Kritik al-Ghazali terhadap Syiah Ismailiyyah

0
584

BincangSyariah.Com – Al-Ghazali, seperti yang jamak diketahui, menggunakan logika Aristoteles bukan untuk mencari kebenaran tapi lebih kepada usaha untuk membenarkan mazhab yang dianutnya.

Al-Ghazali menggunakan logika Aristoteles untuk membela mazhab Asy’ariyah dan madzhab as-Syafi’i dan menyanggah argumen-argumen lawan secara rasional.

Terlihat di sini bahwa logika di tangan al-Ghazali tidak digunakan sebagai metode untuk mencari pengetahuan secara objektif dan rasional. Logika hanya alat untuk memperkuat argumen keyakinan yang dibelanya dan menghantam keyakinan aliran lain.

Hal demikian secara amat jelas tertulis dalam berbagai karya-karyanya. Misalnya dalam Tahafut al-Falasifah, Maqasid al-Falasifah, Mi’yar al-Ilm dan al-Mustasfa, al-Ghazali memasukkan premis-premis silogisme seperti al-hissiyat (kenyataan yang tercerap secara inderawi), at-tajribiyyat (kenyataan menurut pengalaman), al-mutawatirat (informasi yang beredar luas) dan kasus-kasus yang dihasilkan dari analogi sebelumnya. Semua jenis-jenis premis ini sebenarnya lebih mendukung Asy’ariyyah.

Berdasarkan hal ini, kepastian pengetahuan yang ingin dikemukakan al-Ghazali dari penggunaan logika bukan kepastian yang dimaksud oleh Aristoteles yang bersandar kepada premis-premis yang benar dan pasti. al-Ghazali hanya sekedar mencari kepastian analogi silogisme semata, yakni penalaran induktif.

Dengan kata-kata lain, logika bagi al-Ghazali dapat dikatakan sebagai ‘dialektika’ dalam terminologi Aristoteles, yakni, penalaran induktif baik secara positif maupun negatif dalam satu pokok permasalahan dengan menghindari hal-hal yang kontradiktif serta membela hasil yang positif atau negatif.

Inilah yang menjadi minat al-Ghazali dari penggunaan logika. al-Ghazali bahkan tidak memiliki minat untuk mengembangkan logika Aristoteles ke arah pengembangan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan al-Farabi. al-Ghazali menggunakan logika hanya untuk membela pandangan tertentu dan menghantam basis pandangan aliran lain.

Inilah yang diperjelas al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut al-Falasifah:

أنا لا أدخل في الاعتراض عليهم إلا دخول مطالب منكر، لا دخول مدع مثبت، فأبطل عليهم ما اعتقدوه مقطوعا، بإلزامات مختلفة. فألزمهم تارة مذهب المعتزلة وأخرى مذهب الكرامية وطورا مذهب الواقفية، ولا أتنهض ذابا عن مذهب مخصوص، بل أجعل جميع الفرق إلبا واحدا عليهم، فإن سائر الفرق ربما خالفونا في التفاصيل وهؤلاء يتعرضون لأصول الدين، فلنتظاهر عليهم فعند الشدائد تذهب الأحقاد.

Baca Juga :  Inilah Pakaian Terburuk Manusia

 “Aku  menyerang pandangan para filosof berangkat dari posisiku sebagai orang yang menolak dan menegasi dan bukan sebagai orang yang menerima dan mengafirmasi pandangan mereka. Karena itu, aku menolak keyakinan mereka secara pasti dengan berbagai macam premis dan argumen.

Terkadang aku menyerang mereka berangkat dari perspektif Muktazilah. Terkadang dari perspektif Karamiyyah atau bahkan dari perspektif aliran Waqifiyyah. Perlu ditegaskan bahwa aku mengkritik keras pandangan mereka bukan berangkat dari satu perspektif aliran tertentu.”

“Aku menyerang mereka berangkat dari berbagai perspektif aliran-aliran dalam Islam. Semua aliran Islam bisa jadi berbeda pandangan dengan kami dalam perkara-perkara yang rinci dan bukan dalam perkara yang dasar. Lain halnya dengan pandangan filosof. Mereka berbeda dengan kita semua.

Pandangan mereka sangat berlawanan dengan prinsip dasar keyakinan kita. Karena itu, kami buktikan kekeliruan dan kerancuan pemikiran mereka. Dalam hal ini, ketika ada persoalan bersama (maksudnya musuh bersama, yakni para filosof), tentunya kedengkian antar sekte Islam akan hilang.”

Kutipan ini paling tidak sangat problematis dan menimbulkan tanda tanya:

Mengapa menyerang pandangan para filosof itu begitu perlu bahkan wajib bagi al-Ghazali? Apa ‘persoalan bersama’ (syada’id) yang mendorong al-Ghazali mengkritik pandangan mereka? Apa maksud di balik usaha al-Ghazali menggunakan semua pandangan sekte-sekte Islam untuk menyerang pandangan para filosof?

Dalam kitab Tahafut al-Falasifah, akan kita temukan bahwa al-Ghazali menyerang Ibnu Sina dan al-Farabi dalam persoalan-persoalan yang bertentangan dengan keyakinan Asy’ariyyah.

Meski  terkadang dalam beberapa persoalan tertentu, al-Ghazali menggunakan argumen Mu’tazilah untuk menyerang Ibnu Sina dan al-Farabi. Namun menariknya dalam Tahafut ini al-Ghazali tidak menggunakan argumen dari aliran Syiah; Syiah Ismailiyyah dan Syiah Isna Asyariyyah untuk menghantam pandangan kedua filosof tersebut.

Baca Juga :  Al-Ghazali, Neo-Platonisme dan Hierarki Wujud

Padahal, kedua aliran Syiah ini paling tidak sama-sama menolak beberapa persoalan pokok dalam akidah, yakni menolak argumen kekekalan alam.

Berangkat dari sini, pertanyaan yang muncul ialah apa maksud di balik usaha al-Ghazali untuk memakai argumen sekte-sekte Islam seperti Muktazilah, Karamiyyah, Waqifiyah dan lain-lain dan sebaliknya apa maksud di balik usaha al-Ghazali tidak menggunakan argumen-argumen Syiah untuk menyerang Ibnu Sina dan al-Farabi?

Kenyataan ini tentu menunjukkan bahwa al-Ghazali memosisikan Syiah Ismailiyyah sama dengan al-Farabi dan Ibnu Sina, yakni memosisikan mereka sama-sama sebagai musuh.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan: bukankah kenyataan demikian dengan sendirinya mempertegas bahwa kitab Tahafut al-Falasifah yang berarti ‘Kerancuan Para Filosof’ sebenarnya memang ditulis dan dirancang al-Ghazali untuk menjelaskan Fada’ih al-Bathiniyyah ‘Keburukan-Keburukan Aliran Kebatinan’?

Secara lebih tegasnya, kritik al-Ghazali terhadap para filosof memang bukan ditujukan untuk menghancurkan bangunan pemikiran filsafat itu sendiri secara umum tapi lebih sebagai kritik ideologis yang bertujuan untuk menghancurkan bangunan pemikiran aliran kebatinan Syiah Isma’iliyyah.

Tentunya kritik al-Ghazali ini lebih bernuansa politis daripada akademis. Kesimpulan ini akan kita pertegas dalam tulisan berikutnya tentang Imam al-Ghazali. Insya Allah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here