Kritik Kiai Ali Mustafa Yaqub pada Mereka yang Beri’tikaf tanpa Menjaga Kebersihan

0
1044

BincangSyariah.Com – I’tikaf merupakan serangkaian ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadan khususnya memasuki sepuluh hari terakhir. Karena dimaksudkan untuk mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Hal ini pun telah diajarkan oleh Nabi Saw. sebagaimana yang pernah disampaikan oleh istrinya, Aisyah ra, “bahwasanya Nabi saw. selalu  beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan sampai Allah memanggilnya, kemudian istri-istrinya meneruskan i’tikafnya setelah itu.” Muttafaqun ‘alaih.

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dari kaum muslimin yang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk menjalankan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Bahkan ada pula yang memboyong keluarganya pergi ke masjid.

Ada pula yang membawa kasur, bantal, termos dan kompor. Tetapi sayangnya mereka tampak kumal dan tidak mandi. Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi jamaah lain yang juga ingin beri’tikaf.

Melihat fenomena seperti itu di sebagian masyarakat muslim, Kiai Ali Mustafa Yaqub memberikan kritiknya sebagaimana tertuang dalam tulisannya yang berjudul I’tikaf bukan Gembelisme.

Di dalam artikel tersebut Kiai Ali awalnya memaparkan curhatan seorang temannya yang merasa terganggu ketika beribadah i’tikaf di masjid karena suasana yang tidak kondusif akibat dari jamaah lain yang kurang memperhatikan kebersihan dan seakan menggembelkan diri.

Mereka tak sungkan menggantungkan celana kotornya di jendela-jendela masjid, ada pula yang tidak mandi tetapi memakai minyak wangi yang justru menimbulkan bau yang busuk dan pindah tidur ke masjid.

Bahkan, hal ini menurut Kiai Ali Mustafa tidak hanya ada di Indonesia, di Amerika Serikat pun seperti di Masjid Al Taqwa di Houston, Texas dan Masjid Terminal 4 Airport JF Kennedy di New York, Kiai Ali pernah menjumpai praktik gembelisme seperti itu.

Baca Juga :  Wanita Sebagai Tiang Negara, Hadis atau Bukan?

Menurut penelitian Kiai Ali Mustafa sebagai pakar hadis di Indonesia, ketika membuka kitab-kitab hadis ternyata beliau belum menemukan bahwa Nabi beri’tikaf dengan pindah tidur ke masjid.

I’tikaf yang dilakukan oleh Nabi Saw. dan para sahabatnya adalah dengan melakukan salat khususnya salat malam (qiyamul lail), zikir, membaca Alquran dan sebagainya. Tetapi Nabi Saw. dan para sahabat tetap memperhatikan kebersihan dan kerapian, bukan menggembelkan diri, kumuh dan sebagainya.

Lebih lanjut, Kiai Ali memaparkan dua data konkret dari hadis Nabi Saw. bahwa i’tikaf itu juga harus menjaga kebersihan dan kerapian. Pertama adalah hadis di dalam Shahih al Bukhari yang dijelaskan bahwa Aisyah ra pernah menyisir rambut Nabi Saw. ketika beliau sedang beri’tikaf di dalam masjid.

Posisi Aisyah ra ada di dalam kamar, sementara Nabi Saw. berada di dalam masjid. Aisyah menyisir rambut Nabi Saw. melalui jendela rumahnya. “Dari Aisyah ra. ia berkata, “suatu ketika Rasulullah Saw. menjulurkan kepalanya kepadaku saat beliau sedang beri’tikaf di masjid, aku kemudian menyisir rambut beliau dan saat itu aku sedang haid.” (HR. Al Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa dalam beri’tikaf Nabi Saw. tetap menjaga kerapian tubuh.

Kedua adalah hadis tentang sahabat wanita yang mengalami pendarahan di luar haid (istihadhah), mereka melakukan i’tikaf dengan duduk di atas bejana (thast) agar tidak mengotori masjid. Dari Aisyah ra. ia berkata,”salah satu istri Nabi Saw. yang sedang istihadhah beri’tikaf bersama Nabi Saw. Terkadang ia terlihat darah merah dan kuning, maka kami pun meletakkan baskom di bawahnya sedangkan ia salat. (HR. Al Bukhari). Praktik sahabat perempuan tersebut menunjukkan bahwa ia tetap menjaga kebersihan masjid saat melakukan ibadah i’tikaf.

Baca Juga :  Bagaimana Islam Memandang Kesenian? Kesenian sebagai Hasrat Kemanusiaan (2)

Oleh karena itu, Kiai Ali sangat mengkritik keras bagi umat muslim yang melakukan i’tikaf tetapi malah menggembelkan diri. Mana mungkin orang nonmuslim akan tertarik kepada Islam apabila orang Islam sendiri yang menunjukkan perilaku yang kumuh, kotor dan gembel seperti itu.

I’tikaf memang dianjurkan oleh Nabi Saw. tetapi tidak dengan menggembelkan diri. Sebagai penutup tulisannya Kiai Ali memberikan jargon yang khas untuk kaum Muslim. I’tikaf ok, Gembelisme No!.

Demikianlah kritikan Kiai Ali Mustafa kepada mereka yang beritikaf tetapi tidak memperhatikan kebersihan dan kerapihan dirinya maupun masjid yang ditempatinya, sehingga malah menimbulkan ketidaknyamanan bagi jamaah lain yang juga ingin khusyuk beribadah.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here