Kunci Membaca Minhajut Thalibin Karya Imam an-Nawawi

0
1424

BincangSyariah.Com – Minhajut Thalibin menjadi salah satu kitab yang wajib dibaca oleh para pengkaji mazhab Syafi’i. Kitab ini ditulis oleh Imam an-Nawawi, seorang Mujtahid bil Mazhab asy-Syafii yang fatwanya menjadi acuan pengikut mazhab ini.

Minhajut Thalibin merupakan ringkasan (mukhtashar) dari al-Muharrar karya Imam ar-Rafi’i. Imam ar-Rafi’i sendiri merupakan tokoh penting di kalangan pengikut mazhab Syafi’i. Bersama Imam an-Nawawi ia dinobatkan sebagai syaikh. Sehingga jika ada penyebutan kata asy-Syaikhani dalam literatur fikih Syafi’i maka yang dimaksud adalah Imam an-Nawawi dan ar-Rafi’i.

Menyandang kitab penting di kalangan Mazhab Syafi’i menjadikan Minhajut Thalibin banyak dilirik oleh ulama setelahnya. Banyak dari mereka yang menuliskan syarah, mukhtashar, ataupun nazam dari kitab ini.

Ahmad Maiqary Syumailah al-Ahdal dalam kitabnya yang berjudul Sulam al-Muta’allim al-Muhtaj ila Ma’rifah Rumuz al-Minhaj, mengatakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 20 kitab yang memberi syarah atas Minhajut Thalibin. Dari 20 tersebut terdapat beberapa kitab yang popular dan menjadi bahan bacaan di kalangan pesantren. Di antaranya Kanzur Raghibin karya Mahally, Tuhfatul Muhtaj karya al-Haitami, Nihayatul Muhtaj karya ar-Ramli, dan dengan Mughnil Muhtaj karya asy-Syarbini.

Selain syarah, kitab Minhajut Thalibin juga diringkas oleh ulama-ulama  setelahnya seperti Abu Hayyan al-Andalusy dengan judul Al-Wahhaj dan Zakariyya al-Anshori dengan judul Manhajut Thullab. Untuk yang terakhir ini kemudian disyarahi lagi oleh orang yang sama dengan judul Fathul Wahhab.

Sebagaimana diungkapkan oleh penulisnya, Minhajut Thalibin memiliki beberapa kelebihan. Imam an-Nawawi tidak hanya meringkas, tetapi juga menampilkan permasalahan-permasalahan penting yang tidak dicantumkan di kitab asal (al-Muharrar).

Di beberapa tema ia juga menjelaskan pendapat-pendapat pilihan (mukhtar) dalam mazhab Syafi’i, yang dalam kitab asalnya hanya menampilkan pendapat sebaliknya.
Dari segi bahasa, Imam an-Nawawi memandang adanya beberapa redaksi di kitab al-Muharrar yang asing (gharib) dan multi interpretasi. Karenanya, ia mengganti redaksi-redaksi tersebut dengan bahasa yang jelas dan ringkas, sehingga dapat dicerna dengan mudah oleh pembaca.

Baca Juga :  Lima Unsur Dasar Dalam Hadis

Sebagai kitab yang ditulis pada abad ke-7 hijriyah, Minhajut Thalibin tergolong kuat dari sisi metodologi. Dalam pengantarnya, Imam an-Nawawi telah menuliskan metode yang dipakai dalam kitab tersebut secara gamblang. Hanya saja, pembaca harus mengernyitkan dahi ketika berjumpa dengan banyaknya istilah-istilah fikih Syafi’i di sana. Oleh karena itu, disarankan untuk memahami istilah-istilah tersebut terlebih dahulu.

Imam an-Nawawi, dalam kitab ini, mengutip pendapat-pendapat dengan sangat detail. Ia teliti dalam membedakan pendapat Syafi’i dan pengikut Mazhab Syafi’i. Pendapat-pendapat tersebut dituturkannya secara manthiqi dengan kata-kata kunci yang cukup banyak. Berikut kami jelaskan:

Al-Adzhar dan al-Masyhur

Sebagaimana kita ketahui, dalam permasalahan tertentu terkadang terdapat dua atau lebih pendapat Imam Syafi’i yang berbeda. Ada kalanya dua pendapat tersebut dari qaul qadim, atau qaul jadid, atau qaul qadim dan qaul jadid. Dalam hal ini, ketika Imam an-Nawawi mengatakan al-adzhar maka yang dimaksud adalah pendapat yang paling kuat dari pendapat-pendapat lain yang sama-sama kuat. Sedangkan bila ia mengatakan al-masyhur maka yang dimaksud adalah pendapat yang kuat dari pendapat-pendapat lain yang tidak kuat.

Al-ashahh dan al-shahih

Dalam mazhab Syafi’i juga terdapat dua atau lebih pendapat pengikut Syafi’i yang berbeda dalam permasalahan tertentu, yang diistilahkan dengan al-wujuh. Pendapat tersebut merupakan hasil ijtihad mereka dengan menggunakan metode yang dipakai Imam Syafi’i. Dalam hal ini, ketika Imam an-Nawawi mengatakan al-asahh maka yang dimaksud adalah pendapat paling kuat dari pendapat-pendapat lain yang sama-sama kuat. Sedangkan ketika dikatakan al-shahih maka yang dimaksud adalah pendapat yang kuat dari pendapat-pendapat lain yang lemah.

Al-mazhab

Kita tahu bahwa pendapat-pendapat Imam Syafi’i menyebar melalui periwayatan murid-muridnya. Terkadang satu sama lain terdapat dua atau lebih perbedaan periwayatan dalam masalah yang sama, yang dikenal dengan thuruq. Dalam hal ini, ketika Imam an-Nawawi mengatakan al-mazhab maka yang dimaksud adalah periwayatan yang paling kuat dari periwayatan-periwayatan yang lain.
Selain itu, Imam an-Nawawi juga sering menggunakan istilah an-nash. Ketika demikian maka yang dimaksud adalah pendapat Imam Syafi’i sendiri, yang mengindikasikan adanya pendapat pengikut mazhab yang berseberangan. Atau adanya pendapat pengikut Imam Syafi’i yang di-takhrij terhadap pendapat Imam Syafi’i. Takhrij adalah menganalogikan hukum baru terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i karena adanya keserupaan.

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (3): Kepemilikan Harta dan Pemanfaatannya

Untuk menginformasikan dua pendapat yang berbeda Imam an-Nawawi tidak menyebutkan keduanya. Ia cukup menyebutkan satu pendapat sebagai kebalikan dari pendapat yang tak tersebut. Semisal, ketika ia menyebutkan sebuah hukum lalu dikatakan bahwa hal itu adalah qaul jadid, maka hukum kebalikannya yang tak tersebut adalah qaul qadim.

Dalam banyak permasalahan Imam an-Nawawi juga memperlihatkan kapasitas keilmuannya. Ia menuliskan pendapat pribadinya dengan cara yang santun. Ia mulai dengan kata qultu dan diakhiri dengan kata wallahu a’lam. Dalam hal ini ia sesekali berbeda pendapat dengan apa yang ada di kitab al-Muharrar. Tentu hal itu dilakukan setelah penelitian matang. Demikianlah apa yang ditulis oleh Imam an-Nawawi dalam kata pengantarnya. Pijakan-pijakan metodologis tersebut telah ia sematkan sebelum memulai menulis kitabnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here