Kritik Hadis Perintah Menyusui Orang Dewasa untuk Jadi Mahram

35
12177

BincangSyariah.Com – Suatu ketika Sahlah binti Suhayl mendatangi Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasul, saya merasakan aura kebencian yang timbul dari Abi Hudzayfah ketika Salim (mantan anak angkatnya) lalu lalang menemuiku”. Lantas Nabi menjawab, “Susuilah dia!”. Kemudian Sahlah pun bertanya, “bagaimana mungkin aku akan menyusuinya, padahal dia adalah seorang laki-laki dewasa.?”. Nabi tersenyum sembari menjawab, “aku juga tahu bahwa dia adalah laki-laki dewasa (dalam arti kata lakukan saja apa yang aku katakan.!)”. Maka Sahlah menyusuinya (Salim). (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas setidaknya harus ditinjau dari dua aspek. Aspek pertama berkenaan dengan keotentikannya sebagai sebuah hadis yang bersumber dari Rasulullah Saw. dan yang kedua relevansinya sebagai sebuah hukum Islam (sebut fikih). Ditinjau dari aspek sanadnya, hadis di atas merupakan hadis sahih yang diriwayatkan oleh hampir sebagian besar ulama hadis kawakan seperti Imam Muslim, Abu  Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad yang kesemuanya berasal dari A’isyah R.a.

Imam al-Daraquthni dalam kitabnya al-I’lal li al-Daraquthni juga menegaskan ke-muttashil-an sanad hadis tersebut. Demikian juga Syekh Nasiruddin al-Albani yang dianggap sebagai ulama hadis masa kini yang cendrung Wahabi, dalam tahqiqan-nya terhadap hadis tersebut berkesimpulan bahwa hadis itu adalah sahih.

Lalu bagaimana dengan matan atau fiqh hadis tersebut? Dilirik dari redaksinya, hadis tersebut mengundang spekulasi yang menimbulkan kontroversi dikalangan ulama. Salim, sebagaimana diungkap dalam teks hadis tersebut merupakan seorang laki-laki yang berjenggot (dewasa). Jadi secara logika, dia tidak akan mungkin dan tidak pantas lagi disusui oleh seorang perempuan dewasa yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya layaknya seorang ibu dengan anaknya.

Anehnya, Nabi Muhammad Saw. yang pada saat itu dianggap sebagai pemegang otoritas tertinggi, malahan memerintahkan Sahlah untuk menyusui Salim (mantan anak angkat suaminya, Abu Hudzaifah). Logika inilah yang melatarbelakangi sikap Ibnu Abd al-Bar dan al-Dārimi dalam Sunan-nya tidak berkomentar apa-apa (tawaqquf) terhadap hadis tersebut.

Baca Juga :  Bagi Setiap Muslim, Ini Dua Hal yang Perlu Dijaga Menurut Ulama

Lain lagi dengan sikap sebagian pemikir kontemporer seperti Dr. Izzat ‘Athiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dia memfatwakan bolehnya seorang  pegawai perempuan yang berkerja berduaan dengan seorang laki-laki dalam satu ruangan tertutup dan pintunya tidak bisa dibuka kecuali melalui salah satu dari keduanya, untuk menyusui teman laki-lakinya itu.

Hal ini bertujuan agar keduanya diperbolehkan berduaan di ruangan tersebut dan perempuan itu boleh membuka jilbab dan menampakkan rambutnya di depan laki-laki yang disusuinya tersebut lantaran sudah dianggap sebagai mahramnya. Tak pelak, fatwa tersebut menimbulkan keresahan masyarakat Mesir, sehingga pihak al-Azhar pun memecat Dr. I’zzat karena fatwanya tersebut.

Lantas bagaimanakah interpretasi yang benar tentang hadis tersebut? Imam Nawawi dalam komentarnya terhadap kitab Shahih Muslim menjelaskan perselisihan ulama terkait hadis tersebut. A’isyah dan Dawad al-Zhahiri menetapkan bahwa menyusui orang dewasa itu tetap memunculkan status mahram sebagaimana menyusukan anak kecil yang berumur dibawah dua tahun.

Sementara itu, jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama terkemuka hingga sekarang mengatakan bahwa menyusui yang berimplikasi terhadap mahram atau tidak hanyalah menyusui anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah. Adapun anak-anak yang berumur lebih dari itu atau bahkan sudah dewasa, maka hal itu tidak akan menyebabkan timbulnya hubungan mahram antara yang menyusui dengan yang disusui.

Abdullah Ibnu Jibrin dalam Syarah Umdah al-Ahkam-nya dan Ibnu Batthal dalam komentarnya terhadap Shahih Bukhari mengungkapkan, di antara hujah yang dipakai oleh mereka yang menganggap bahwa menyusui laki-laki dewasa itu akan menyebabkan kemahraman adalah hadis Sahlah di atas.

Mereka menganggap bahwa perintah Rasul terhadap Sahlah untuk menyusui Salim yang tak lain merupakan mantan anak angkat suaminya sendiri adalah untuk menghilangkan ketidaksenangan Abu Hudzaifah terhadap Salim yang selalu menemui istrinya, padahal status Salim pada saat itu bukan lagi anak angkatnya pasca turunnya larangan Allah terhadap praktik pengadobsian anak (al-Ahzāb : 5).

Baca Juga :  Apakah Menggunakan Obat Tetes Mata Membatalkan Puasa?

Selain itu, golongan ini juga berhujah dengan hadis Muslim yang juga berasal dari A’isyah : أرضعيه تحرمي عليه yang berarti susuilah dia, niscaya dia akan menjadi mahrammu! Pendapat inilah yang dipakai oleh I’zzah A’thiyyah dalam fatwanya yang membolehkan dan menjadi mahramnya menyusui laki-laki dewasa.

Sementara itu, mayoritas ulama memandang bahwa pengukuhan hadis A’isyah tersebut sebagai legalisasi boleh dan menjadi mahramnya menyusui laki-laki dewasa tidaklah tepat. Karena hadis tersebut hanya khusus diberlakukan untuk Salim saja, dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga Sahlah yang agak bermasalah pada waktu itu. Paling tidak, ada tiga alasan pengkhususan tersebut.

Pertama, adanya pembatasan umur menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman antara yang menyusui dan yang disusui, yaitu dua tahun. Hal itu sebagaimana diisyaratkan oleh surah al-Baqarah ayat 233 dan Luqman ayat 14.

Kedua, menyusui yang bisa menyebabkan terjadinya mahram itu adalah menyusui yang bisa menumbuhkan daging dan menguatkan tulang. Hal itu pasti didapatkan ketika yang disusui itu masih kecil (berumur dua tahun kebawah) dan pada saat maja’ah (lapar). Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi riwayat al-Tirmidzi yang berasal dari Ummu Salamah:

لا يحرم من الرضاعة إلا ما فتق الأمعاء في الثدي وكان قبل الفطام

Artinya: Persusuan tidak bisa menjadikan mahram, kecuali (susuan) yang mengenyangkan dan terjadi sebelum disapih.

Dan hadis riwayat Muslim yang berasal dari A’isyah:

فإنما الرضاعة من المجاعة

Artinya: Sepersusuan itu hanya diperoleh lantaran lapar

Selain itu, hadis riwayat Abu Dawud yang berasal dari Ibnu Mas’ud juga perlu dipertimbangkan:

لاَ رِضَاعَ إِلاَّ مَا شَدَّ الْعَظْمَ وَأَنْبَتَ اللَّحْمَ

Tidak (dianggap) sesusuan melainkan susuan yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.

Ketiga, terdapat pengkhususan secara sharih dari hadis riwayat Muslim yang berasal dari Ummu Salamah terhadap hadis Sahlah di atas. Hadis tersebut adalah:

 

أَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم أنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ أَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ وَاللَّهِ مَا نَرَى هَذَا إِلاَّ رُخْصَةً أَرْخَصَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِسَالِمٍ خَاصَّةً فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا أَحَدٌ بِهَذِهِ الرَّضَاعَةِ وَلاَ رَائِينَا.

Baca Juga :  Abu Bakar dan Riwayat Pembakaran al-Fuja’ah as-Sulami

Artinya: Para istri Nabi Saw enggan memberi kebebasan masuk rumah mereka bagi anak-anak yang telah dijadikan mahram karena susuan. Dan kami berkata kepada Aisyah, “Demi Allah kami tidak melihat hal ini, kecuali hanya sekedar keringanan yang diberikan oleh Rasulullah Saw khusus untuk Salim, oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mahram karena susuan yang boleh masuk ke rumah kami dan melihat kami.”

Sementara itu, Syams al-Haq al-‘Azhīm Abadi Abū al-Thayyib, pensyarah kitab Sunan Abu Dawud, A’un al-Ma’bud menukil pendapat sebagian ulama yang berpandangan bahwa hadis Sahlah di atas telah dihapus hukumnya oleh hadis dan ayat yang meneguhkan bahwa menyusui yang bisa menyebabkan terjadinya mahram adalah ketika yang disusui itu berumur di bawah dua tahun. Tapi mereka tidak menjelaskan secara detil historitas waktu kemunculan ayat-ayat atau pun hadis tersebut.

Syams al-Haq juga menukil pendapat dari Ibnu Taymiyah dan al-Syaukani yang mencoba untuk menengahi kedua pendapat yang cendrung kondradiktif di atas. Syaukani memandang bahwa menyusui laki-laki dewasa tersebut hanya membolehkan khalwat antara keduanya, namun tidak sampai menimbulkan kemahraman di antara keduanya. Tentu saja pendapat ini sangat aneh, karena bagaimana mungkin mereka diperbolehkan berkhalwat, padahal statusnya bukanlah mahram dari yang lain.

Terakhir penulis ingin menyampaikan bahwa perbedaan paradigma dalam memahami sebuah hadis merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. Namun ketepatan istidlal dan dalil-dalil yang digunakan merupakan sudut pandang yang mesti diutamakan. Oleh sebab itu, penulis berkesimpulan bahwa pendapat jumhur ulama adalah pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Hal itu bisa dilihat dari argumentasi-argumentasi mereka serta adanya unsur al-mashlahah al-a’mmah (kebaikan universal) yang melatarbelakangi pendapat tersebut. Wallahu A’lam

35 KOMENTAR

  1. Jadi keputusan nya bagaimana.
    Apakah Atsar bisa menggugurkan sabda Nabi yang jelas dan terang benderang mengatakannya … Susuilah…! sampai Sahlah bertanya lagi dan Nabi tetap berkata …susuilah.

    • Ada hadis lain yang bertentangan dengan perintah menyusui org dewasa ini)hadis sahlah. Sedangkan kaidah umumnya, tidak mungkin nash baik Al-Quran dan Sunnah saling bertentangan satu sama lain.
      Karena alasan itu Hukum Hadis sahlah itu bersifat khusus untuk masalah sahabat sahlah saja. Hal itu juga dieprkuat berdasarkan tiga alasan yang dikemukakan di atas.

  2. admin! jadi kesimpulannya bagaimana boleh tidak menyusukan orang dewasa ,supaya jadi mahram? jawabannya kok mutar-mutar ndak jelas.

  3. Saya hanya orang Awam,
    Tapi yang saya pahami adalah bahwa:
    1. Kasus ini timbul terkait anak angkat.
    2. Anak angkat sudah dewasa dan menimbulkan kecemburuan dari pihak suami (ayah angkat).
    3. Timbul pertanyaan bagi saya bahwa apakah kondisi ibu angkat sedang dalam masa menyusui anaknya yang masih bayi, sehingga memiliki Asi..?
    4. Apakah tidak menimbulkan birahi bagi seorang pemuda menghisap susu dari payudara ibu angkat.? Dan betapa risih dan malunya seorang wanita saat melakukannya.?
    5. Pendapat bisa berubah seiring waktu dalam memahami persoalan, apakah maksud menyusui disini adalah pemuda tersebut minum langsung atau diminum di wadah.
    6. Secara garis besar menyusui anak dalam Islam dibatasi hanya sampai umur dua tahun, sehingga hadist tersebut diluar konteks ayat.
    7. Lalu bagaimana menyusui si pemuda tersebut?, di depan suaminya atau berduaan di kamar, sedangkan berduaan yang bukan muhrim dilarang.
    8. bahkan putra dan putri yang muhrim saja dipisah kamarnya setelah akil baligh.
    9. Hal ini menjadi konyol ketika pembicara dari agama tetangga dengan secara liar berkometar minus dan memfitnah secara membabi buta di channel youtube, bahkan berani mengklaim agar dia bisa menyusu dari wanita muslimah lawan debatnya agar menjadi mahramnya.

  4. Insya Allah, yang di maksud dengan kata MENYUSUI ialah, Anggaplah saja seperti anak sendiri gimana semestinya kasih sayang ibu ke anaknya, tapi bukan berarti MENYUSUI harus di susui dari payudara si sahlah.

  5. Bukan hadisnya yang aneh, dan tuh pertanyaan anda yang mau di ikuti ulama atau nabi.. Yah jelas nabi lah kita ikuti dan kita tdk bisa mempelajari apa apa dari nabi kecuali lewat ulama ulama .

  6. muhamad pengen nikahin zainab,bikin ayat larangan angkat anak.setelah mati,aisyah bikin ayat susui pria dewasa.ya gitulah kalo atuhannya cuma tuhan boongan.suka2 yg buat ayat .yg bingung umatnya

  7. Kalau ada permasalahan seperti ini,tentunya balik ke Al Qur’an karena firman lebih kuat dari hadis,masalah ini cuma ditujukan untuk si salim dan intinya dari Al Qur’an,yang bukan muhrim tetap tidak boleh gabung

  8. Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib berkata: Bilamana Anda mendengar suatu suatu hadis, ujilah itu menurut akal, jangan sekadar mendengar, karena periwayat pengetahuan ada banyak tetapi yang menjaganya hanya sedikit.(Nahjul Balaghah)

  9. Jadi maksudnya hadist menyusui itu di nasakh karena muncyl hadist baru.yaitu menyusui ada dengan batasan umur juga harus menumbuhkan tulang dan daging.koreksi bila salah

  10. Assalamualaikum…, Ini sangat membingungkan, Al-Qur’an, Hadits dan Sunnah menjadi Tiang Utama dlm Islam, Islam mengajarkan hal2 yg baik dan Adab, Halal dan Haram, jika Hadits ini hrs dilakukan BAGAIMANA DENGAN ANAK2 PEREMPUAN kita keturunan darah daging kita sendiri ntinya? Apakah ini akan menjadi langkah yg nantinya Seks Bebas itu akan merebak dimana2, krn Hadits ini bs membiarkan terjadinya hal2 negative.., Wahai Para Guru dan Ulama, mohon pecahkan kemelut ini agar tdk menjadi bomerang terhadap Agama kita, jangan sibuk urus politik dll, focus bantu masyarakat moslem agar tdk terjebak dgn hal yg kurang pas dihadapan kita. Wassalamu’alaikum

  11. Al Qur’an adalah pegangan umat Islam. Sdng hadist adalah ucapan nabi yg disampaikan dr mulut ke mulut orang lain dan kadang msh hrs ditafsirkan. Kalo bertentangan dng Al Qur’an maka sdh pasti hadist tsb BERMASALAH bukan nabi & agamanya yg bermasalah.

  12. Jelas pada komen bingung semua karena ini materi kalo dibaca orang yg belum faham ilmu fiqih, hadits beserta sanad, perawi, dsb..bisa berbahaya kalo ditelan mentah mentah.
    Para ulama lebih bijak dengan “mempeti eskan” hadits ini, tidak terlalu banyak dibahas pada kajian umum.

  13. Untuk tambahan referensi silahkan tengok kitab Talkhiishul Habir fii Hukmi Rodhoo’il Kabir (Hukum Menyusui Orang Dewasa – Penerbit Ar-Rayyan) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi, murid dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah

  14. Silakan cek kitab Talkhiishul Habir fii Hukmi Rodhoo’il Kabir (Hukum Menyusui Orang Dewasa – Penerbit Ar-Rayyan) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi, murid dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah….

  15. Di Akhirat Kita Tanya nabi aje apa maksudnya,bagi Saya
    Nabi pernah di betulkan oleh Allah taala,bila dia tidak ucapkan InsyaAllah,tentang wahyu yg bakal di wahyukan,ini menunjukan nabi adalah juga manusia biasa,umpama guraun dalam sindiran Dan sepontan,yakni,kalau mau status mahram mesti anak angkat itu perlu di susui,tapi kalau Tak sanggup kerna anak tadi sudah dewasa,maka ikutlah aturan yang telah ditetapkan Al Quran,kerna nabi sudah tahu pasti puan sahlah tidak sanggup melakukannya,oleh itu Salim sudah dewasa maka perlu berdikari keluar Dari rumah mencari haluan sendiri kerna ia sudah dewasa Dan bukan anak kandung keluarga angkatnya itu mungkin maksud tersirat sehingga nabi ulangi kenyataannya..Allah hu Alam..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here