Menggunakan Kuas dari Bulu Babi, Apakah Boleh?

1
720

BincangSyariah.Com – Sempat viral di media sosial mengenai kuas yang terbuat dari bulu babi. Sebenarnya, bagaimana hukum menggunakan kuas yang terbuat dari bulu babi, apakah boleh? (Baca: Hukum Memakai Sepatu yang Terbuat dari Kulit Babi)

Meski semua ulama sepakat mengenai keharaman mengonsumsi daging babi, namun mereka berbeda pendapat mengenai hukum bulu babi. Menurut ulama Syafiiyah, bulu babi hukumnya adalah najis. Karena itu, bulu babi tidak boleh dibuat kuas atau lainnya. Dan jika ada kuas yang terbuat dari bulu babi, maka tidak boleh menggunakannya.

Menurut ulama Syafiiyah, keharaman dan kenajisan babi bukan hanya sebatas pada dagingnya, melainkan semua yang melekat pada babi, mulai dari bulunya, giginya, dan lainnya, semuanya dihukumi haram dan najis. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Nukat wa Al-‘Uyun berikut;

أَنَّ التَّحْرِيمَ عَامٌّ فِي جُمْلَةِ الْخِنْزِيرِ وَالنَّصُّ عَلَى اللَّحْمِ تَنْبِيهٌ عَلَى جَمِيعِهِ لِأَنَّهُ مُعْظَمُهُ ، وَهَذَا قَوْلُ الْجُمْهُورِ

Keharaman babi itu umum mencakup semua organ tubuh babi. Sedangkan nash yang hanya menyebutkan sebatas dagingnya itu dimaksudkan untuk mengingatkan keseluruhan bagian organnya karena sebagian besar organ tubuh babi adalah dagingnya. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

Sementara menurut sebagian ulama, seperti Imam Abu Hanifah, dan lainnya, mengatakan bahwa bulu babi hukumnya suci. Karena itu, bulu babi boleh digunakan untuk kuas dan lainnya. Ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Fatawa Al-Kubra berikut;

والقول الراجح هو طهارة الشعور كلها : الكلب والخنزير ، وغيرهما بخلاف الريق ، وعلى هذا فإذا كان شعر الكلب رطبا ، وأصاب ثوب الإنسان فلا شيء عليه ، كما هو مذهب جمهور الفقهاء أبي حنيفة ، ومالك ، وأحمد في إحدى الروايتين عنه ، وذلك لأن الأصل في الأعيان الطهارة فلا يجوز تنجيس شيء ولا تحريمه إلا بدليل

Baca Juga :  Hukum Memakai Sepatu yang Terbuat dari Kulit Babi

Pendapat terkuat, setiap bulu itu suci termasuk bulu anjing, babi, dan selainnya, berbeda halnya dengan air liur. Oleh karenanya bulu anjing yang basah jika terkena baju seseorang, maka tidak ada kewajiban apa-apa. Sebagaimana hal ini yang jadi pegangan kebanyakan ulama fiqih seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad dalam salah satu dari dua pendapatnya. Dikatakan demikian karena hukum asal sesuatu adalah suci. Tidak boleh dikatakan najis atau haram sampai ada dalil.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here