Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam Alquran

0
1015

BincangSyariah.Com – Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dicetuskan oleh internasional pada konferensi pertama PBB dalam bidang Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1972. Hal ini dikarenakan adanya ketimpangan sosial dan lingkungan yang terjadi di dalam praktik pembangunan ekonomi (industrialisasi) secara global. Ketidakacuhan terhadap kondisi sosial, lingkungan, ketersediaan sumber daya alam di masa yang akan datang, menjadi isu krusial sehingga harus dirumuskan secara kolektif (bersama) untuk dapat menjadi acuan yang perlu ditaati dalam konsep pembangunan ekonomi suatu negara.

Indonesia sendiri mulai menerapkan pembangunan berkelanjutan melalui diterapkannya UU No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang kemudian hari produknya sekarang dikenal sebagai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang berprinsip “ memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan” (Laporan Brundtland, PBB, 1987).

Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sendiri menitikberatkan pada 3 faktor yang harus diperhatikan; ekonomi, sosial dan lingkungan. Keseimbangan dalam ketiga faktor tersebut diharapkan akan menjadi solusi dalam mewujudkan pembangunan suatu negara serta pemberdayaan lingkungan dan sosial di masyarakat.

Di dalam islam, konsep pembangunan berkelanjutan itu sendiri sebenarnya bukanlah barang yang baru. Jauh sebelum sadarnya masyarakat global terhadap isu sosial dan lingkungan dalam industrialisasi serta diadakannya konferensi pertama PBB dalam bidang Lingkungan Hidup, Alquran pada 1400 tahun yang lalu telah menyerukan kepada umat manusia untuk memanfaatkan kekayaan alam dan juga seruan untuk tidak berbuat kerusakan pada surah Al-Baqarah ayat 60,

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Baca Juga :  Bolehkah Berkurban dengan Uang Pinjaman?

“ Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman : “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Dari ayat diatas, kita dapat mengambil tiga poin penting:

Pertama, ketika Allah menyuruh Musa untuk memukul batu dengan tongkatnya dan kemudian memancarkan air daripadanya, merupakan petunjuk bahwasanya kekayaan alam yang ada di bumi merupakan pemberian dari Allah Swt. yang diturunkan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Air merupakan simbol dari kekayaan alam yang mana merupakan komponen terpenting dalam siklus kehidupan.

Kedua, ketika Allah kemudian memancarkan dua belas mata air, yang dimana disebutkan dalam Tafsir Jalalayn, merupakan jumlah dari dua belas suku Bani Israil. Allah telah membagikan rezeki kepada suku-suku tersebut secara adil di antara mereka agar tidak berseteru antara satu dan lainnya. Hal ini merupakan simbolis dari faktor sosial yang mana merupakan salah satu faktor dari semangat pembangunan keberlanjutan dalam menciptakan keseimbangan sosial sehingga tidak terjadinya ketimpangan. Kekayaan alam seharusnya dimanfaatkan untuk seluruh umat manusia, tidak hanya oleh segelintir orang, yang mana kemudian juga akan menciptakan mudarat bagi umat manusia lainnya.

Ketiga, merupakan penegasan Allah Swt. kepada manusia setelah diberikan karunia kekayaan alam, kemudian untuk menjaga lingkungan sekitar dan tidak membuat kerusakan di muka bumi.

Ekonomi, Sosial dan Lingkungan

Secara tersirat, Allah Swt. secara simbolik telah menjelaskan tentang pentingnya umat manusia untuk memperhatikan faktor ekonomi, sosial dan lingkungan. Dari surah Al-Baqarah ayat 60 diatas, Allah Swt. menjelaskan faktor ekonomi (konsep pemanfaatan) dengan metafora terpancarnya air dari bumi. Kemudian, ada juga faktor sosial dengan terbaginya dua belas mata air sehingga terciptanya keadilan di antara umat. Setelah itu, faktor lingkungan dengan seruan untuk menjaga alam dan tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan. Ketiga faktor ini senada dengan semangat konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam membangun ekonomi.

Baca Juga :  Kementerian Agama Merevisi Penulisan 186 Kata dalam Alquran

Konsep pembangunan berkelanjutan sebenarnya tidak hanya sebagai teori di dalam manajemen saja. Lebih dari, merupakan seruan dari Allah Swt. kepada umat manusia khususnya kepada umat islam. Manusia, sosial,  dan lingkungan merupakan komponen entitas yang tidak dapat terpisahkan. Merupakan suatu keharusan bagi kita untuk menjaga keseimbangan diantaranya.

Namun, sebagai umat islam, kita meyakini bahwasanya pembangunan berkelanjutan atau disebut juga dengan sustainable development tidak hanya berupa konsep namun merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mentaatinya karena telah diperintahkan oleh Allah Swt. di dalam Alquran. Kita percaya hal ini merupakan menjadi tugas kita sebagai khalifatullah yang mana akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here