Kritik Hadis Keutamaan Puasa Rajab

0
2733

BincangSyariah.Com- Dua hari belakangan, tersebar BC-an tentang anjuran untuk puasa sunah di Bulan Rajab. Agar lebih menguatkan dan memotifasi pembacanya, BC-an itupun disertai dengan riwayat yang konon katanya adalah hadis Nabi. Tidak itu saja, bahkan bagi yang menyebarkan BC-an itu -disebutkan- akan mendapatkan pahala yang sangat besar dan terbebas dari azab api neraka. Benarkah riwayat-riwayat itu.? Simak ulasannya berikut ini:

Sejatinya niat untuk mengajak orang agar beribadah serta berbuat kebaikan adalah sebuah amalan yang sangat mulia, termasuk dengan membuat dan menyebarkan BC-an terkait keutamaan puasa sunat Rajab tersebut.

Namun perlu digarisbawahi bahwa, niat baik saja tidak cukup kalau tidak disertai dengan cara yang baik pula. Dibutuhkan ilmu dan pengetahuan yang mumpuni sebelum berdakwah ataupun mengajak orang lain untuk kebaikan.

Ditulis oleh Imam al-Syaukani, dalam Nailul Authar bahwa Ibnu al-Subki meriwayatkan dari Muhammad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tidak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.

Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab sebagaimana Abu Bakar al-Turthusi mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.

Namun demikian, berpatokan kepada pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa didalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadis-hadis Nabi yang menganjurkan berpuasa pada bulan-bulan haram (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi dalil atau landasan. Di samping itu, karena juga tidak ada dalil kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah Saw bersabda, “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia).”(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Baca Juga :  Amalan yang Dapat Mengantarkanmu ke Surga

Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah), Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tidak melihat engkau melakukan puasa (sunah) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.” Rasul menjawab, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.”

Menurut al-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam pembahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi bahwa Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan-bulan haram juga diriwayatkan dalam Hadis Sahih Sunan Abi Daud. Bahkan berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda, “puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-Muharram (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab).”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din pun menyatakan bahwa kesunahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping Zulhijjah, Muharram dan Sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram.

Selain itu disebutkan pula dalam Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan-bulan haram yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah, Rajab dan Muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan Muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Imam Al-Ruyani, bulan puasa yang utama setelah Ramadan adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada bulan Rajab, dalam Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim Imam Al-Nawawi menyatakan, “Memang benar tidak satupun ditemukan hadis sahih mengenai (fadhilah) puasa Rajab, namun telah jelas dan sahih riwayat bahwa Rasulullah Saw menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram. Maka selama tidak ada pelarangan khusus untuk berpuasa dan beribadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan tersebut.” Allahu A’lam.

(baca juga: “Allahumma Bariklana Fi Rajab Wa Sya’bana Wa Ballighna Ramadhana”, Hadis Atau Bukan?)

Baca Juga :  Berada di Akhir Bulan Jumadil Akhir, Ini Enam Keutamaan Bulan Rajab

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here