Kriteria Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

9
53398

BincangSyariah.Com – Ketika terucap kata cerdas, mungkin asumsi banyak orang adalah mereka yang memiliki IQ tinggi, bijak mengambil keputusan, dan mendapatkan penghargaan internasional. Memang tak ada yang salah dengan mereka yang memandang cerdas dengan kacamata seperti itu, namun alangkah bijaknya jika kita mengartikan cerdas tidak hanya urusan dunia, namun juga urusan akhirat. Tersurat dalam Q.S. An Nisa ayat 78:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

Lantas apa hubungannya orang yang cerdas dengan ayat kematian tersebut? Rupanya cerdas menurut Rasulullah adalah mereka tidak hanya mengingat dunia, melainkan juga harus tentang kematian, yang begitu disebabkan mereka mengerti bahwa banyak yang harus dipersiapkan untuk kematian. Berkiblat pada hadis Nabi yang dikisahkan dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاس

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.”

Orang cerdas memikirkan dan mempersiapkan kematian seakan-akan ia meninggal pada esok hari. Karena itu mereka bersungguh-sungguh melakukan kebaikan dan ketakwaan. Ketika kematian disebutkan, mereka terdiam seakan-akan mereka sedang menghadapinya, mereka mengeluhkan betapa kurangnya persiapan untuk berjumpa dengan kematian.

Dengan begitu, orang cerdas yang macam ini akan terus berada di jalan-Nya. Sekali saja ia melanggar aturan Allah, ia akan teringat kembali akan bayang-bayang kematian yang siap menjemputnya. Sebab itulah ia tidak terlalu sering berada dalam puncak kebahagiaan, sebab yang seting diingatnya adalah kematian. Hal tersebut senada dengan hadis Nabi yang berbunyi:

Baca Juga :  Ini Empat Keutamaan Tahlil, yang Ketiga Buat Masuk Surga dari Pintu Mana Saja

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِى الْمَوْتَ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian”

9 KOMENTAR

  1. Assalaamu’alaikum wr wb.
    Saya pribadi Agustin Natamihardja tidak sependapat dengan pandangan Ibnu Arabi, bahwa Fir’aun sebenarnya orang beriman. Sebelum Fir’aun mati ditenggelamkan di laut oleh Alloh SWT, sebelumnya sudah diingatkan oleh Nabi Musa as, agar dia sadar atas kekafiran & kesombongan kepada Alloh SWT. Bahkan dia mengaku-ngaku sebagai tuhan dan bisa mematikan orang dan menghidupkan orang. Jelas Fir’aun menolak agama ajaran dari Alloh SWT yang dianjurkan olah Nabi Musa as, yang khusus diperintah Alloh SWT untuk menyadarkan Fir’aun. Alloh SWT sendiri sudah menjelaskan di dalam QS. Albaqarah (2) ayat 256. ” Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam”. Berarti Fir’aun tetap memilih sebagai seorang KAFIRUN.
    Dengan pejelasan di atas, saya berkeyakinan, Fir’aun tidak mau beriman kepada Alloh SWT, dan dia yakin adalah seorang KAFIRUN.

  2. Ya betul pendapat bhw Fir’aun mati dlm kekafirannya Krn kesurhakaannya kpd Allah. Tdk berguna kesadarannya pd saat kematiannya.

  3. Orang cerdas itu
    Orang yang bisa membuat karya
    Contoh nya
    Orang orang yang bisa mencitakan iptek
    Seperti bj habibie
    Dalam agama
    Orang cerdas yang visa menciptakan kitab
    Seperti qur’an
    Qur’an hasil dari karya muhammad

  4. Al Qur’an adalah wahyu Allah SWT yg diturunkan kpd Nabi Muhammad SAW utk disampaikan kpd manusia agr digunakan sbg pedoman hidup

  5. Al Qur’an …. jangan katakan karya dari Nabi Muhammad saw …. tapi katanlah bahwa Al Qur’an firma Allah / wahyu Allah …. Adapun nabi Muhammad saw sebagaimana syahadat kita ….adalah Rosulullah ….. Utusan Allah ….Pesuruh Allah ….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here