Kritik Hadis tentang Pembakaran Kaum Zindiq oleh Ali Bin Abi Thalib (II)

0
1582

BincangSyariah.Com – Hadis-hadis tentang Nabi Saw. dan para sahabat, yang sampai kepada kita ialah hadis-hadis yang sudah dalam bentuk percikan-percikan peristiwa yang tidak lagi utuh dan masih berupa retakan-retakan. Karena itu wajar ketika membaca suatu hadis, makna yang seutuhnya tidak akan pernah hadir. Meski ada adagium yang mengatakan bahwa hadis nabi saling berkaitan dan saling menafsirkan satu sama lain, tetap saja kita tidak akan pernah mengetahui detailnya secara pasti bagaimana sebuah peristiwa kenabian itu terjadi.

Apalagi jarak yang memisahkan kita dengan masa nabi dan masa para sahabatnya ialah rentangan waktu yang lebih dari satu milenium. Kalau kita berusaha memahami peristiwa seribu tahun yang lalu tanpa memahami semangat zaman di masa itu, akan banyak kesalahpahaman yang akan kita lakukan. Rentangan waktu saja sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa kita tidak akan pernah menemukan pemahaman yang utuh dan benar yang betul-betul sesuai dengan the thing in itself di masa itu.  

Dengan demikian, klaim kebenaran dari pihak manapun selalu harus dipertanyakan. Sejarah mencatat bahwa pemaknaan apa pun terhadap peristiwa yang terjadi di masa Nabi dan sahabat akan selalu menghasilkan pengetahuan yang sifatnya dzhanni (masih dalam tahap sangkaan, bukan kepastian). Hal demikian terbukti dengan banyaknya perbedaan penafsiran yang muncul di antara ulama, antargenerasi ulama, antara mutaakhirin dan mutaqaddimin. Masing-masing penafsiran tidak sepenuhnya merepresentasikan kenyataan apa adanya di masa Nabi dan para sahabatnya dan dengan demikian kita tidak akan tahu pastinya bagaimana.

Jadi yang kita andalkan saat ini ialah pengetahuan yang dzhanni itu, pengetahuan yang tidak mencapai taraf meyakinkan yang merepresentasikan kenyataan apa adanya. Apalagi jika mempertimbangkan pemahaman kita tentang masa hidup Nabi selalu dikotakkan sesuai spesialisasi keilmuan kita. Ahli fikih membaca masa kenabian dan sahabat dari perspektif fikihnya. Ahli hadis membaca masa ini dari perspektif hadisnya. Ahli kalam juga demikian. Jadi pengetahuan yang dihasilkan terkotak-kotak.

Bahkan amat jarang seorang ulama yang menguasai keseluruhan bidang keilmuan tersebut. Jika pun ada, belum tentu ia mencapai pemahaman yang benar. Kerangka ini paling tidak memberikan kita sedikit hal mengenai dasar-dasar pemahaman yang akan kita gunakan untuk membaca peristiwa pembakaran orang-orang zindiq oleh Ali bin Abi Thalib. Peristiwa pembakaran ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Ghaflah sebagaimana yang dapat kita lihat pada Mushannaf Ibnu Abi Syaibah sebagai berikut:

Baca Juga :  Kisah Syeikh Abdul Qadir Jailani Enggan Mengucapkan Kafir

حدثنا أبو بكر بن عياش عن أبي حصين عن سويد بن غفلة أن عليا حرق زنادقة بالسوق ، فلما رمى عليهم بالنار قال : صدق الله ورسوله ، ثم انصرف فاتبعته ، فالتفت إلي قال : سويد ؟ قلت ، نعم ، فقلت : يا أمير المؤمنين سمعتك تقول شيئا ؟ فقال : يا سويد ! إني بقوم جهال ، فإذا سمعتني أقول : ” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” فهو حق

Telah menginformasikan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, dari Abu Hushain, dari Suwaid bin Ghaflah yang mengatakan bahwa ‘Aliy pernah membakar orang-orang zindiq di pasar. Ketika  membakarnya,Ali bin Thalib berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian ia berpaling dan akupun mengikutinya. Ia melihatku mengikutinya dan berkata “Suwaid ?”. Aku berkata “Benar”. Aku lalu berkata “Wahai Amiirul-Mukminiin, aku telah mendengarmu mengatakan sesuatu”.’Aliy berkata : “Wahai Suwaid, sesungguhnya aku tinggal bersama kaum yang jahil. Jika engkau mendengarku mengatakan : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka itu benar.”

Kritik Hadis

Untuk memahami hadis ini, perlu kiranya kita juga membandingkannya dengan riwayat lain. Dalam Musnad al-Bazzar, disebutkan:

Telah menginformasikan kepada kami Khallad bin Aslam yang berkata telah menginformasikan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy dari Abu Hushain dari Suwaid bin Ghaflah yang berkata “telah didatangkan kepada Ali orang-orang zindiq lalu ia keluar ke menuju pasar, membuat lubang dan membakar mereka dengan api, dan Beliau menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian beliau pergi memasuki tanah lapang dan aku mengikutinya, ketika Beliau ingin masuk ke dalam rumah, beliau berkata “ada apa denganmu wahai Suwaid?”. Aku berkata “wahai Amirul mukminin aku mendengar engkau mengatakan ketika membakar mereka orang-orang zindiq “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Beliau berkata wahai Suwaid jika engkau mendengarku mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata maka ketahuilah jatuhnya aku dari langit lebih aku sukai daripada aku mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar dari Beliau SAW dan jika engkau melihatku mengatakan hal yang lain maka sesungguhnya itu sesuatu yang muncul dari kemarahan atau perkataan semisalnya”.

Pembacaan secara intertekstual terhadap dua jalur riwayat pembakaran kaum zindiq oleh Ali, yakni jalur Ibnu Abi Syaibah dan jalur Khallad bin Aslam yang kedua-duanya mendapat informasi dari Abu Bakar bin Ayyash di atas menunjukan adanya perbedaan redaksi yang cukup signifikan.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Hujurat: 11; Kezaliman terhadap Orang Lain Awalnya dari Sifat Merendahkan

Ada tiga poin yang kami kira perlu diperhatikan dalam kedua riwayat di atas: Pertama, dalam riwayat Khallad bin Aslam, terdapat redaksi bahwa Ali fa-hafara hufratan ‘membuat lubang’ di pasar sedangkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah redaksi demikian tidak disebutkan.

Kedua, dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, kita temukan ada redaksi inni bi-qaumin juhhal ‘sesungguhnya aku tinggal bersama kaum jahil’ sedangkan dalam riwayat Khallad bin Aslam redaksi demikian tidak ditemukan.

Ketiga, dalam riwayat jalur Khallad bin Aslam, kita temukan redaksi yang berbunyi fa’lam li-an ukhirra minas-sama ahabbu ilayya min an aqula ma lam asma’ minhu  ‘ketahuilah bahwa jatuhnya aku dari langit lebih aku sukai…’ seperti yang kami garis bawahi pada terjemahan hadis di atas sedangkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, redaksi demikian benar-benar tidak disebutkan.

Kedua redaksi yang berbeda dari Ibnu Abi Syaibah dan Khallad bin Aslam di atas dapat kita bandingkan dengan jalur riwayat dari Imam as-Syafi’i berikut:“Telah menginformasikan kepada kami Abu Sa’id dan berkata telah menginfromasikan kepada kami Abul Abbas yang mengabarkan kepada kami ,Rabi’ dan berkata  bahwa Asy Syafii berkata telah disampaikan kepadanya dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Abu Husain dari Suwaid bin Ghaflah bahwa datang kepada Ali orang-orang zindiq, ia keluar ke pasar membuat lubang dan membunuh mereka kemudian ia melemparkan mereka ke dalam lubang dan membakar mereka dengan api.”

Dalam riwayat Imam as-Syafi’i dari Abu Bakar bin Ayyash ini, terdapat redaksi bahwa Ali fa-hafara hufran ‘membuat lubang’ yang sama dengan redaksi dari riwayat Khallad bin Aslam. Namun dalam jalur riwayat as-Syafi’i ini, kita temukan adanya penambahan redaksi faqatalahum thumma rama bihin fi al-hafr ‘membunuh mereka kemudian ia melemparkan mereka ke dalam lubang’.

Perbedaan redaksi dari jalur periwayatan Ibnu Abi Syaibah, Khallad bin Aslam dan as-Syafi’i dalam tiga hadis yang telah disebut di atas  ternyata semuanya berpusat pada Abu Bakar bin Ayyash. Lalu pertanyaannya ialah apakah Abu Bakar bin Ayyash ini telah lupa dan keliru dalam meriwayatkan hadis sehingga menimbulkan berbagai versi redaksi?

Baca Juga :  Dosakah Melakukan Ghibah terhadap Non-Muslim?

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam at-Taqrib merangkum semua penilaian ulama terhadap Abu Bakar bin Ayyash ini dengan mengatakan: “Terpercaya, ahli ibadah, namun hafalannya terganggu di usia senja. Sementara itu, riwayat hadisnya dari kitabnya, bukan dari hafalannya, dapat dianggap sahih.” Melalui keterangan ini, bisa jadi Abu Bakar bin Ayyash meriwayatkan hadis melalui hafalan bukan melalui kitabnya. Jadi riwayatnya ini bisa dinilai tidak sahih.

Namun jika riwayat dari jalur as-Syafi’i ini diterima, paling tidak ada titik cerah dalam usaha memahami hadit riwayat Ikrimah dan Anas bin Malik yang disebutkan dalam artikel sebelumnya, di mana dalam satu riwayat Ali berkomentar waiha Ibnu Abbas sementara dalam riwayat lain Ali berkomentar sadaqa Ibnu Abbas.

Kata-kata waiha dapat ditafsirkan bahwa Ali menolak kritikan Ibnu Abbas bahwa dirinya membakar kaum murtad karena hal demikian itu tidak benar sementara kata-kata sadaqa dapat ditafsirkan bahwa Ali setuju dengan penyitiran dua hadis Nabi oleh Ibnu Abbas.

Jadi dua redaksi yang berbeda ini bisa digabungkan secara makna. Namun demikian tafsiran ini pun masih berupa andai-andai karena meski pembakaran/pembunuhan itu benar-benar terjadi, tetap saja masih banyak yang tidak terkatakan dalam hadis-hadis dengan berbagai jalur periwayatannya ini.

Tafsir terhadap kata zindik pun masih mengundang tanda tanya. Dalam penggunaannya, zindik terkadang bermakna fasik, munafik, murtad, penyembah patung dan ahli  bid’ah. Terkadang artinya juga meliputi orang-orang di luar kelompoknya yang bertentangan secara pemikiran, misalnya ahli hadis menyebut kaum muktazilah sebagai zindik. Zindik bisa juga berarti orang-orang yang suka membuat keonaran seperti merampok, membunuh, membakar orang hidup-hidup dan memperkosa wanita-wanita suci.

Kalau pengertian yang terakhir ini diterima, bisa jadi Ali membakar orang-orang zindiq bukan karena keluar dari Islam tetapi lebih kepada faktor lain yang sifatnya kriminal dan mengganggu ketertiban umum. Hanya saja karena masa Ali termasuk masa keagamaan, maka faktor agamalah yang dimunculkan dan ditekankan sementara faktor kriminal, sosial dan politik tidak menjadi fokus perhatian dan tidak masuk ke dalam bab hadis.

Sayangnya, hadis yang berupa percikan-percikan peristiwa ini dan yang masih menyimpan aspek-aspek tak terkatakan bisa-bisanya dijadikan sandaran hukum yang serba pasti. Padahal nabi mewasiatkan untuk tidak melakukan hukuman mati jika banyak aspek yang masih belum jelas. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here