Kritik terhadap Wensinck terkait Pandangannya Mengenai Imam al-Ghazali

0
188

BincangSyariah.Com – Sangat sulit untuk membaca gagasan-gagasan al-Ghazali seperti yang terepresentasikan dalam berbagai karyanya. Kesulitan tersebut muncul bukan saja ketika kita membaca butiran-butiran pemikirannya yang kontradiktif namun juga muncul ketika memahami pondasi nalar yang membingkai dan memproduksi pemikirannya.

Muhammad Abid al-Jabiri dalam at-Turath wa al-Hadathah dengan agak berlebihan menyebut pemikiran yang diproduksi al-Ghazali tidak lain ialah konstruksi pemikiran Islam secara keseluruhan. al-Jabiri bahkan membaca al-Ghazali bukan sekedar sebagai seorang intelektual belaka namun juga sebagai fenomena intelektual atau fenomena pemikiran pada umumnya.

Karena al-Ghazali merupakan ‘fenomena pemikiran’ bukan sekadar sosok saja, bagi  al-Jabiri proyek pembacaan apapun terhadap al-Ghazali baik untuk tujuan pondasionalisasi (ta’siis), refondasionalisasi (i’adat ta’sis) maupun untuk pembacaan dekonstruktif (al-Qira’at al-Tafkikiyah), tak akan memotret secara utuh gagasan beliau yang sebenarnya. Mungkin sulitnya menemu pijakan yang tepat bagi al-Ghazali ialah karena pemikiran-pemikirannya yang terkesan tidak konsisten bahkan terpisah satu sama lain dan saling mengeliminir.

Hal inilah yang mendorong munculnya ragam pembacaan terhadap gagasan-gagasan al-Ghazali baik dari yang pro maupun yang kontra. Ada sarjana yang membaca butir-butir pemikirannya dalam konstruk pemikiran Asy’ari. Ada yang membacanya dalam bingkai pemikiran fikih as-Syafi’i sehingga al-Ghazali dijuluki sebagai as-Syafi’I kedua. bahkan ada juga sarjana yang mengklaim al-Ghazali telah terpengaruh oleh gagasan-gagasan neo-Platonisme.

Karena itu, proyek pembacaan tersebut hanya mengintrodusir satu sisi al-Ghazali dan menyampingkan sisi lainnya dan menilai beliau hanya sebatas intelektual yang memiliki pemikiran  bukan melihatnya sebagai fenomena pemikiran (dzahirah fikriyah) yang mengkonstruk nalar islami sampai sekarang.

Adalah Wensinck dalam bukunya yang terkenal La Penseé de Ghazzali mengupas secara menarik tiga elemen yang membentuk pemikiran al-Ghazali. Wensinck dalam bab akhir bukunya tersebut mengatakan:

Baca Juga :  Doa Mohon Perlindungan dari Gangguan Setan

Kita sudah sampai pada akhir pembahasan buku ini, karena itu kita akan mencoba meletakkan pemikiran al-Ghazali ke dalam tiga kerangka pemikiran besar yang membentuknya. Pertama: al-Ghazali adalah seorang muslim. al-Ghazali, dalam pemikirannya tentang Allah yang dideskripsikan sebagai Tuhan yang menentukan qada dan qadar, Tuhan yang Maha Berkehendak dan Maha Pencipta, adalah seorang muslim. al-Ghazali adalah seorang muslim dalam sikapnya secara pribadi yang penuh dengan sikap kewaraan dan kesemangatan dalam beragama. al-Ghazali dengan sekuat tenaga memerangi segenap aliran pemikiran yang menggunakan rasio secara mutlak yang muncul dari sejak zaman al-Asy’ari.

Selain itu, al-Ghazali juga memerangi fanatisme dan taklid buta yang membelenggu kehidupan keberagamaan umat di kala itu. Kedua, elemen pembentuk pemikiran al-Ghazali ialah Neoplatonisme dan Kristen. Amat sulit pemikiran neo-platonisme dan kekristenan ini dilepaskan dalam pemikiran al-Ghazali baik sebagai ahli kalam, seorang filosof maupun  sebagai seorang sufi. Dengan kata-kata lain, sebagai seorang yang teolog, al-Ghazali ialah seorang muslim. Sebagai seorang filosof, al-Ghazali adalah seorang penganut ajaran neo-platonisme, dan sebagai seorang moralis atau pengamal tasawwuf, al-Ghazali adalah seorang Kristiani.”

Sampai di sini, jelaslah kita dihadapkan kepada tiga Pondasi dasar yang membentuk pemikiran al-Ghazali; Islam, Neo-Platonisme dan Kristen. Ketiga elemen ini, bagi Wensinck, menjadi kerangka referensial yang memproduksi pemikiran-pemikiran al-Ghazali paling berpengaruh. Mungkin yang sangat aneh dari pernyataan Wensinck ini ialah soal Kristen sebagai pembentuk pemikiran al-Ghazali. Kutipan ini seolah menggambarkan bahwa Kristen lewat ajaran-ajarannya disejajarkan dengan Islam dan Neo-platonisme. Ketiga hal ini sama-sama berpengaruhnya dalam membentuk pemikiran al-Ghazali.

Memang al-Ghazali pernah mempelajari Injil sebagaimana dapat kita lihat di risalah kecilnya, Ayyuhal Walad. al-Ghazali juga banyak mengutip perkataan-perkataan Yesus dalam beberapa bukunya. Selain itu, kota Tus, kota kelahirannya merupakan kota yang banyak sekali bermunculan sekte-sekte Kristen. Banyak sekali konfrontasi pemikiran dan perdebatan antar berbagai macam sekte dan agama di kota ini. Akan tetapi semua fakta ini tidak begitu cukup untuk mengklaim adanya pengaruh Kristen dalam pemikiran al-Ghazali yang intensitasnya sama dengan pengaruh Neo-platonisme atau sama dengan pengaruh Islam.

Baca Juga :  Adakah Hukuman Bagi Pelaku Dosa Besar?

Karena itu, yang lebih tepat ialah bahwa pemikiran-pemikiran al-Ghazali hanyalah satu bagian dari penafsiran terhadap Islam. Gagasan-gagasannya tidak berangkat dari luar Islam. bahkan ide-idenya berwarna sangat Islami. Adapun jika dilihat dari adanya pengaruh Neo-platonisme, terutama Hermetisme dengan wajah Timurnya, kita dapat melihatnya dalam banyak bukunya seperti Ma’arij al-Quds, al-Ma’arif al-Aqliyyah, Misykat al-Anwar, Ihya Ulumudin dan beberapa karya lainnya. Kendati demikian, neo-platonisme dalam pemikiran al-Ghazali hadir dalam pembacaan yang sangat Islami.

Adapun jika al-Ghazali mengutip di sana-sini kutipan dari kitab suci-kitab suci nonIslam, fenomena ini tidak hanya khusus bagi al-Ghazali semata. Misalnya kalau kita membaca karya-karya yang berkenaan dengan doksografi atau al-milal wa an-nihal, akan ditemukan bahwa para pemikir Islam sebenarnya terbiasa mengutip pandangan-pandangan non-islami dari kalangan Hindu, Budha, Kristen, Yahudi dan lain-lain. Dengan kata-kata lain mengutip pandangan-pandangan tokoh-tokoh dalam agama lain sudah menjadi hal yang lumrah dalam penulisan karya-karya keagamaan di masa itu dan al-Ghazali hanyalah satu fenomena dari sekian fenomena yang ada di masa itu.

al-Ghazali dengan demikian meski mengutip pandangan Yesus Kristus tidak berarti  ajaran-ajaran ke-Kristen-an hadir begitu nyata dalam pemikiran-pemikirannya. Justru yang hadir mewarnai pemikiran-pemikirannya ialah Islam dan neo-platonisme, neo-platonisme yang sudah terislamisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here