Kualitas Hadis-Hadis tentang Malam Nisfu Sya’ban

0
5734

BincangSyariah.Com – Kalau dilihat dari kaca mata para ahli hadis, praktik ibadah ritual yang dilakukan oleh sebagian umat muslim khususnya di Nusantara pada malam ke-15 bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban), sebenarnya tidak didukung dengan hadis yang mencapai derajat sahih kepada Nabi Saw. Hadis-hadis tentang malam nisfu Sya’ban kebanyakan dinilai lemah (dhaif) oleh mayoritas ulama hadis.

Meskipun demikian, sebagian ulama lain menilai sebagian hadis tentang malam Nisfu Sya’ban itu ada yang sahih seperti diungkapkan al-Imam Ibnu Hibban. Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki berkesimpulan dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban dengan mengutip pendapat al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Allatha’if;

اِنَّ جُمْهُوْرَ اَئِمَّةِ اْلحَدِيْثِ ضَعَّفُوْهَا وَصَصَّحَ ابْنُ حِبَّانَ بَعْضَهَا وَخَرَّجَهُ فِيْ صَحِيْحِهِ

Artinya; “Sesungguhnya mayoritas ulama hadis menilai dhaif hadis-hadis malam Nisfu Sya’ban. Al-imam Ibnu Hibban menilai shahih sebagai hadis dan mengeluarkan (menuliskan) dalam kitab Shahihnya (Shahih Ibnu Hibban).”

Apakah kita boleh menerima sebuah riwayat yang dhaif dan menjadikannya sebagai dasar ibadah? Dalam masalah ini terjadi sedikit perbedaan di antara ulama; ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

Namun demikian, mayoritas ulama membolehkan kita menggunakan hadits dhaif (asal bukan maudu atau munkar), khususnya untuk masalah fadhailul a’mal, bukan masalah akidah dan hukum halam dan haram.

Bahkan, dalam kitab Alminh Allathif Fi Ahkam Alhadis Aldhaif, Habib ‘Alawi bin Abbas al-Maliki mengatakan bahwa kebolehan mengamalkan hadis dhaif dalam fadhailul ‘amal sudah menjadi ijmak atau kesepakatan para ulama hadis dan lainnya.

Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki membahas secara lengkap tentang pendapat ulama mengenai kebolehan mengamalkan hadis dhaif. Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Aldur Almandhud mengatakan, para ulama hadis, ulama fikih dan ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh al-Imam al-Nawawi, sepakat atas diperbolehkannya menggunakan hadis dhaif untuk keutamaan amal (fadha’il al-amal), bukan untuk menentukan hukum, Syaratnya, hadis-hadis itu tidak terlalu dhaif (sangat lemah)”.

Baca Juga :  Doa Nabi Saw. saat Malam Nisfu Sya’ban

Al-Imam al-‘Iz ibn Abdissalam dan Ibn Daqiq al-‘Id menambahkan lagu satu syarat kebolehan merujuk hadis dhaif, yaitu harus masuk dalam cakupan asal (dalil) umum. Sebagian ulama lain, seperti Imam Ahmad bin Hambal, membolehkan secara mutlak tanpa syarat apa pun apabila tidak ditemukan dalil lain selain hadis dhaif tersebut dan tidak bertentangan dengan hadis-hadis dan dalil-dalil yang ada.

Al-Imam Abu Daud al-Sijistani dalam kitab Sunan Abu Daud memasukkan hadis dhaif dalam kitabnya tersebut apabila tidak ditemukan hadis lain yang menjelaskan masalah tertentu. Bahkan al-Imam al-Ramli membolehkan mengamalkan hadis yang sangat lemah (syadid al-dhu’fi) jika digabungkan dengan hadis yang juga sangat lemah. Beliau berkata, “Hadis-hadis yang sangat lemah jika digabungkan satu sama lain bisa dijadikan hujjah.”

Jadi, meski hadis-hadis yang menerangkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban disebut dhaif (lemah), tapi tetap boleh dijadikan dasar untuk menghidupkan amalan di malam Nisfu Sya’ban. Selain itu, niat mengamalkan hadis-hadis dhaif ini hanya untuk mendapatkan keutamaan dari sebuah ibadah saja.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Muhammad bin al-Maliki; “Mengamalkan hadis dhaif hanya untuk mencari keutamaan ibadah dari tanda-tanda (hadis-hadis) yang lemah tanpa ada kerusakan (pada agama) yang ditimbulkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here