Konsep Pelestarian Sumber Daya Hewani dalam Islam

0
14

BincangSyariah.Com – Hutan dan segala ekosistem yang ada di dalamnya adalah bagian dari komponen penentu kestabilan alam. Islam mengatur konsep pelestarian sumber daya hewani. Hewan sebagai bagian dari alam memiliki prinsip-prinsip pengaturannya sendiri.

Keaneka-ragaman hayati adalah kekayaan luar biasa yang mampu memberikan inspirasi bagi pecinta alam. Hal ini tentu saja bukan sebagai sarana hiburan, tapi berguna untuk memahami makna kekuasaan agung Sang Pencipta, Allah Swt.

Pohon-pohon yang ada di hutan menjadi tumpuan sekaligus penahan resapan air dalam tanah. Air pun tidak mudah terlepas dan meluncur menjadi bencana banjir yang menyengsarakan manusia. Kehadiran hewan-hewan juga melengkapi kekayaan hutan menjadi jauh lebih bermakna.

Suasana yang tercipta seolah mengatakan kepada manusia bahwa di dunia ini bukan hanya manusia saja yang menjadi mahkluk Allah Swt, tapi juga ada hewan dan tumbuhan yang senantiasa hidup dan tumbuh serasi dengan sunnahtullah yang telah digariskan.

Falahuddin Mahrus dalam buku Fiqh Lingkungan (2006) menuliskan bahwa Islam menempatkan ekosistem hutan sebagai wilayah bebas atau disebut sebagai al-mubahat dengan status bumi mati yakni al-mawat dalam hutan-hutan liar. Dalam Islam, ekosistem hutan memiliki status bumi pinggiran atau marafiq al-balad dalam hutan yang secara geografis berada di sekitar wilayah pemukiman.

Dua jenis hutan tersebut mempunyai nilai persamaan dalam prinsip-prinsip pengaturannya, di mana semuanya masih menjadi bidang garapan pemerintah. Pemerintah berhak memberi izin penebangan hutan selama tidak berdampak negatif pada lingkungan sekitar.

Islam sangat menganjurkan pelestarian sumber daya hewani. Mengapa demikian? Mahsrus menjelaskan, ada beberapa konsep pelestarian sumber daya hewani dalam Islam. Empat konsep tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, hewan berguna untuk kepentingan konsumsi. Hewan yang diperbolehkan konsumsi dalam Islam rata-rata termasuk hewan yang memiliki populasi cukup banyak, bukan termasuk hewan-hewan langka yang populasinya tinggal sedikit atau langka. (Baca: Ajarkan Menyayangi Binatang, Nabi Larang Sahabat Memisahkan Anak Burung dari Induknya)

Baca Juga :  Hukum Kentut di Tempat Umum

Kedua, syariat dalam Islam tidak membolehkan penyiksaan hewan. Ketiga, ajaran agama Islam menganjurkan untuk merawat hewan dengan cara memberikan kebebasan hidup atau memberikan kebutuhan hidup hewan, jika hewan tersebut merupakan miliknya.

Keempat, dalam aturan pembunuhan atau penyembelihan hewan, Islam hanya memprioritaskan hewan yang termasuk dalam jenis hewan berbahaya atau al-fawasiq al-khams serta hewan sejenisnya yaitu hewan-hewan yang menganggu atau menyerang manusia.

Aturan-aturan tersebut juga berkaitan dengan persoalan lingkungan yang berkaitan dengan sampah. Di lingkungan desa misalnya, penanganan sampah relatif mudah untuk ditangani, hanya saja kecerobohan dan budaya sembarang masyarakat yang menyebabkan persoalan tersebut menjadi serius dan berdampak sebagai masalah jangka panjang. Akhirnya, persoalan sampah tersebut berujung pada kesehatan masyarakat.

Selain itu, dalam buku Agama Ramah Lingkungan: Perspektif al-Qur’an (2001) karya Mujiyono Abdillah juga dijelaskan bahwa dalam konsep Islam, lingkungan hidup diperkenalkan oleh Al-Qur’an dengan beragam macam.

Salah satunya adalah al-bi’ah yang berarti menempati wilayah, ruang kehidupan dan lingkungan yakni lingkungan sebagai ruang kehidupan, khususnya bagi spesies manusia. Penggunaan konotasi bahwa lingkungan sebagai ruang kehidupan nampak dari ekologi yang lazim dipahami. Lingkungan hidup kerap dipahami sebagai segala sesuatu diluar suatu organisme.

Saat Al-Qur’an memperkenalkan lingkungan dengan ruang kehidupan melalui al-bi’ah, bisa dikatakan bahwa meski secara faktual Al-Qur’an hadir jauh sebelum teori ekologi modern muncul, tapi rumusan pengungkapan lingkungan dengan menggunakan istilah ruang kehidupan atau al-bi’ah ternyata memiliki pijakan yang mapan dengan teori ekologi lingkungan modern.

Konsep pelestarian sumber daya hewani dalam Islam telah diatur sedemikian rupa, tinggal bagaimana umat Islam sebagai manusia mengaturnya sedemikian rupa.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here