Kritik Integritas dan Kredibilitas Sahabat Nabi

0
668

BincangSyariah.Com – Semua Sahabat Nabi adalah ‘adil. Al-shahabah kulluhum ‘udul. Artinya para sahabat Nabi integritasnya dapat dipertanggungjawabkan dan kredibilitasnya tidak perlu diragukan.

Kaidah ini berlaku mutlak dan disepakati oleh para ulama. Kecuali kelompok Khawarij, Mu’tazilah, Syiah, Orientalis dan mereka yang terpengaruh Orientalis akan menyatakan kaidah tersebut tidak bisa diberlakukan secara mutlak. Mereka punya cara pandang tersendiri dalam menilai sahabat Nabi Muhammad saw.

Dalam hadis Nabi saw., sahabat menempati posisi inti dan sangat sentral. Mereka adalah juru bicara dan media penyampai kalam-kalam Nabi. Maka apa pun yang mereka sampaikan perihal Rasulullah saw., baik yang berasal dari kata, aktivitas maupun ketetapan Rasulullah saw. adalah kebenaran dan bersumber dari beliau.

Mereka menyampaikan apa adanya tanpa mengurangi atau menambahkan. Para Sahabat berkata sejujurnya, sesuai dengan fakta dan realitanya. Mereka tidak akan pernah berdusta atas nama Muhammad saw. Mereka tahu berbohong atas nama Rasulullah saw. adalah dosa dan kesalahan besar.

Oleh karena itu, satu huruf pun mereka tidak akan berani berdusta atas nama Rasulullah saw. Karena mereka tahu sekecil apa pun dusta kepadanya sama saja dengan mengkhianati dan mengotori kepercayaan Rasulullah saw. Karena itu mereka tidak pernah melakukannya.

Atas dasar inilah —selain berdasarkan Alquran dan hadis— kaidah kullu al-shahabah ‘udul itu diberlakukan secara mutlak. Karena itu setiap informasi yang bersumber dari Sahabat harus diterima sebagai kebenaran. Apabila ada suatu hadis yang ternyata palsu, ketahuilah bahwa itu bukan perbuatan mereka, tetapi perbuatan orang-orang setelahnya.

Adapun konflik maupun persoalan politik yang terjadi di antara para Sahabat, sebaiknya kita jangan sampai terlampau berprasangka negatif terhadap mereka. Biarlah sejarah yang berbicara. Kita tidak usah terlalu jauh berpersepsi dan berimajinasi.

Baca Juga :  Denda bagi Pelaku Hubungan Intim pada Siang Ramadan

Tugas kita hanyalah ambil hikmah dan pelajarannya kemudian bersikaplah secara bijak dan dewasa. Apapun dinamika politik antar mereka jangan sampai dibawa-bawa ke dalam hadis Nabi. Karena saat hadis Nabi itu disampaikan, tidak ada urusan politik yang mencampurinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here