Kritik Hadis Penduduk Syam Akan Selalu Menang

0
628

BincangSyariah.Com – Hadis-hadis tentang keberkahan Negeri Syam adalah salah satu dari hadis-hadis akhir zaman. Banyak orang Islam tertarik untuk bergabung dengan beberapa kelompok militan di kawasan tersebut karena menurut mereka Negeri Syam adalah negeri akhir zaman yang penuh berkah yang tidak akan dikalahkan oleh siapapun. Sayangnya, apakah tepat pemaknaan mereka terhadap hadis-hadis tersebut?

Salah satu yang menulis tentang keberkahan Negeri Syam adalah Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam (w. 660 H), ia menuliskan argumentasinya tentang kebesaran Negeri Syam dalam risalahnya “Targhib Ahl al-Islam fi Sukna al-Syam” sebuah risalah yang terbilang pendek dibandingkan dengan kitab-kitabnya yang lain seperti “Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam”, “Syajaratul Ma’arif”, “al-Imamah fi Adillah al-Ahkam” dan lain sebagainya.

Sebagai ulama kelahiran Damaskus, beliau menukil banyak kutipan Alquran dan hadis membahas tentang keberkahan negeri Syam di dalam karyanya tersebut. Di antaranya ia menukil surah al-Anbiya’ ayat 71, “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah berkahi untuk sekalian manusia.”
Atau seperti surah al-Isra’ ayat pertama, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Menurut Izzuddin, ulama berbeda pendapat terkait keberkahan yang dimaksud, sebagian mereka menafsirkan kata “berkah (البركة)” dengan diutusnya para rasul dan nabi ke negeri Syam. Ulama lain menafsirkannya dengan melimpahnya buah-buahan dan air. Pendapat kedua ini dipertegas oleh ‘Izzuddin bahwa memang saat itu di Damaskus sangat mudah didapati mata air dan sungai, bahkan menurutnya, air tersebut mengalir di sela-sela rumah-rumah penduduk. Dengan melimpahnya air, tanaman dan tumbuh-tumbuhan akan sangat mudah tumbuh dan berkembang. Ia menambahkan bahwa penduduk dan masyarakat Syam adalah orang-orang pilihan yang baik (الأبرار).

Fenomena Syam pada abad ke-7 sebagaimana yang digambarkan di atas, tampak sangat mengesankan bagi setiap orang yang mendengarkan. Sebuah negeri yang penuh dengan kedamaian, negeri para nabi dan rasul, negeri yang di dalamnya terdapat tempat suci, Baitul Maqdis, serta negeri yang tenteram dan damai.
Dahulu, Syam meliputi Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina. Dari sebelah kiri ia berbatasan langsung dengan laut tengah, sebelah kanan berbatasan dengan Irak, Saudi Arabia, di sebelah utara berbatasan dengan Turki dan di sebelah selatan berbatasan dengan Mesir dan Saudi Arabia. Sebelum kedatangan Islam, Syam adalah negeri para rasul. Tercatat Ibrahim, Nuh, Luth, Musa, Isa dan banyak lagi yang lainnya pernah singgah di sana, bahkan Habil pun kabarnya dikuburkan di sana, tepatnya di dekat Damaskus.

Baca Juga :  Kiai dan Ulama

Di samping menukil banyak sekali nash-nash Alquran, ‘Izzuddin juga banyak menukil hadis-hadis Nabi SAW, di antara yang ia nukil adalah hadis Nabi SAW terkait penduduk Syam yang akan selalu mendapatkan kemenangan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Umair bin Hani yang mendengarkan Mu’awiyyah berkhutbah di atas mimbar, sebagaimana berikut:

“لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ”

“Senantiasa ada sekelompok umatku yang berpegang teguh dengan perintah Allah, tidak akan ada kelompok manapun, baik yang merendahkan mereka maupun yang menentang mereka, yang akan membahayakan mereka, sampai datang hari kiamat dan mereka akan memenangkan seluruh umat manusia..”

Setelah mendengarkan khutbah tersebut, seseorang bernama Malik bin Yakhamir berkata kepada Mu’awiyyah kalau dia mendengar Mu’adz menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok tersebut adalah penduduk Syam, dan Mu’awiyyah menyetujuinya. Itu berarti dalam riwayat ini yang dimaksud dengan Thaifah adalah Penduduk Syam.

Hadis ini diriwayatkan melalui banyak jalur. Di antaranya diriwayatkan melalui jalur Mu’awiyyah bin Abi Shafyan, melalui Jalur Jabir bin ‘Abdullah, melalui jalur ‘Imran bin Hushain, dan melalui jalur Sa’d bin Abi Waqqash. Masing-masing meriwayatkan hadis tersebut dengan redaksi yang berbeda-beda namun dengan makna yang sama. Hadis ini dapat dirujuk di dalam berbagai kitab, di antaranya dalam sunan al-Tirmidzi, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lain. Saking banyaknya jalur periwayatan, hadis ini dianggap mutawatir oleh Ibnu Taimiyyah, al-Suyuthi, al-Kattani dan beberapa ulama lainnya.

Terdapat kritik yang dilontarkan oleh Syaikh al-Idlibi terkait tambahan riwayat di atas, dari hasil penelitiannya, tambahan keterangan bahwa yang dimaksud dengan kelompok (thaifah) adalah penduduk Syam merupakan keterangan yang lemah. Hal ini ia ungkapkan dalam karyanya “Ahadits Fadhail al-Syam: Dirasah Naqdiyyah”. Kesimpulan ini ia dapatkan setelah melakukan kritik terhadap sanad hadis tambahan tersebut di atas, dan di berbagai riwayat lain. Meski demikian, patut diuji apakah benar dari sudut pandang isi hadis (matan) bahwa Syam adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas atau tidak.

Baca Juga :  Benarkah Islam Akan Hancur Tanpa Negara Islam?

Hadis mutawatir sendiri dalam studi hadis adalah hadis yang diriwayatkan minimal oleh 10 orang, dan memiliki konsekuensi wajib untuk diamalkan ataupun diyakini. Namun pemahaman seperti apakah yang relevan? dan apakah itu berlaku sepanjang zaman sebagaimana dalam redaksi di atas “la tazalu (senantiasa)” yang menunjukkan keberlangsungan dan yang tidak memiliki batas dengan redaksi “hatta ya’tiya Amrullah (sampai hari kiamat)” dalam riwayat Sa’d bin Abi Waqqash secara gamblang disebutkan “hatta taquma al-sa’ah (sampai datang hari kiamat)?

Syam saat ini berbeda dengan yang digambarkan dalam hadis di atas, beberapa data menunjukkan suatu hal yang berbeda. Syam yang dahulu meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, sekarang tidak lagi menjadi satu kesatuan. Masing-masing telah menjadi negara yang berdaulat.

Berdasarkan situs warsintheworld.com benua-benua di seluruh dunia terindikasi tengah mengalami konflik hingga saat ini (on going conflict). Dari 6 benua, yang paling banyak tertimpa konflik adalah Timur Tengah, dengan 7 negara yang terlibat konflik dan 254 kasus yang terjadi. Konflik ini melibatkan militan garis keras, teroris, separatis dan kelompok-kelompok garis keras lainnya. Disusul dengan benua Afrika dengan 29 negara dan 241 kasus. Sedangkan benua yang paling sedikit mengalami konflik adalah benua Amerika dengan 6 negara terindikasi konflik dan 21 kasus yang terjadi.

Berbeda dengan beberapa Negara lainnya, benua Amerika juga tengah dihadapkan dengan kartel narkoba. Konflik yang paling banyak mendera Timur Tengah justru terjadi di Suriah dengan 120 titik konflik, yang secara umum merupakan perang saudara (civil war), dilanjutkan dengan Irak dengan 51 titik konflik, Paletina dengan 46 titik konflik, yang sampai saat ini berurusan dengan Israel, Lebanon 12 titik konflik, dan Yaman dengan 18 titik konflik. Dari beberapa negara bagian Syam terdahulu, hanya Yordania yang tidak terindikasi mengalami konflik.

Berdasarkan beberapa fakta mutakhir di atas, penting untuk memahami hadis di atas secara lebih akurat. Syekh Muhammad Shalih Munajjid dalam“Thuba al-Islam”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hadis nabi, “لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم (tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka maupun orang yang melawan mereka)” menunjukkan bahwa tidak akan ada yang membahayakan agama mereka, mereka akan senantiasa berpegang teguh dengan keimanan mereka dan mereka akan terus percaya atau beriman dengan janji-janji Allah. Adapun bahaya dan kesengsaraan yang mereka terima baik itu nyawa maupun harta, merupakan suatu hal yang lumrah yang juga dialami oleh manusia seluruhnya.

Baca Juga :  Hukum Mengikuti Pemilihan Umum

Fakta sejarah menunjukkan bahwa banyak ulama yang lahir dari Negeri Syam, sebut saja ‘Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i (w. 157 H), Abu Ishaq al-Fazari (w. 186 H), Abu Zur’ah al-Dimasyqi (w. 280 H), Abu al-Qasim al-Thabrani (w. 360 H), Ibn ‘Asakir (w. 571 H), Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 260 H), Ibn Shalah (w. 643 H), Abu al-Hajjaj al-Mizzi (w. 742 H), al-Dzhabi (w. 748 H), dan banyak lagi yang lainnya. Setidaknya ini mengindikasikan bahwa benar, di Negeri Syam banyak sekali orang-orang yang senantiasa teguh di atas perintah Allah, teguh menjalankan syariatnya, yang berilmu dan berwawasan luas.

Dalam keterangan lain Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-Thaifah dalam hadis di atas adalah ahli hadis. Pendapat ini sebagaimana yang diutarakan oleh Ibn Mubarak, Yazid bin Harun, Ahmad bin Hanbal, ‘Ali bin al-Madini, al-Bukhari dan banyak lagi yang lainnya. Pemaknaan semacam ini kiranya lebih pas jika dibandingkan dengan yang dimaksud dengan al-Thaifah dalam hadis di atas adalah kelompok mujahidin yang akan selalu memenangkan kontestasi mereka melawan rival mereka, dan tentu saja hal ini bertolak belakang dengan banyak fenomena, terutama terkait civil war (perang saudara) yang akhir-akhir ini terjadi. Di akhir kutipannya, Ibn Rajab menyebutkan bahwa orang-orang Syam yang berilmu yang memahmi sunah nabi, mereka adalah kelompok yang tidak akan ada siapapun yang dapat membahayakan keimanan mereka.

Dengan demikian, masih tepatkah jika kita memaknai bahwa Negeri Syam adalah negeri yang akan selalu dimenangkan oleh Allah, yang tidak akan pernah dikalahkan oleh siapapun? Bukankah saat ini lebih baik jika dikatakan bahwa Syam adalah negeri orang-orang saleh, negeri para ulama, negeri orang-orang yang senantiasa beriman di tengah konflik yang tak kunjung berhenti? Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here