Kritik Ulama Terhadap Rasa Gengsi

1
212

BincangSyariah.Com – Saat hendak melakukan sebuah kebaikan, sering kali timbul perasaan malu dalam diri untuk merealisasikannya hingga ujung-ujungnya kebaikan yang sudah di depan mata urung dikerjakan. Rasa malu ini tak lain merupakan perasaan gengsi. Syaikh Abi Ishaq Ibrahim menyebutnya sebagai al-haya’ at-thobi’i (perasaan malu yang mewatak).

Rasa gengsi harus dijauhi. Bukan hanya karena sifat tersebut menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, namun juga karena sifat ini merupakan turunan dari sikap sombong. Sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam al-Minah as-Saniyah,

واحذرْ أيضا من الحياءِ الطبيعيّ فإنه معدود من جملةِ الكبرِ عند القوم

“Jauhilah sifat haya’ ath-thobi’i (gengsi). Sesungguhnya di kalangan para sufi, sifat itu tergolong dalam sifat sombong (kibr).”

Sebagai salah satu penyakit hati, sifat gengsi berkaitan langsung dengan ego seseorang. Meski sifat ini menjangkiti setiap orang, namun Syaikh Sya’roni mewanti-wanti bahwa sebagian besar mereka yang mengidap al-haya’ ath-thobi’i adalah orang-orang besar, yakni mereka yang acapkali memiliki kedudukan dan pangkat yang luhur di mata manusia (ashab al-anfus) seperti para pemimpin, pejabat, dan tokoh masyarakat. Bahkan, penyakit ini juga banyak dijangkit oleh para syaikh (syuyukh), kiai, dan ulama. Terhadap sikap gengsi mereka, Syaikh Sya’roni melontarkan kritikan pedas,

فإذا كُلّف أحدُهم أن يذكر الله تعالى بحضرة الناس حصل عنده خَجَل كأنه ارتكب معصية

“Ketika mereka diminta untuk berdzikir kepada Allah Swt di hadapan manusia, mereka akan merasa malu seolah-olah telah melakukan perbuatan maksiat.”

Untuk melawan sifat gengsi dalam berbuat kebaikan, Syaikh Sya’roni memerintahkan kita untuk senantiasa melakukan perbuatan baik tersebut terus menerus hingga sifat gengsi dan angkuh yang diidap pudar dengan sendirinya. Dalam konteks rasa gengsi untuk berzikir di depan khalayak ramai, beliau bahkan mewajibkan mereka untuk berzikir dengan suara keras hingga ego dan gengsinya lenyap.

Syaikh Sya’roni mengutip kisah gurunya, Sayyid Muhammad yang selalu memerintahkan para santrinya untuk berzikir dengan suara lantang di tempat-tempat yang tidak biasa digunakan sebagai tempat berzikir seperti di pasar dan jalan-jalan raya. Tujuannya tidak lain untuk melawan ego dan keangkuhan yang ditimbulkan rasa gengsi dalam diri mereka. Murid-muridnya sering kali merasa gengsi untuk berdzikir di tempat-tempat umum. Sayyid Muhammad berkata:

“Berzikirlah kepada Allah Swt di tempat-tempat ini (yang jarang digunakan sebagai tempat untuk berdzikir) hingga tempat tersebut kelak akan menjadi saksi bagi kalian di hari kiamat. Dan hancurkanlah persembunyian watak nafsumu. Sebab engkau dalam keadaan terhijab selama persembunyian waktu nafsumu belum kau hancurkan.”

Ketika ada rasa gengsi untuk melakukan sebuah kebaikan tertentu, saat itulah ia merasa dirinya luhur dan suci. Keangkuhan yang timbul dari perasaan mengagungkan diri sendiri inilah yang membuatnya malu dan merasa tak pantas untuk melakukan perbuatan baik. Ada semacam ketakutan bahwa tatkala ia melakukan perbuatan tersebut, maka akan tergoreslah harga diri dan kebesarannya. Sejatinya itu tak lain bentuk perasaan gengsi semata. Semoga kita dijauhkan dari sifat angkuh dan gengsi untuk melakukan kebaikan karena Allah Swt. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here