Apakah Kotoran Cicak Najis Menurut Ulama Fikih? Ini Penjelasannya

3
9109

BincangSyariah – Cicak merupakan hewan reptil dari suku Gekkonidaedi, hewan ini bisa merayap di permukaan vertikal karena memiliki bulu-bulu halus yang terdapat di kakinya. Bulu-bulu halus tersebut berfungsi sebagai lem yang mampu berjalan menahan tekanan gravitasi yang membuat cicak tidak terjatuh.

Hewan ini sebagaimana kita ketahui banyak hidup dan berkembang biak  dibawah atap rumah kita dan berkeliaran mendekati pusat cahaya untuk mencari makan, sehingga tak jarang kita sering menemukannya membuang kotoran sembarangan dari langit-langit rumah yang bisa saja terjatuh ke lantai, makanan bahkan badan kita sendiri.

Lantas, bagaimana hukum kotorannya, apakah ia tergolong najis mengacu pada bahwa kotorannya sangat menjijikkan atau malah sebaliknya berdasarkan hewan ini termasuk dari hewan yang tak memiliki darah serta hidup bersama manusia. (Hukum Membunuh Cicak pada Malam Jumat)

Lebih jelasnya, perhatikan dengan seksama komentar para Ulama’ tentang alasan mengapa kotoran cicak tidak dikatakan najis sebagai berikut:

Pertama, Cicak Tergolong Hewan yang Tak berdarah

Imam Nawawi -ulama Mazhab Syafii- dalam bukunya al-Majmu’  mengatakan:

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir.” (al-Majmu’, 1:129)

Hal yang sama juga disampaikan ar-Ramli ulama yang juga bermazhab Syafi’i dalam an-Nihayah:

ويستثنى من النجس ميته لا دم لها سائل عن موضع جرحها، إما بأن لا يكون لها دم أصلاً، أو لها دم لا يجري

“Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya.: (Nihayah al-Muhtaj, 1:237)

Baca Juga :  Benarkah Ilmu Dunia Termasuk Ilmu yang Tidak Bermanfaat?

Selanjutnya, Imam Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali– mengatakan lebih detail dalam bukunya al-Mughni:

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

“Binatang yang tidak memiliki darah mengalir  semua bagian tubuhnya dan yang keluar dari tubuhnya (kotorannya) adalah suci.” (al-Mughni, 3:252).

Kedua, Kotoran Cicak tergolong yang Ma’fuat (Najis yang Dimaafkan)

Kotoran cicak itu dihukumi ma’fu (kotoran yang dimaafkan), sehingga tidak perlu disucikan. cukup dibersihkan saja. Sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Hasyiyah Qolyubi juz 1 halaman 209:

(ويعفى) أي في الصّلاة فقط، أو فيها وغيرها ما مرّ على عامر. قوله: (عن قليل دم البراغيث) ومثله فضلات ما لا نفس له سائلة. قال شيخ شيخنا عميرة ومثله بول الخفّاش، كما في شرح شيخنا ورجّح العلّامة ابن قاسم العفو عن كثيره أيضا. قال وذرقه كبوله، وقال تبعا لابن حجر، وكذا سائر الطّيور، ويعفى عن ذرقها وبولها، ولو في غير الصّلاة على نحو بدن أو ثوب قليلا أو كثيرا رطبا أو جافّا ليلا أو نهارا لمشقّة الاحتراز عنها فراجعه مع ما ذكروه في ذرق الطّيور في المساجد

“Imam Ibnu Qasim berpendapat bahwa kotoran kelelawar sama halnya seperti kencingnya, pendapat beliau ini mengikuti Imam Ibnu Hajar, dan hal ini sama dengan jenis burung yang lainya. Kotoran dan air kencingnya hukumnya dima’fu meskipun itu terjadi dalam selain shalat seperti terkena pada badan atau baju, baik najisnya sedikit atau banyak, basah ataupun kering, dan malam atau siang dikarenakan sulit untuk menjaganya, dan apa yang telah tertuturkan tadi itu hukumnya sama (dima’fu) dengan kotoran burung yang berada di dalam masjid.”

Bisa disimpulkan, bahwa ulama’ tidak satu pendapat dalam masalah ini, hanya saja mayoritas ulama’ mengatakan bahwa kotoran cicak sama dengan kotoran-kotoraan hewan-hewan lainnya yang tak berdarah atau berdarah tapi tidak dapat mengalir yang secara qaidah dinyatakan bahwa segala hewan yang tak berdarah atau berdarah tapi tidak mengalir semuanya adalah suci termasuk kotorannya.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Kondisi Sosial Jazirah Arab dalam Hadis

Selanjutnya, mengigat cicak bagian  dari hewan yang sulit dihindari yang selalu saja berkeliaran hidup bersama manusia yang tentunya kotorannya dapat dijumpai disegala titik maka ia tergolong dari hal-hal yang ma’fuat (sekalipun najis maka diampuni). Wallahu A’lam

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Di antara syarat sah barang yang diperjual-belikan adalah barang tersebut harus suci. Jika barang tersebut najis, maka tidak sah diperjual-belikan. Misalnya, menjual khamar, menjual bangkai, dan lainnya. Namun bagaimana jika barang tersebut hanya terkena najis, apakah boleh menjualbelikan barang terkena najis tersebut? (Apakah Kotoran Cicak Najis? Ini Pendapat Ulama Fikih) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here