BincangSyariah.Com – Ali Mustafa memang dikenal sebagai orang yang tegas dalam urusan ibadah. Menurutnya beribadah haruslah sesuai dengan dalil syar’i, Alquran, Hadis, Ijma dan Qiyas. Karena jika kita tidak beribadah dengan dalil syar’i otomatis kita tidak melaksanakan syariat Allah Swt. dan minimal ibadah kita tertolak.

Salah satu ketegasannya adalah dalam masalah penentuan arah kiblat dalam bukunya al-Qiblah alā Ḍaū al-Kitāb wa al-Sunnah. Buku ini merupakan kritik Ali Mustafa terhadap fatwa MUI No. 5/2010 yang menetapkan bahwa kiblat kaum muslimin di Indonesia adalah arah barat laut dengan kemiringan derajat yang berbeda sesuai letak masing-masing wilayah di Indonesia karena letak geografis Indonesia berada di sebelah tenggara Ka’bah atau berdasarkan Goggle Map.
Ada dua buah kritik yang disampaikan Ali Mustafa terhadap Fatwa MUI tersebut.

Pertama, menurut Ali Mustafa yang pada saat itu masih menjadi anggota Fatwa MUI, fatwa tersebut menyalahi Pedoman Penetapan Fatwa yang dibuat dan ditetapkan MUI sendiri.

Ketentuan tersebut adalah bahwa Fatwa MUI harus berlandaskan pada dalil syar’i dari Alquran, Hadis, Ijma, Qiyas dan dalil-dalil lain yang mu’tabar. Sedangkan Fatwa MUI tersebut tidak mengacu pada dalil syar’i manapun karena landasannya adalah Goggle Map.

Kedua, Fatwa tersebut juga menyalahi pedoman MUI lainnya. Yaitu jika dalam sebuah masalah yang akan difatwakan terdapat perbedaan pendapat, maka MUI harus memilih pendapat yang kuat (rājiḥ) dari pendapat – pendapat ulama yang ada untuk dijadikan Fatwa.

Tetapi kenyataannya Fatwa MUI tersebut malah menggunakan pendapat yang marjūḥ yakni mengharuskan penduduk Indonesia menghadap arah ke bangunan Ka’bah. Menurut Ali Mustafa kiblat kaum muslimin Indonesia adalah arah ka’bah, yaitu arah Barat mana saja, karena Indonesia berada di sebelah timur Ka’bah.
Hal ini berdasarkan mafhum muwāfaqah (makna implisit yang sepadan dengan teks dalil) dari hadis

Baca Juga :  Siapakah Dalang Percobaan Pembunuhan Syekh Ali Jum’ah?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ قِبْلَةٌ.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Arah antara timur dan barat adalah kiblat” (HR. Altirmidzi). Atau qiyas (analogi) kepada penduduk Madinah dan sekitarnya yang berada di wilayah utara Ka’bah.

Ali Mustafa juga mengacu pada pendapat mayoritas ulama baik dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hanbali yang mengatakan bahwa bagi orang yang tidak menghadap dan tidak melihat bangunan ka’bah secara langsung maka ia harus menghadap arah kiblat. Dan ini adalah pendapat yang rājiḥ.

Faktapun berbicara bahwa para ulama sepakat atas sahnya orang yang tidak melihat ka’bah sholat berjamaah dengan shaf yang memanjang dan keluar garis lurus ke bangunan ka’bah. Oleh karena itu, Ali Mustafa menyampaikan kepada kaum muslimin Indonesia agar tidak perlu bimbang tentang sahnya shalat mereka di masjid-masjid yang ada sekarang di Indonesia.

Karenanya, tidak perlu repot-repot untuk merobohkan masjid-masjid yang kiblatnya tidak mengenai bangunan Ka’bah dan kemudian membangunnya kembali dengan kiblat menghadap ke bangunan ka’bah.

Kaum muslimin Indonesia juga tidak perlu mengukur ketepatan kiblat dengan alat ukur seperti sinar matahari ketika tepat berada di atas ka’bah, karena semua ini tidak wajib dan tidak diperintahkan dalam agama juga tidak bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here