Konsisten Beribadah Saat Susah dan Senang

0
1142

BincangSyariah.Com – Pernahkah melihat seseorang yang jika mengalami kesulitan, ia memohon pada Allah dengan cara terbaiknya? Namun jika sudah ia merasakan sedikit rahmat Allah ia mulai melupakan Allah karena terlalu sibuk dengan urusan baru? Gambaran seperti itulah yang disebut oleh Allah sebagai manusia yang tidak konsisten dalam beribadah kepada-Nya. Tipikal hamba yang seperti inilah yang dimaksud dalam QS Yunus ayat 12:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُو

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Mufasir kenamaan Indonesia, Quraish Shihab, berpendapat ayat ini merupakan uraian tentang sifat-sifat manusia yaitu, apabila mengalami bencana ia tidak bersabar dan ketika mendapat nikmat ia tidak bersyukur. Kata marra ‘berlalumemberi gambaran yang sangat jelas tentang sikap durhaka manusia, Ketika kesulitan menimpanya ia berdoa dengan serius lagi menghadapkan diri kepada Allah Swt. memohon bantuan-Nya, tetapi ketika kesulitannya diatasi oleh-Nya, ia lupa.

Dikutip dari Fakhr Al Din Al Razi dalam kitab tafsirnya Mafatih Al Gayb, maksud ayat ini adalah manusia memiliki sedikit sekali kesabaran ketika ditimpa bencana. Manusia juga sedikit sekali bersyukur pada saat-saat seperti ini. Apabila ditimpa keburukan ia datang kepada Allah seraya tunduk patuh dan berdoa, baik dengan berdiri ataupun duduk.

Dalam doanya ia bersungguh-sungguh agar Allah menghilangkan cobaan itu dan segera menukarnya dengan nikmat. Akan tetapi, apabila Allah menghilangkan bahaya itu dengan kenikmatan, mereka berpaling dari syukur. Meski begitu, menurut Al Razi, tabiat paling rendah seseorang adalah jusru ketika ia tidak berdoa kepada Allah untuk mengangkat kesusahannya

Lebih lanjut Al Razi berpendapat bahwa berdoa hanya di kala susah merupakan akhlak yang tercela. Seyogianya, manusia yang berakal itu bersabar ketika ditimpa kesusahan dan bersyukur ketika mendapat nikmat. Ia tetap memperbanyak doa dan patuh dalam waktu lapang, bukan hanya kala kesempitan datang. Sebab, hal demikian dapat mempercepat dikabulkannya doa pada waktu susah, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

من سره أن يستجيب له عند الكرب والشدائد فليكثر الدعاء عند الرخاء

Barang siapa yang senang (ingin) Allah kabulkan doanya di masa sulit dan susah, hendaklah ia perbanyak doa di waktu lapang(HR. Tirmidzi)

Tabiat manusia yang seperti di atas hendaknya bisa kita hindari dan seyogyanya kita bisa membentengi diri dengan iman yang kuat. Semisal kesulitan memang dikirim Allah untuk menghiasai hari-hari kita, maka cukup kita lewat dengan tabah dan sabar seraya memohon kekuatan kepada Allah. Namun ketika telah diberikan kebaikan kenikmatan oleh Allah, kita tetap konsisten dengan segala ibadah dan bersyukur atas segala rahmat-Nya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here