Kultum Quraish Shihab: Melaksanakan Shalat Tarawih di Masa Pandemi

0
523

BincangSyariah.Com – Pada acara Shihab & Shihab kali ini, Abi M. Quraish Shihab ditanya oleh Najwa Shihab tentang bagaimana melaksanakan shalat tarawih di Masa Pandemi. Kak Nana bertanya agar kita tetap dapat melaksanakan shalat tarawih dengan baik meskipun di rumah, dan kita tidak lagi menyesalkan mengapa tarawih tidak bisa seperti tahun-tahun sebelumnya, dilaksanakan di masjid mengingat kondisi saat ini tidak memungkikan ?

Abi Quraish Shihab memulai penjelasannya dengan memberikan pemahaman apa sebenarnya makna Tarawih itu. Yang perlu diketahui, istilah shalat Tarawih itu belum ada pada masa Nabi, tapi baru muncul pada masa sahabat Nabi Saw., tetapnya di masa Umar bin Khattab. Di Masa Nabi, shalat yang dilaksanakan setelah shalat isya’ hingga waktu subuh disebut secara umum sebagai Qiyam al-Layl  (bangun malam), dan itu tidak hanya di bulan Ramadan tapi di semua malam.

Kemudian, pada masa Sahabat Nabi Saw., baru mulai ada pelaksanaan shalat malam secara bersama-sama di masjid saat bulan Ramadan. Dan, shalat secara bersama-sama itu, di masa sahabat waktunya sangat panjang. Karena melelahkan itu, mereka setiap selesai salam, baik 2 rakaat atau 4 rakaat, beristirahat terlebih dahulu. Dari istirahat yang berulang-ulang diantara shalat malam tersebut muncullah istilah tarwiih, yang artinya istirahat.

« Jadi, yang ingin saya garisbawahi disini adalah, jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tarawih, maka shalatlah yang panjang-panjang seperti di zaman sahabat Nabi Saw. sehingga di tiap salamnya membutuhkan istirahat. Atau, Tarawihlah seperti di masa Nabi Saw. dimana beliau shalat hanya tiga hari di masjid dan sisanya di rumah. Selain itu, di masa sekarang, ada juga orang-orang yang shalat dengan cepat, sehingga mungkin kalau menggunakan istilah Tarawih itu sudah tidak sama.

Baca Juga :  Jangan Mencela Ayam Jantan !, Ini Keutamaannya Menurut Nabi

Jadi sebenarnya ada banyak alternatif, anda bisa memilih. Satu hal lagi, salah satu kebiasaan Nabi Saw. itu kalau dihadapkan oleh dua pilihan yang dua-duanya sama-sama boleh dilakukan, beliau memilih yang paling mudah. Nah sekarang, jadi pilih di mana ? Tarawih di Masjid atau di Rumah ? Apalagi sekarang, justru kita ada pilihan yang jelas ketika kondisi tarawih di masjid potensi bahayanya bisa lebih tinggi. Semua pilihan yang ada itu direstui oleh agama.

Kalau kita mau lebih jauh lagi melihat ajaran agama ini, ada hadis yang disahihkan oleh sementara ulama, bahwa siapa yang melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah shalat isya’, nilainya sudah sama dengan malam. Jadi, kita perlu merisaukan – apalagi dalam kondisi sekarang – terus merasa gundah « Aduh saya tidak bisa lagi nih tarawih di masjid » Padahal Nabi sendiri pernah bersabda,

ليبلغ درجة الصائم القائم بحسن خلقه

Seseorang bisa memperoleh kedudukan orang yang banyak berpuasa dan shalat (padahal ia tidak melakukannya itu dengan banyak), dengan akhlak yang baik (H.R. Abu Dawud dan Ahmad)

Jadi jangan terpaku dengan satu bentuk kesunahan. Berakhlaklah yang baik, kita bisa memperoleh derajat orang yang banyak shalat dan puasa. Abi Quraish Shihab lalu berujar, “saya tidak mengerti nih, mengapa masyarakat kita menganggap shalat Tarawih itu wajib sekali dan seakan-akan wajibnya harus dilakukan di masjid. Padahal agama memberi banyak alternatif, dan Nabi sendiri yang mencontohkan!”

“Saya mau bercerita sedikit, menyambung pertanyaan tentang bagaimana ada perbedaan antara tarawih 8 rakaat dan 20 rakaat. Dulu di Mesir, pernah terjadi satu konflik di satu masjid. Ada yang bersikeras melaksanakan tarawih sebanyak 8 rakaat, yang kelompok lain 20 rakaat. Dua-duanya tidak ada yang bisa memutuskan. Lalu datanglah ulama besar, Hasan al-Banna, melihat hal tersebut. Kata beliau, ‘kalian tidak bisa memutuskan perselisihan ini?” Mereka menjawab, “tidak. Jadi keputusannya apa wahai Imam?” Hasan al-Banna menjawab, “tutup masjid ini ! karena persatuan itu wajib sementara melaksanakan tarawih itu sunnah.” Jadi ini mau saya tekankan, jangan sampai mendahulukan hal yang dalam hal ini derajat pentingnya lebih rendah dibandingkan yang lebih penting, dalam hal ini menjaga keselamatan masyarakat. Itulah agama !”

Baca Juga :  Inilah Doa Favorit Nabi Muhammad SAW

Diolah dari pemahaman penulis terhadap pemaparan beliau dalam acara berikut ini, 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here