakat perkotaan, lebih-lebih perumahan,  yang kebanyakan mereka adalah pendatang dan tidak saling mengenal sebelum satu kompleks atau satu RT, sehingga ketika terjadi konflik tidak jarang yang berakhir di “meja hijau” pengadilan.

Namun, secara umum dalam kehidupan bertetangga pasti akan ada yang namanya geseken sosial. Baik yang sengaja dibuat-buat atau tanpa kesengajaan. Entah itu di pedesaan atau perkotaan. Bila tidak disikapi dengan bijak dan sabar, kebanyakan berujung permusuhan. Lebih-lebih dalam berinteraksi dengan tetangga yang satu halaman rumah (Madura:Taneyan Lanjheng). Wajib sopan dan hati-hati dalam bertindak dan berucap.

Ketika kita mampu menjaga lisan dan tindakan, maka tetangga akan merasa aman dan tenang. Ketika tetangga sudah merasa aman dari ucapan dan tindakan kita, maka kita adalah muslim sejati. Artinya muslim sejati adalah orang yang menghormati tetangganya dengan cara tidak menyakiti mereka. Baik sakit yang ditimbulkan dari ucapan atau perbuatan.

Rasulullah Saw. bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Baca Juga :  Diundang Resepsi Pernikahan, Apa Hukumnya Meneruskan Puasa Sunnah?

Muslim sejati adalah ketika orang islam yang lain (terutama tetangga) merasa aman dari ucapan dan tindakannya. (HR. Bukhori)

Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, lebih baik kita mengalah demi menjaga kokohnya ikatan persaudaraan dengan tetangga. Karena mengalah saat terjadi konflik termasuk sebagian penghormatan pada tetangga.

Penghormatan pada tetangga menjadi salah satu tolak ukur kesempurnaan iman seseorang. Artinya ketika mampu menghormati tetangga, imannya bisa dikatakan sempurna. Sebaliknya, ketika sering mengusik kehidupan tetangga, pertanda imannya masih “abal-abal”, tidak bersertifikat. Jadi, menghormati tetangga adalah kewajiban ainiyah manusia.

Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad Saw.

ومن كان يؤمن با لله واليوم الاخر فليكرم جاره

Dan barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah Swt. dan Hari Kiamat, maka hendaklah menghormati tetangganya. (HR. Bukhori Muslim: Hadits Arbain Linnawawi)

Artinya, ketika kita benar-benar mengaku beriman kepada Allah Swt. dan hari kiamat, maka hormatilah tetangga sehormat-hormatnya. Bahkan jadikan tetangga adalah seperti orang tua atau saudara kandung sendiri sehingga kita akan menaruh sikap ta’dzim pada mereka.

Selain penghormatan dalam bentuk mengalah saat terjadi konflik, mengundang tetangga saat mengadakan acara merupakan bagian hal tersebut. Artinya, dalam acara sekecil apapun, bila harus mengundang orang lain, maka jangan lewatkan tetangga terdekat. Bila undangan terbatas, maka batasilah pada tetangga dekat. Lebih baik tidak mengundang saudara yang jauh daripada tetangga rumah.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya kembali pada dua hadis di atas. Karena ketika kita melupakan tetangga di saat ada hajatan, kemungkinan mereka akan sakit hati. Bila tetangga sakit hati, berarti sudah berbuat kezaliman pada mereka.

Lagi pula ketika kita ditimpa musibah, misal kebakaran, tetanggalah yang membawa ember pertama kali. Juga, misal kita kemalingan, tetanggalah yang bawa pentungan pertama kali. Bukan saudara yang ada di seberang. Bila ada anggota keluarga meninggal, tetangga terdekat yang datang pertama kali menghibur dan membesarkan hati kita. Pun mereka yang pertama kali ikut membantu tajhiz jenazahnya.

Baca Juga :  Ulama yang Penting Buat di-"stalking" di Media Sosial

Oleh karena itu, ketika ada hajatan, dan harus memilih antara mengundang antara tetangga atau saudara yang jauh, maka dahulukanlah tetangga. Karena betapa berdosanya kita ketika masak enak-enak, tetangga hanya dapat bagian aroma dan bising sound syistem-nya. Lebih-lebih bila sampai membuat riuh tangis anak-anak tetangga yang tak berdosa.

Selain yang di atas, bentuk penghormatan pada tetangga  adalah tidak mencampuri urusan pribadi atau internal keluarga mereka. Jangan sok jadi “superhero” bila tidak diminta oleh tetangga, karena hanya dapat menimbulkan ketersinggungan pada mereka, sehingga bukan meringankan, tapi bikin tambah runyam saja.

Selain semua yang dipaparkan, masih banyak bentuk-bentuk perhormatan sederhana yang lain pada tetangga.

Simpulan akhir, hidup berdampingan dengan tetangga terkadang ada sesuatu yang dapat menimbulkan percikan api pertengkaran. Ketika tidak mengedepankan jiwa “santuy; tenang” dan sabar, maka hanya akan membuat pertengkeran semakin membesar sehingga dapat menghanguskan bangunan yang bernama “Rukun Tetangga”.

Adapun salah satu kunci agar terhindar dari perselisihan adalah saling mengalah ketika ada masalah. Mencari benar atau menang sendiri hanya akan melahirkan berang dan perang. Tentunya hal ini harus dimulai dari diri masing-masing. Pupuk terus sifat sabar dan pemaaf dalam hati sehingga tumbuh jiwa “muthmainnah” yang pada akhirnya membuahkan rasa kedamaian dan keharmonisan bersama tetangga.

Ingat, bila tetangga dibuat resah atas ucapan dan tindakan kita, maka tandanya islam kita masih belum sempurna. Juga, bila kita tidak mampu menghormati tetangga dengan baik, maka iman kita perlu “disertifikasi”. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here